
Terlebih dahulu Cynthia menghapus air matanya, lalu mengangkat kepala untuk menatap Daffin. Melihat tatapan khawatir pria itu, membuat hati Cynthia terenyuh.
"Gak nyangka aja cowok sebaik lo bisa suka sama gue," jawab Cynthia pelan.
"Emangnya kamu cewek gimana sampai aku gak bisa suka sama kamu?" tanya Daffin menantang.
"Ya itu tadi kan udah di jelasin. Tapi selain itu, gue juga gak nyangka karena perasaan gue berbalas," gumam Cynthia malu-malu.
"Aku sudah tahu kok," kata Daffin sambil tersenyum lebar.
"Lo tahu gue suka sama lo? Dari siapa?" Perasaan Cynthia tidak pernah mengungkapkan nya, apalagi Ia kan cukup gengsian.
Tetapi Daffin tidak menjelaskan Ia tahu karena tidak sengaja menguping di rumah Cynthia waktu itu. Daffin ingin menjalani hubungannya dengan damai, tidak mau membuat kesalahpahaman. Selain itu, ingin melihat se setia apa Cynthia kepadanya.
"Ngeduga aja sih, lagian siapa juga yang gak tertarik sama cowok ganteng dan baik kaya aku?" celetuk Daffin percaya diri.
Cynthia lalu mencubit perut pria itu, "Jadi maksudnya cewek-cewek kampus juga suka sama lo?!"
"Hehe bukan gitu, kan perhatian aku selama ini cuman sama kamu aja. Aku bener, kan? Kamu suka juga kan sama aku?"
Dengan malu-malu Cynthia pun mengangguk, Ia langsung tertawa saat pria itu kembali memeluknya dan mengecupi puncak kepalanya. Benar kata Daffin, bagaimana juga Ia tidak jatuh cinta pada pria itu?
"Terus gimana sama Elisa kalau tahu kita sekarang.. Bersama?" Cynthia tampak ragu mengatakan hubungan mereka, kan belum jelas juga.
"Apa aku cerita aja sama dia yang sebenarnya?" tanya Daffin meminta pendapat.
"Terserah lo sih, tapi gimana kalau misal dia gak terima?" Cynthia hanya khawatir Elisa itu merepotkan Daffin, membuat pria itu pun jadi terbebani.
"Kayanya aku gak akan cerita dalam waktu dekat ini, aku mau Elisa aja yang langsung tanya," jawab Daffin.
Cynthia mengangguk setuju-setuju saja, Ia yakin Daffin bisa menyelesaikannya dengan baik. Memang sih Ia tidak mau kedua orang itu terlalu dekat, Cynthia harap Daffin bisa bersikap tegas.
__ADS_1
Keduanya pun kembali duduk di kursinya masing-masing melanjutkan makan. Suasana kini terlihat lebih rileks, senyuman di bibir keduanya pun terus terukir tanda sedang bahagia. Mereka benar-benar menikmati waktu.
"Ya ampun kok gerimis sih?" tanya Cynthia terkejut merasakan tetesan air dari langit.
Saat Daffin melirik ke danau, terlihat rintikan hujan di sana dan sepertinya benar akan turun hujan yang deras. Ia segera beranjak lalu menggendong Cynthia di belakang. Karena untuk ke mobil cukup jauh, Daffin malah naik ke rumah pohon di atas.
"Huft kamu lumayan juga ya," ucap Daffin kelelahan, sedang mengatur nafasnya yang memburu.
"Enak aja gue gak gendut, lo keberatan karena naik pohon sambil gendong gue," sahut Cynthia membela diri, perempuan itu lalu mengusap tangan Daffin, "Tapi lo hebat juga bisa gendong gue naik kesini, tadi gue takut jatuh."
"Haha iya sama takut jatuh, tapi untungnya kamu pegangan kuat. Sanking kuatnya leher aku sampai dicekik," celetuk Daffin setengah bergurau, dan tidak lama Cynthia pun tertawa terhibur sendiri.
Terdengar suara hujan deras di luar. Untungnya rumah pohon ini bersih bahkan ada karpetnya juga. Atapnya pun tidak bocor, jadi air hujan tidak merembes masuk. Sepertinya rumah pohon ini sering di rawat.
"Apa rumah pohon ini punya lo?" tanya Cynthia kembali memulai obrolan.
"Bukanlah, aku gak tahu ini punya siapa," jawab Daffin.
