Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Sedang Dibicarakan


__ADS_3

Besok paginya mereka hanya sarapan berdua, Rania dengan Candra. Entah kemana Livia dan Leon itu, Rania pun belum melihatnya pagi ini. Rania mulai terbiasa sarapan dengan hanya makanan ringan ini, tapi di jam agak siangan Ia tetap lapar dan baru makan berat.


"Rania, nanti sore siap-siap ya," ucap Candra di sela makannya.


"Siap-siap mau kemana Mas?" tanya Rania bingung.


"Kita akan ke Bandung, ketemu Oma saya." Candra merasa tidak enak karena belum mengenalkan Rania pada Omanya, sedang wanita paruh baya itu terus mendesaknya untuk datang. Candra baru ada waktu luang, jadi baru sekarang akan pergi.


"Jadi Oma tinggal di Bandung?" tanya Rania yang bahkan baru tahu jika Candra masih ada keluarga.


"Iya, dia tinggal di sana sendirian. Tidak sendirian juga sih, ada beberapa pelayan yang temani."


Rania menelan makanannya dengan kasar, Ia mulai dilanda rasa gugup karena tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat bertemu dengan Oma Candra itu. Apakah dirinya akan disambut dengan baik atau tidak? Sungguh Rania masih merasa trauma dengan kejadian waktu Mamanya Livia melabrak nya di rumah, jadi Ia selalu ber hati-hati.


"Kenapa?" tanya Candra yang menyadari istrinya itu melamun.


"Aku gugup ketemu Oma," jawab Rania jujur.


"Gak usah gugup, dan jangan terlalu banyak pikiran." Candra lalu mengusap bibirnya dengan tisu, Ia sudah menyelesaikan sarapannya.


"Kalau boleh tahu Oma Mas Candra itu bagaimana orangnya?" Rania hanya penasaran saja, mungkin Ia pun harus mempersiapkan sesuatu sebelum datang ke sana.


"Dia baik dan suka senyum." Candra terlihat tidak ragu mengatakannya, karena Ia pun menyukai kepribadian dari Omanya itu.


"Benarkah? Semoga saja aku bisa mendekati beliau." Walaupun begitu Rania belum bisa memastikan apakah Omanya itu akan menyukainya atau tidak. Yang pasti nanti Rania akan bersikap dengan baik dan ramah.


Rania lalu mengantarkan Candra sampai ke depan, setelah suaminya itu pergi keluar rumah berangkat bekerja, Ia pun masuk lagi ke dalam. Melihat Leon yang menuruni tangga, membuatnya tersenyum. Leon pun ikut tersenyum lalu berjalan cepat menghampirinya.


"Kamu baru bangun Leon?" tanya Rania.


"Iya, biasanya aku selalu bangun lebih siang malahan." Walaupun wajah Leon khas bangun tidur dengan rambut yang berantakan, tapi pria itu masih tampan.

__ADS_1


"Apa hari ini kamu akan ke Kampus?"


"Iya harus ketemu dosen mau bicarain sesuatu, haduh males banget deh," keluh Leon sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Sabar, kan sebentar lagi juga mau wisuda. Malahan nanti pasti kalau sudah keluar bakalan kangen suasana kampus."


Leon menganggukan kepala, "Iya bener juga kata kamu."


"Kamu belum sarapan kan Leon? Sarapan dulu sana," suruh Rania perhatian. Jangan salah paham, sebenarnya Rania memperlakukan Leon itu sudah seperti adiknya sendiri.


"Kalau kamu sudah sarapan?" tanya Leon balik.


"Aku sudah tadi bareng Mas Candra."


"Terus Kak Livia mana? Apa dia sudah sarapan?" Leon memperhatikan sekitar melihat setiap sisi mencari perempuan itu. Ia mungkin memang selalu bersikap cuek, tapi percayalah masih ada rasa perhatian.


"Aku juga belum lihat Kak Livia, mungkin belum bangun atau sudah berangkat kerja?"


"Hm kayanya gitu, ya sudah deh gak papa sarapan sendiri. Tapi kalau misal kamu mau temenin aku, aku seneng banget," ucap Leon sambil mengkode pada Rania.


