Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Ada Kabar Buruk


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Rania yakin kabar ini akan tersebar dengan cepat. Rasanya sangat memalukan karena merasa sedang di grebek, padahalkan Rania dan Yoga tidak melakukan apapun. Selain itu berita menghebohkan lain adalah tentang dirinya yang berpisah dengan Candra.


Tok tok!


"Rania, ini Nenek," teriaknya dari luar.


Rania pun segera beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu, melihat itu Neneknya, Rania pun langsung memeluknya erat. Ima pun mengerti dan membiarkan cucunya ini memeluknya beberapa saat.


Setelah merasa hatinya lebih tenang, Rania dan Ima pun pindah duduk di sofa. Tadinya Rania akan membawakan air minum, tapi Ima menolak dan bilang bisa bawa sendiri. Ima memperhatikan Rania yang banyak melamun, seperti awal pindah ke desa.


"Apa Nenek sudah dengar semuanya?" tanya Rania pelan.


"Iya, ada gosip yang bilang kamu dan Pak Yoga ada hubungan," jawab Ima pelan.


"Apalagi yang mereka bilang di antara aku dan dia?" tanyanya.


"Katanya Pak Yoga juga sempat menginap ya?"


"Itu karena malamnya dia mau pulang tapi hujan dan mati lampu. Tapi kami tidak tidur sekamar atau sampai melakukan hal aneh-aneh, aku dan Mas Yoga hanya teman biasa."


Melihat nada suara Rania yang mulai bergetar, membuat Ima sedikit khawatir sampai merangkul bahunya, "Nenek percaya sama kamu, kamu perempuan baik-baik dan tidak mungkin begitu."


Neneknya mungkin akan mempercayai Rania, tapi tidak mudah membuat para warga percaya kepadanya. Citra nama Rania akan kembali tercoreng, apalagi sekarang tidak punya bekingan seperti dulu dari Candra.


Yang Rania pikirkan itu adalah anaknya, Rania khawatir setelah anaknya besar malah mendengar gosip buruk tentangnya. Padahal Rania hanya ingin hidup dengan tenang dan damai, tapi ada saja cobaannya.


"Tapi kamu dan Pak Yoga memang sedekat itu? Maksudnya dia katanya hampir setiap hari berkunjung ke rumah." Ima berusaha mengatakan dengan baik-baik, tidak mau menyinggung.


"Padahal aku tidak minta dia untuk datang, tapi Mas Yoga selalu lebih dulu ke rumah. Sebenarnya waktu itu aku sempat tegur dia karena gak enak dilihat yang lain, takut jadi fitnah. Dan ternyata benar, besoknya malah kejadian."


"Sabar ya, ini pasti berat untuk kamu," ucap Ima.

__ADS_1


"Aku malu Nek, mereka pasti bakal ngatain aku perempuan aneh-aneh," gumam Rania.


"Enggak, jangan pedulikan omongan orang lain yang menyakitkan. Ini hidup kamu, mereka gak berhak berkomentar karena belum tentu mereka juga sempurna."


"Tapi--"


"Kalau kamu yakin kamu tidak seburuk itu, kamu tidak perlu malu Rania. Jangan terlalu stress, kasihan bayi kamu," nasihat Ima.


Helaan nafas lirih keluar lewat celah bibir Rania, benar juga yang dikatakan Neneknya itu. Usia kandungannya sudah di trimester terakhir, Rania harus selalu berhati-hati dan mempersiapkan diri untuk lahiran.


"Nenek kapan mulai pindah kesini?" tanya Rania.


"Lusa ya sayang, pas Nenek libur kerja," jawabnya.


"Oke, soalnya kata dokter minggu ini kira-kira aku lahiran dan aku sedikit khawatir kalau misal gak ada siapapun di rumah."


"Iya kamu tenang saja, Nenek akan selalu ada di samping kamu."


Rasanya memang sedih karena di saat seperti ini Rania hanya sendirian, seharusnya sosok suami bisa bersamanya dan menemaninya. Tetapi apalah daya, Rania sendiri yang lebih dahulu pergi meninggalkan Candra.