"Gak papa, nanti aku bersihin. Yang pentingkan kita gak kehujanan."
Cynthia memperhatikan Daffin dengan tatapan yang dalam, bibirnya pun melengkungkan senyuman. Pandangannya kini sudah berbeda, seperti penuh kekaguman dan cinta. Cynthia pun sudah tidak malu menunjukan.
"Kenapa lihatin aku terus? Aku tahu aku ganteng," ujar Daffin percaya diri.
"Daffin, lo punya berapa banyak mantan?" tanya Cynthia penasaran.
"Jangan ngetawain dan ledekin aku ya, tapi sebenarnya aku belum pernah pacaran. Baru sekarang aja sama kamu," jawabnya sambil tersenyum lebar.
Kedua mata Cynthia terbelak, "Hah serius belum pernah pacaran? Mana mungkin!" bantah nya tidak percaya.
"Beneran, aku gak bohong. Kamu bisa tanyain aja sama Devina, aku benar-benar belum pernah pacaran. Jadi aku minta maaf kalau sikap akun nanti agak kikuk sama kamu, aku belum terbiasa." Daffin mengatakannya dari dalam hati.
__ADS_1
Cynthia menggeleng pelan lalu menggenggam tangannya. Kenapa pria itu sampai minta maaf? Membuat Cynthia terenyuh saja, karena merasa Daffin akan sangat baik menjadi pasangannya. Cynthia yakin pilihannya tidak salah.
"Malahan aku yang mau minta maaf dari sekarang, aku takut buat kamu kecewa atau ngerepotin kamu," kata Cynthia.
Daffin tersenyum lalu menarik bahu perempuan itu untuk di peluknya. Angin yang dingin tadi pun kini sudah tidak terlalu terasa karena keduanya berpelukan. Daffin lalu tidak sengaja melihat kaki jenjang kekasihnya itu.
Pria itu melepaskan pelukannya dengan Cynthia, lalu membuka jaketnya untuk menutupi kaki Cynthia yang terbuka, perempuan itu kan hanya memakai dress se lutut. Selain karena khawatir kedinginan, juga suasananya ini takut membuatnya tidak tahan.
"Ngantuk gak?" tanya Daffin mengusap rambut Cynthia.
"Enggak sih, lo ngantuk?"
"Sedikit."
Cynthia lalu menepuk pahanya, "Tidur aja, nanti kalau hujannya reda dibangunin," perintahnya.
Tanpa menolak Daffin pun membaringkan tubuhnya di sana, dengan paha Cynthia yang Ia jadikan bantal. Sempat bertanya apa perempuan itu keberatan atau kepalanya sakit? Tetapi katanya tidak.
Merasakan usapan terus menerus di kepalanya, membuat Daffin nyaman dan memejamkan mata. Apalagi hidungnya bisa mencium wangi parfume yang manis dari baju Cynthia, membuat Daffin pun tidak lama terlelap tidur.
Drrt!
Mendengar getaran di ponsel Daffin yang di simpan di sisi tubuhnya, Cynthia pun langsung membawanya. Nama Elisa langsung terpampang di layar, perempuan itu menelepon. Cynthia pun memutuskan mengangkatnya.
["Daffin bisa gak ke kontrakan aku? Lampu kontrakan aku mati, kamu bisa bantu gantiin gak? Gak papa deh kalau nunggu hujan reda, nanti sekalian makan malam di sini ya. Aku masakin deh."]
Cynthia menghela nafasnya berat mendengar itu, dadanya tiba-tiba panas saja merasa tidak senang jika Daffin sampai melakukan itu berduaan dengan Elisa. Walau awalnya hanya membantu, tapi mereka akan bersama berduaan dan bisa saja sampai lupa waktu.
"Minta bantuan ke yang lain aja, satpam di kontrakan lo juga bisa kali. Kasihan Daffin kalau jauh ke kontrakan lo, apalagi lagi hujan deras. Jangan ngerepotin dia," jawab Cynthia tegas.
["Loh ini siapa? Ini Cynthia ya? Kenapa ponsel Daffin ada sama kamu? Kemana dia?"] tanya Elisa heboh sendiri di sana.
__ADS_1
Tetapi Cynthia memutuskan tidak menjawab karena pasti akan memperpanjang dramanya dengan Elisa. Cynthia langsung mematikan panggilan itu, lalu menyimpan lagi ponsel Daffin di tempat semula.