Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 16


__ADS_3

"Hallo Cynthia, aku minta maaf banget kayanya kami gak akan ke rumah kamu lagi. Gak papa kan?" tanya Daffin tidak enak hati.


["Iya gak papa, apa dia udah ketemu?"] Dia di sini sudah pasti Elisa.


"Iya sudah, Elisa kedinginan karena kehujanan, dia berteduh di pohon tadi. Aku juga jadi ikut basah, kalau ke rumah kamu takutnya malah ngerepotin."


["Ya udah deh kalau gitu pulang aja, tapi besok lo ke rumah gue lagi ya."]


"Iya aku usahakan, tapi besok kan ada kelas jadi kayanya agak siangan."


["Hm terserah, gue tunggu. Eh tapi kalau bisa sendiri aja ya, si cerewet itu jangan ikut."]


Daffin sempat melirik Elisa yang duduk di sebelahnya. Kalau Elisa dengar pasti akan mengomeli balik Cynthia karena tidak terima dikatai begitu, tapi untungnya Elisa tidak dengar karena Daffin menggunakan earphones.


"Iya, sudah dulu ya, sampai jumpa besok." Setelah itu panggilan pun berakhir.


Selama perjalanan menuju rumah, kedua orang itu tidak mengobrol lagi. Merasa canggung saja dengan suasana ini. Entahlah apa hari ini akan jadi mencari kontrakan atau tidak jadi lagi, tapi sekarang masih hujan.


"Kamu langsung mandi saja biar gak kedinginan begitu," kata Daffin saat keduanya sampai di rumah.


Elisa mengangguk pelan, "Kamu juga Daffin, tadi kan ikut kebasahan gara-gara aku."


"Iya."


Waktu masih siang, tapi rasanya suasana seperti bukan siang karena sudah turun hujan. Suasana rumah pun sepi seperti biasa, kedua orang tua Daffin sudah pasti bekerja.


Setelah mandi, Daffin turun ke lantai bawah menuju dapur untuk membuat dua teh. Selesai membuatnya pria itu pun menuju kamar Elisa, tidak lupa tentu sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kamu sudah selesai mandinya?" tanya Daffin.


"Sudah dong, pakai air hangat jadi gak terlalu dingin," Jawab Elisa. Perempuan itu sedang mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk kecil.


"Nih aku buatin teh, sama bawain juga kue."


Elisa pun mendekat, "Ya ampun Daffin kamu ini emang perhatian banget ya, aku suka deh karena kamu baik banget," ucapnya.


Daffin hanya tersenyum tipis mendengar itu. Ya Elisa menyukai dirinya karena bisa se perhatian ini, tapi menyukai itu tidak lebih sampai masuk ke perasaan. Daffin sih sudah berusaha yang terbaik.

__ADS_1


"Hujannya mulai agak reda, nanti kalau sudah benar-benar reda kita bisa cari kontrakan untuk kamu," ucap Daffin melirik ke jendela kamar.


"Aku pikir gak jadi," gumam Elisa pelan.


"Kenapa gak jadi? Kan aku sudah janji."


"Aku pikir tadinya kamu bakalan lama di tempat Cynthia, sampai gak ada waktu untuk aku juga," ucap Elisa dengan nada merajuk nya.


"Enggak lah, kan bagi-bagi waktu. Aku saja harus pulang lebih cepat tadi karena nyariin kamu yang lagi ngambek."


Mendengar itu membuat Elisa semakin mengerucutkan bibir, "Oh jadi kamu maunya masih lama berduaan sama Cynthia di sana? Ya sudah kalau gitu, sana balik lagi ke rumah dia," ketusnya.


"Astaga bukan gitu," ujar Daffin sambil menggelengkan kepalanya.


Entah kenapa Elisa merasa khawatir jikalau perhatian Daffin itu terbagi pada perempuan lain. Elisa inginnya pria itu terus tertuju dan bersamanya, memperhatikannya terus. Elisa tidak akan membiarkan Daffin terlalu fokus pada Cynthia.


"Hei jangan melamun, ayo kita berangkat sekarang," tegur Daffin sambil mengibaskan tangan di depan wajah Elisa.


"Hah kemana?"