"Nenek yakin gak akan nginep?" tanya Rania sedih.


"Maaf sayang, besok pagi kan Nenek harus kerja." Ima mengatakannya sambil mengusap kepala cucunya itu.


"Ya sudah, tapi janji ya lusa pindahan."


"Iya pasti, sudah ya Nenek pulang dulu."


Karena jarak dari rumahnya ke rumah Nenek lumayan jauh, jadi Neneknya itu pulang pergi dengan naik ojek motor. Rania melambaikan tangan mengiri kepergiaan Ima, setelah menjauh perempuan itu pun kembali masuk ke rumahnya.


Baru saja akan mencuci piring bekas makan malamnya dengan Nenek, suara ketukan pintu kembali terdengar. Siapa? Apa Neneknya? Rania pun memutuskan menghampiri lebih dahulu, mungkin saja ada barang tertinggal.

__ADS_1


"Nenek kok balik lagi?" Tetapi senyuman di bibir Rania langsung menghilang melihat tamunya bukanlah Neneknya.


"Rania," panggil pria itu.


Rania berusaha menutup pintunya lagi, tapi dengan cepat Yoga menahannya dan memintanya untuk diberikan kesempatan bicara. Rania lalu meminta Yoga pulang saja, tapi pria itu kekeuh ingin mengatakan jika sesuatu ini cukup penting.


"Mau bicara apa? Kalau untuk waktu itu sudah lupakan saja, aku tidak mau bahas lagi," kata Rania dari balik pintu.


"Bukan tentang itu, tapi ini tentang Pak Candra," sahut Yoga dari luar, kakinya tetap berusaha menahan pintu agar tidak tertutup.


Kernyitan terlihat di kening Rania, tentang mantan suaminya? "Aku tidak peduli dengan dia, sekarang kami bukan siapa-siapa lagi."


"Kamu serius gak mau tahu Rania? Sayangnya kabar ini cukup sedih."


Sedih? Batin Rania bingung. Entah kenapa perasaan Rania perlahan tidak enak, apa yang terjadi dengan mantan suaminya itu?


"Kalau kamu gak mau bicara di dalam, bisa di luar saja. Sebentar saja Rania," bujuk Yoga belum menyerah.


Rania pun menyerah karena dirinya terlalu penasaran, Ia pun membuka pintu itu dan langsung bisa melihat senyuman lebar Yoga. Mereka pun duduk di kursi kayu yang ada di depan teras rumah.


"Aku dengar Pak Candra tadi sore akan ke sini, mungkin dia akan nemuin kamu," ucap Yoga mulai cerita.


Candra akan menemuinya? Rania menggigit bibir bawahnya mulai merasa cemas, apakah pria itu akan berhasil mendapatkan keberadaannya?


"Tapi sayangnya dia tidak akan tiba di sini, karena di pertengahan jalan mengalami kecelakaan cukup parah di tol."


Setelah Yoga mengatakan itu, kedua mata Rania langsung terbelak, "Mas Candra kecelakaan?" tanyanya mengulang.


"Iya, belum tahu pasti bagaimana kejadiannya. Tapi Pak Candra langsung dilarikan ke rumah sakit, dan aku dengar sampai sekarang kondisinya masih kritis belum sadarkan diri."


Rania langsung menutup bibirnya mendengar kabar buruk itu, hatinya merasa sakit begitu saja. Tanpa bisa ditahan kedua matanya pun berkaca-kaca, tidak bisa berbohong Rania merasa khawatir kepada pria itu.

__ADS_1


"Saat aku dengar kabar ini aku tanpa pikir panjang langsung kesini untuk ngabarin ini ke kamu. Aku turut berduka cita, tapi semoga Pak Candra gak kenapa-napa dan bisa secepatnya sadar," ucap Yoga.


Pria itu memperhatikan ekspresi wajah perempuan di sebelahnya, Yoga tahu Rania sekarang sedang sedih dan khawatir. Entah kenapa Yoga merasa sedikit cemburu, tapi bukankah reaksi Rania itu wajar pada mantan suaminya?


__ADS_2