
Dari pagi pun Oma menemani Rania di rumah sakit, sedangkan Candra dari pukul sepuluh memutuskan ke kantor karena Ia tidak bisa absen, banyak pekerjaannya yang tidak bisa ditinggalkan. Untung saja ada Oma nya, jadi Candra tidak perlu khawatir.
Sebelum ke kantor, Candra tentu pulang ke rumahnya dahulu untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Baru saja masuk ke rumah, Ia berpapasan dengan Leon. Kebetulan sekali karena dari kemarin Candra ingin bertemu dengan adik iparnya itu.
"Leon, kesini kamu!" perintah Candra sambil menghentakan kaki kirinya sedikit, dengan lirikan mata tajamnya.
Leon pun menurut saja, dari tadi pria itu terus memegang pipi kirinya. Jika di perhatikan lebih lekat, wajah tampan Leon sekarang babak belur. Pukulan Candra kemarin memang keras, bahkan hampir membuatnya pingsan.
"Jelaskan semuanya!"
"Jelaskan apa?" tanya Leon.
"Kamu bohong, kan? Kenapa kamu menuduh Rania selingkuh dengan kamu?" tanya Candra langsung ke inti, tidak mau basa-basi.
Leon terlihat menghela nafasnya, "Ternyata Kakak lebih percaya dia ya?"
"Tentu saja, Rania itu tidak pernah bohong. Sudahlah jangan bersandiwara lagi, katakan saja semuanya dengan benar!" tegas Candra.
"Oke aku memang bohong."
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin sedikit mempermainkan hubungan kalian," jawab Leon blak-blakkan.
"Apa?" tanya Candra tidak menyangka sendiri.
"Bagaimana rasanya dengar istri kesayangan kamu itu selingkuh? Pasti sakit hati ya? Coba sekarang pikirkan posisi Livia, aku yakin dia lebih sakit hati karena harus di duakan," ucap Leon dengan kedua tangan terlipat di dadanya.
Candra dibuat terdiam mendengar itu, mulai menduga jika sikap kurang ajar Leon itu karena rasa dendam dari sang adik untuk Kakaknya yang sudah Ia permainkan. Sekarang Candra mengerti, Leon hanya kasihan pada Livia.
"Aku bukan sakit hati, tapi merasa tidak terima saja," sahut Candra.
"Bukannya sama saja ya?" tanya Leon menohok.
"Tidak, tapi aku tidak bisa jelaskan lebih."
__ADS_1
"Cih dasar pengecut!" dengus Leon.
Kedua tangan Candra terkepal, pria itu berusaha menahan emosinya dan jangan sampai kalang kabut lagi seperti kemarin. Sekarang Candra ingin menyelesaikan masalahnya dulu dengan Leon, pasti banyak yang ingin adik iparnya itu sampaikan padanya.
"Aku pikir Kak Livia bisa hidup lebih baik, tapi dia bodoh sekali malah bertahan dengan lelaki pengecut seperti kamu," ucap Leon meledek, dadanya sampai naik turun setelah mengungkapkan isi hatinya.
"Tapi aku mencintai Livia," ujar Candra.
"Hahaha cinta? Mana ada cinta, kau sudah menduakan dia. Berada di posisi Livia itu sangat berat. Selama ini mungkin dia selalu bersikap biasa saja, tapi aku yakin hatinya pasti sakit melihat suaminya terang-terangan bersama perempuan lain."
Candra mengangguk pelan mengerti, dugaannya benar jika sikap emosional Leon itu karena dendam yang ditahan. Adik iparnya itu pasti sangat membencinya karena menganggap sudah membuat Kakak perempuannya patah hati.
"Hanya tinggal sebentar lagi, aku janji setelah semuanya selesai akan seperti semula lagi," ucap Candra mencoba memberikan pengertian.
"Apa maksudmu?" tanya Leon bingung.
"Aku tahu kamu pasti kesal melihat Kakak kamu itu seperti aku permainkan, tapi percayalah Leon aku mencintai dia dan Livia tetap menjadi yang utama. Untuk alasan aku sampai berada di posisi seperti ini, maaf aku tidak bisa cerita." Karena jika Candra cerita, takut terungkap.
