
"Aku pulang," teriak Daffin saat memasuki rumahnya.
Ternyata Livia menyambutnya, membuat Daffin pun langsung menyalami tangan wanita itu. Tumben sekali Mama tirinya ini sudah pulang, biasanya jam segini masih kerja.
"Daffin, Mama punya kejutan untuk kamu," ucap Livia dengan senyuman lebarnya.
"Kejutan apa Mah?" tanya Daffin bingung.
"Ada deh, kamu langsung lihat aja di kamar kamu," kata Livia.
Apa Mama tirinya ini membelikan sesuatu untuknya? Misal barang mewah begitu? Daffin jadi sungkan sendiri, tapi Ia sekarang akan memastikannya dahulu. Ya semoga saja bukan.
Daffin pun segera ke kamarnya di lantai dua, berjalan dengan cepat untuk melihat kejutan yang dibilang Livia itu. Saat membuka pintu, tubuhnya langsung tersentak melihat seorang perempuan berdiri di dekat jendela.
"Devina, itu kamu?" tanya Daffin.
Saat perempuan itu berbalik, senyuman di bibir Daffin langsung merekah karena dugaannya benar. Daffin pun langsung mendekat dan memeluk tubuh kecil perempuan itu dengan eratnya.
"Astaga Devina, kenapa kamu gak bilang kalau mau kesini? Kamu mau kasih kejutan ya sama Kakak?" tanya Daffin riangnya.
"Ih Kakak lepasin, aku gak bisa nafas!" gerutu Devina sambil memukul pelan punggungnya.
Daffin pun melepaskan pelukan itu sambil tersenyum canggung. Ya mau bagaimana lagi, Daffin terlalu senang melihat kehadiran adik perempuannya ini di Jakarta.
"Kamu dari kapan di sini? Kamu sama siapa? Apa bareng Mama?" tanya Daffin melontarkan banyak pertanyaan.
"Enggak, aku sendirian. Tapi nanti minggu depan Mama sama Papa bakalan kesini, jemput aku," jawab Devina.
Daffin menepuk pelan puncak kepala Devina, tapi Ia terkejut saat tangannya itu malah ditepis dengan sedikit kasar. Melihat adik perempuannya yang mulai cemberut begitu, membuat Daffin mengerti.
"Kamu kenapa sih susah banget Kakak hubungi? Kamu block nomor Kakak ya?" tanya Daffin menduga.
"Iya, habisnya aku kesel sama Kakak!" ketus Devina sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Astaga kenapa kamu masih kesel? Padahal kan Kakak pindah ke Jakarta juga karena mau belajar, Kakak yakin di sini pendidikannya lebih bagus," ucap Daffin berusaha memberikan pengertian.
Saat Daffin mengatakan akan pindah ke Jakarta, ada dua reaksi berbeda dari keluarganya. Kedua orang tuanya sih mendukungnya, tapi berbeda dengan adik perempuannya ini yang malah merajuk tidak mau ditinggalkan.
Devina bahkan sempat mengurung diri di kamar sanking tidak mau Daffin pergi, tapi Daffin dan Rania berusaha memberikan pengertian. Daffin pun terpaksa tetap pergi, ya walau hubungannya dengan Devina jadi merenggang.
"Terus kamu ke Jakarta kenapa? Kangen ya sama Kakak?" tanya Daffin percaya diri.
"Ih apaan sih? Aku tuh kebetulan lagi libur sekolah, makanya jalan-jalannya ke Jakarta," jawab Devina berusaha membantah. Padahal kenyataannya Ia memang sangat merindukan Daffin.
Walaupun mereka berbeda Papa, tapi keduanya tetaplah saudara kandung yang saling menyayangi. Perbedaan usia Daffin dengan Devina sekitar empat tahunan. Sebentar lagi Devina akan masuk hight scholl.
Tok tok!
"Hai boleh Mama masuk?" tanya Livia sambil melengokan kepalanya ke dalam.
"Iya Mah silahkan, masuk aja," ucap Daffin sambil melambaikan tangannya.
"Haha iya beneran terkejut sih, sampai gak bisa berkata-kata lihat Devina ada di sini. Apa Mama tahu dia akan liburan ke Jakarta?" tanya Daffin.