"Iya gak papa Rania, santai aja."


Rania pun pergi menuju kamarnya, begitu pun dengan Leon yang ke dapur. Pembantu bilang seprai nya ini belum sempat di ganti lagi, jadi Rania yang akan menggantinya sendiri. Ia terlihat tidak kesusahan dan tidak manja meminta bantuan, Rania malahan tidak mau jika sampai merepotkan orang lain. Merasa haus, Rania memutuskan ke dapur untuk minum.


"Setiap aku melihat kalian sedang bersama, rasanya sangat menggelikan." Itu suara Leon dari arah dapur membuat langkah Rania terhenti dan malah menguping di dekat pintu.


"Kenapa memangnya?" Rania tahu itu Livia, sepertinya mereka sedang sarapan bersama.


"Kenapa kamu terlihat tenang dan santai sekali? Sedangkan ada perempuan lain yang menjadi istri kedua suamimu." Nada suara Leon terdengar ketus, membuat perasaan Rania perlahan tidak enak. Apakah dirinya sedang dibicarakan?


"Aku kan memang begini orangnya," jawab Livia datar.

__ADS_1


"Really? Tapi kan kalau normal harusnya tidak setenang itu juga," dengus Leon.


"Aku tidak mau mempermalukan diri sendiri, lagi pula aku juga harus mengikuti alur Candra."


"Alur apa?"


Prang!


Rania terpekik pelan karena dirinya tidak sengaja menjatuhkan sebuah guci kecil yang ada di atas meja. Ia pun segera berjongkok untuk membersihkannya, tapi sanking paniknya lagi jari tangannya malah tidak sengaja tergores sampai berdarah. Merasakan ada yang menghampirinya, membuat Rania perlahan menoleh untuk melihat.


"Ya ampun Rania, kamu kenapa?" tanya Leon yang dengan sigap ikut berjongkok di sebelahnya. Pria itu membawa tangannya yang terluka, melihatnya lebih jelas.


"I-ini tadi aku gak sengaja nyenggol guci nya, sekarang jadi pecah." Rania sempat melirik tidak enak Livia, apakah guci ini milik perempuan itu? Tetapi Livia seperti biasa selalu bersikap tenang, perempuan itu pun melenggang pergi.


"Sudah tidak apa biar nanti aja mbok yang beresin, mending sekarang kita obatin dulu luka kamu ya." Leon pun menarik tangan Rania untuk dibawanya ke sebuah sofa terdekat, setelahnya membawa kotak obat.


"Gak papa Leon, biar aku obatin sendiri aja," tolak Rania.


"Gak papa biar aku aja, pas di kampus aku ini anak PMR loh." Leon terlihat bangga mengatakannya.


"Masa? Aku gak nyangka."


"Haha iya banyak yang gak nyangka, soalnya pas di SMA dulu juga anggota jadi lanjutin aja di Kampus."


"Bagus dong," puji Rania. Perlahan Ia pun mulai merasa santai dan membiarkan saja Leon mengobati jari tangannya.


Leon lalu melanjutkan cerita tentang kegiatannya itu, Rania pun mendengarkan dengan baik sampai akhirnya selesai juga memperban jarinya yang terluka itu. Tidak lupa Rania mengucapkan terima kasih, Leon ini memang perhatian dan sigap sekali tadi membantunya.


"Aku harus siap-siap sekarang, takut telat ke Kampus," ujar Leon saat melihat jam tangannya.


"Oh iya silahkan, sekali lagi makasih ya Leon."

__ADS_1


"Sama-sama, itu mah hal biasa." Leon pun segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap berangkat.


Sedangkan Rania masih duduk di tempatnya sambil melihat perban kecil di jari tangannya itu. Pikirannya malah mundur pada kejadian tadi, dimana dirinya yang tidak sengaja mendengar percakapan dari dua bersaudara itu. Rania tahu dirinya lah yang sedang dibicarakan, bahkan Leon juga sempat mengatakan hal tidak nyaman tentangnya. Tetapi melihat sikapnya yang biasa tadi, membuat Rania bingung sendiri.


__ADS_2