Leon mengernyitkan keningnya, sepertinya pria itu masih bingung dengan maksud perkataan Candra. Walau begitu, belum tentu amarahnya langsung surut. Leon kesal sekali pada Candra, tapi selama ini hanya bisa memendam.
"Kenapa? Takut perempuan yang kamu cintai itu terluka ya?" tanya Leon sambil menyeringai sinis.
"Aku khawatir kandungannya kenapa-kenapa. Kemarin aku sempat panik dia pendarahan, tapi untungnya Tuhan masih memberikan kesempatan. Jangan sampai dia kenapa-napa lagi, bayi itu yang paling aku khawatirkan," ujar Candra serius.
Sedikit demi sedikit Leon pun mulai mengerti dengan perkataan Candra, hanya belum pasti semua karena Candra tidak blak-blakkan. Sepertinya Leon harus mencari tahu sendiri, bertanya pada Livia pun pasti akan percuma saja.
"Aku minta maaf untuk kejadian kemarin, kau baik-baik saja?" tanya Candra. Setelah dipikir lagi, kemarin Ia kasar sekali.
"Gigiku patah satu, kau harus mengganti nya," jawab Leon agak kesal.
Pantas saja dari tadi terus memegangi pipinya, pasti giginya sakit.
"Nanti aku transfer uangnya, kau bisa tambal saja giginya."
Leon hanya memutar bola mata malas, sudah menduga jika pria itu akan menyogok nya dengan uang. Tetapi Leon pun tidak bisa terlalu membenci Candra, perasaannya ini campur aduk sekali. Antara benci tapi juga butuh karena suami Kakaknya dan sudah banyak membantu keluarganya.
__ADS_1
"Sekarang kau mau pulang?" tanya Candra.
"Hm, aku jadi malas lagi kesini."
"Terserah, tapi kalau kamu kesini jangan sampai bersikap aneh-aneh pada Rania. Mengerti?"
"Ck baiklah-baiklah, semoga saja alasanmu melindungi dia tidak sampai masuk ke hati ya," sindir Leon lalu melenggang pergi keluar rumah.
Setelah kepergian adik iparnya itu, Candra pun naik ke kamarnya di lantai atas. Ia sedikit terkejut menemukan Livia di kamar, Candra pun langsung menghampirinya yang duduk di sofa.
"Kau tidak kerja?" tanya Candra mulai obrolan.
"Tidak, aku free hari ini. Bukannya Oma juga akan datang?" tanya Livia balik.
"Sepertinya Oma akan datang agak sorean, sekalian Rania pulang."
Livia melirik Candra sekilas, "Jadi Rania sudah bisa pulang? Memangnya keadaannya sudah pulih?"
"Sudah kok, dokter juga sering memeriksa dia."
Setelah itu hening, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Candra menatap Livia yang duduk di sebelahnya, perempuan itu seperti biasa selalu terlihat acuh dan tidak peduli. Candra tidak tahu apa isi hati Livia.
"Kau tidak beritahu Leon kenapa alasan aku sangat menjaga Rania?" tanya Candra.
"Tidak, bukannya kau bilang jangan sampai ada yang tahu alasan itu ya?"
"Memang sih, tapi aku tidak menyangka adikmu itu akan sangat membenciku sampai melakukan itu. Karena dia juga aku hampir mencelakai Rania." Candra lalu bergeser semakin mendekati, "Beritahu Leon untuk jangan mendekati Rania lagi."
"Kenapa, kau cemburu ya?" tanya Livia sambil menyeringai.
"Ck bukan itu, kau tahu sendiri alasannya. Aku hanya takut Leon itu bersikap gegabah. Yang dia benci itu aku, jangan sampai membawa-bawa Rania. Apalagi bayinya, aku--"
"Yaya baiklah, kau tenang saja nanti akan aku beritahu Leon," sela Livia. Bosan juga mendengar ceramah Candra yang itu-itu lagi, bayi dan bayi.
Candra lalu berdiri dari duduknya, Ia sempat mengusap kepala Livia lalu masuk ke kamar mandi untuk bersiap berangkat ke kantor. Semoga saja setelah ini tidak ada lagi kesalahpahaman.
__ADS_1