"Tuh kan makanya jangan ngelamun, ya cari kontrakan untuk kamu lah. Tuh hujannya sudah reda, ayo kita berangkat sekarang," ajaknya.


***


Kemarin mencari kontrakan untuk Elisa sangat tidak mudah, lebih banyak yang tidak cocok bagi perempuan itu. Setelah hampir tiga jam nya mereka berkeliling, akhirnya mendapatkan juga, ya walau dengan biaya sewa yang lebih mahal.


Rencananya Elisa akan pindahan hari ini, nanti sepulang dari Kampus Daffin pun akan membantunya. Mereka ada kelas pagi sampai siang, jadi harus kuliah dulu.


"Hai Satria, kamu udah save back nomor aku belum?" tanya Elisa menghampiri lelaki itu.


"Ah iya lupa, kamu yang waktu itu nge chat ya. Hehe sorry-sorry, waktu itu lagi main game," ucap Satria lalu membuka ponselnya.


"Oh iya gak papa kok, jangan lupa save back ya."


"Iya tenang aja."


Daffin memperhatikan dua orang di depannya yang sedang mengobrol. Bibirnya memang tersenyum tipis, tapi tidak bohong ada rasa sesak di dada. Elisa benar-benar terlihat seperti seseorang yang sedang jatuh cinta pada Satria. Padahal sebelumnya selalu lelaki yang mendekati lebih dulu.

__ADS_1


"Em Satria besok pulang dari Kampus, kamu ada acara gak?" tanya Elisa.


"Gak tahu, tapi kayanya gak ada. Tapi kalau dari magrib baru kerja part time," jawab Satria.


"Gimana kalau kita jalan-jalan?" ajak Elisa lebih dulu.


"Jalan-jalan kemana?"


"Ya kemana aja gitu, aku kan bukan orang Jakarta, masih banyak tempat yang belum aku tahu. Mungkin aja kamu bisa ajak aku ke tempat bagus gitu," ucap Elisa mengkode.


Satria mengangguk pelan, "Boleh-boleh, tapi sama Daffin kan?"


Mendengar namanya disebutkan, membuat Daffin yang tadinya sedang menulis langsung mengangkat kepala menatap dua orang di depannya yang sedang menatapnya dengan pandangan berbeda.


"Daffin mau ikut kan?" tanya Satria.


Baru saja Daffin akan mengiyakan, Ia melirik ke arah Elisa. Kepala perempuan itu menggeleng seolah memberi isyarat kepadanya untuk menolak. Daffin pun sadar jika Elisa inginnya hanya berduaan dengan Satria.


"Kayanya gak bisa, aku ada urusan," tolak Daffin sambil tersenyum kecut.


"Urusan kemana? Kamu kan gak kerja," tanya Satria.


"Cynthia, aku kan sering cerita tentang dia ke kamu. Dia masih harus di jagain," jawab Daffin, dan menurutnya alasannya ini masuk akal.


"Oh iya juga ya, ya sudah deh gak papa."


Elisa langsung tersenyum lebar merasa senang karena akhirnya Ia bisa jalan berduaan dengan Satria. Nanti Elisa harus berterima kasih kepada Daffin, sahabatnya itu memang peka sekali.


"Sebentar ya aku ke toilet dulu," pamit Elisa lalu keluar kelas.


Satria memutar tubuhnya ke belakang, kini posisinya jadi berhadapan dengan Daffin, "Gak papa nih? Kamu gak akan cemburu?" tanyanya.


"Hah cemburu gimana?"


"Mungkin aja salah satu dari kalian ada yang saling suka," celetuk Satria yang belum bisa memastikan.


Daffin hanya tertawa canggung, "Kalau misal dia suka sama aku, gak mungkinlah ajak kamu jalan berdua gitu," sahutnya.

__ADS_1


Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bener juga ya, tapi aku kira Elisa suka sama kamu." Jujur Satria saja sampai kaget diajak jalan oleh perempuan itu tadi, apalagi Daffin pasti melihat.


Daffin lagi-lagi hanya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaan kecewa di hatinya. Ia tidak bisa menahan karena tidak punya hak, seseorang memiliki kebahagiaan nya masing-masing.


__ADS_2