"Rania memang sempat telepon Mama, dia juga bilang untuk rahasiain ini dari kamu karena.." Livia sempat melirik Devina, "Karena katanya adik kamu itu pengen ngasih kamu kejutan."
Daffin tidak bisa menyembunyikan tawanya mendengar itu, sedang Devina semakin cemberut karena dirinya ketahuan dan menjadi malu sendiri. Devina itu memang tinggi sekali gengsinya.
"Sekarang berapa usia kamu Devina?" tanya Livia lembut.
"Sebentar lagi enam belas tahun Tante," jawab Devina.
"Kenapa manggilnya Tante? Gak papa, sama aja manggilnya kaya Kakak kamu, Mama," kata Livia sambil tersenyum.
Devina sempat terpana mendengar itu, Ia lalu sempat melirik Kakaknya seolah meminta pendapat. Melihat Daffin yang mengangguk pelan seolah mengizinkan, membuat Devina pun akhirnya menyetujui.
"Kamu bakalan lama kan liburan di sini?" tanya Livia sambil mengusap rambut panjang Devina.
__ADS_1
"Mungkin seminggu lebih, gak papa kan Mama?" Suara Devina jadi agak kikuk di akhir kata.
"Ya gak papa dong, malahan kita bakalan senang karena rumah makin ramai. Selain itu Kakak kamu juga pasti seneng ada temen di sini," angguk Livia tidak menolak.
Mendengar itu membuat Daffin merasa lega karena diberikan izin adiknya ini untuk tinggal beberapa saat di rumah ini. Devina mungkin memang tidak ada hubungan darah dengan Candra maupun Livia, tapi mereka memperlakukan adiknya dengan baik.
"Ya sudah kalian mengobrol saja, puas-puasin kangen-kangenannya. Nanti pas makan malam, Mama kesini lagi panggil kalian ya," ucap Livia. Wanita itu lalu keluar kamar.
Mereka lalu beralih ke kamar tamu yang akan ditempati Devina selama liburan di sini, kamarnya tidak jauh dari kamar Daffin. Adiknya itu membawa satu koper, ya di sini juga kan lumayan lama.
Daffin lalu ikut membantu Devina merapihkan beberapa barang dan memindahkan baju ke dalam lemari. Devina sendiri hanya membantu sedikit, Ia beralasan kelelahan di jalan yang lama.
"Kakak pasti betah ya tinggal di sini?" tanya Devina sambil menatap langit kamar. Ia sedang tidur terlentang, bersantai.
"Kenapa kamu mengira Kakak betah tinggal di sini?" tanya Daffin sambil tetap melipat baju.
"Soalnya Mama Livia kelihatan baik dan perhatian gitu, Om Candra juga pasti gak kalah baik kaya Papa, iyakan?"
Daffin pun mengangguk, "Iya emang, mereka berdua sangat baik sama Kakak," jawabnya jujur.
Devina lalu tersenyun tipis, merasa lega jika begitu. Selama di Kampung, Devina selalu memikirkan Kakaknya ini. Apakah betah tinggal di rumah Papanya dan Mama tirinya? Jauh dari kedua orang tuanya.
Melihat sikap Livia tadi, membuat Devina pun yakin jika Livia sudah menganggap Daffin seperti anak kandung sendiri. Nanti Devina juga akan bertemu Candra, menjadi gugup sendiri.
"Katanya Kak Elisa juga pindah ke Jakarta ya? Terus dia rumahnya dimana?" tanya Devina sambil mendudukan tubuhnya.
"Elisa tinggal di kontrakan, kenapa? Kamu mau main ke sana?" tanya Daffin.
"Iya mau-mau, udah lama juga gak ketemu Kak Elisa. Kakak pasti setiap hari ketemu ya? Soalnya kan kalian satu Kampus."
"Enggak setiap hari juga, kan ada liburnya. Ya sudah nanti kita main ke kontrakan dia," ujar Daffin.
Mungkin Daffin juga tidak akan bilang dulu pada Elisa jika ada Devina di sini, pasti Elisa akan terkejut dan senang kalau bertemu. Dua perempuan itu memang cukup dekat, mungkin seperti sahabat, bahkan lebih dari dirinya.
__ADS_1