
"Daffin tunggu!" panggil Elisa sambil menahan tangannya.
Daffin sempat menatap tautan tangan mereka, tapi segera Ia lepaskan karena tidak enak juga dilihat mahasiswa lain, takut salah paham. Mereka sedang di Koridor menuju kelas, tadi baru selesai mengantar Cynthia ke kelasnya.
"Ada apa?" tanya Daffin.
"Kenapa kamu ajak Cynthia juga ketemu Tante Rania?" Elisa memilih langsung menanyakan ke inti, dari tadi Ia terus penasaran.
"Sebenarnya Mama aku yang nyuruh duluan, katanya dia pengen ketemu Cynthia. Aku sudah tahu sih apa saja yang bakal Mama obrolin sama Cynthia," jawab Daffin.
Elisa terlihat menghela nafas berat, "Jadi bukan kamu yang nawarin duluan? Beneran Tante Rania yang nyuruh?"
"Iya Elisa, memangnya kenapa hm?" tanya Daffin lembut.
"Gak papa sih, cuman aku ngerasa sedikit keberatan. Jangan sampai di sana nanti kamu juga abain aku ya." Sebenarnya yang paling Elisa khawatirkan, ya Rania yang menyukai Cynthia.
Sekarangkan Elisa harus semakin gencar mengakrabkan diri dengan kedua orang tua Daffin, Elisa menganggap dirinya dengan Daffin pun ada hubungan spesial sekarang jadi orang tua Daffin harus tahu.
"Nanti kan di sana juga ada Devina, biasanya juga kalau lagi bareng-bareng kamu lebih sering sama dia," kata Daffin.
"Iya sih, tapi aku sekarang pengennya sama kamu terus," ucap Elisa sambil tersenyum manis.
Daffin mengedipkan matanya perlahan mendengar itu, Ia berdehem pelan menghilangkan rasa gugup. Hanya perasaannya atau bukan, tapi Daffin merasa Elisa sekarang bersikap agak aneh. Sering merayunya.
Mereka pun berjalan bersisian menuju kelas, tanpa mengobrol karena Daffin terlihat menghindar, pria itu sedang gugup. Sampai di kelas, Elisa pun kembali duduk di bangku yang bersebelahan dengan Daffin.
Sebenarnya kalau boleh jujur, Daffin tidak terlalu suka di tempeli Elisa terus. Apalagi Elisa sangat menunjukkan rasa ketertarikan kepadanya. Daffin lebih suka dulu, mereka yang biasa-biasa saja, layaknya teman.
"Kamu mau ke kelas dia dulu ya? Ya sudah aku tunggu di mobil aja deh," kata Elisa.
__ADS_1
"Iya duluan aja, nanti aku nyusul," angguk Daffin tidak masalah juga.
Jam kuliah memang tidak tentu, inilah hal yang Daffin senangi juga dari pada saat sekolah dulu. Tidak terasa sekarang sudah mau pukul dua belas siang, waktunya pulang. Daffin sudah tidak sabar menantikan.
Ternyata Cynthia juga sudah menunggunya. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol, Cynthia cerita jika dirinya sangat gugup akan bertemu kedua orang tua Daffin. Tetapi Daffin terus tenangkan karena kedua orang tuanya juga pasti akan menyambut baik.
"Lama banget, ayo kita langsung berangkat. Gak enak kalau keluarga kamu sudah nunggu," celetuk Elisa saat dua orang itu naik ke mobil.
"Iya-iya sabar, kita berangkat sekarang," ucap Daffin, tidak mau mendengar keributan lagi.
Suasana mobil itu benar-benar hening, ketiganya fokus dengan pikiran masing-masing. Karena mobil berjalan cukup cepat, hanya setengah jam saja mereka sudah sampai di rumah Oma nya Daffin.
Ternyata Mamanya yang menyambut dan langsung mempersilahkan masuk. Elisa terlihat langsung memeluk wanita itu dengan manjanya, seperti pada Ibu kandung sendiri. Cynthia yang melihat itu, jadi iri sendiri.
"Apa kamu yang namanya Cynthia?" tanya Rania sambil menghampiri perempuan cantik yang duduk di kursi roda.
"Iya Tante, senang bisa bertemu Tante. Terima kasih sudah di undang untuk makan siang di rumah ini, sebuah kehormatan," jawab Cynthia berusaha ramah.
Daffin mengangguk lalu segera mendorong kursi roda Cynthia, mengikuti Rania di belakang. Ternyata benar semua keluarganya sudah menunggu, bahkan ada Oma dan Opanya juga.
Baru saja Daffin akan duduk di kursi sebelah Cynthia, Elisa malah merebutnya dan duduk di tengah. Akhirnya Daffin pun duduk di sebelah Elisa, jadi dengan Cynthia terhalang oleh perempuan itu.
"Apa Daffin hanya ajak dua teman saja? Tidak ada yang lain lagi?" tanya Oma nya.
"Gak ada Oma, cuman dua aja," jawab Daffin.
"Cucu Oma temennya pada cantik-cantik ya, jadi yang mana yang pacar kamu?" tanyanya menyeletuk.
Daffin yang ditanyai begitu jadi malu sendiri sampai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya temannya banyak dan bukan hanya perempuan, tapi yang paling dekat memang hanya Elisa dan Cynthia saja.
__ADS_1
Setelah Papa Yoga membaca doa makan, semuanya pun langsung membawa makanan masing-masing. Daffin sesekali melirik Cynthia, merasa khawatir perempuan itu tidak bisa membawa sendiri.
"Cynthia biar Tante bawain ya untuk kamu, kamu lauknya mau sama apa?" tanya Rania sambil mengambil piring kosong lain.
Cynthia tersenyum senang mendengar itu, "Makasih Tante, tapi lauknya terserah Tante aja. Kalau bisa nasinya juga jangan terlalu banyak, takut gak habis," katanya.
"Ya sudah kalau gitu biar Tante pilihin lauk rekomen untuk kamu, ini semua masakan Tante jadi Tante harap kamu suka," ucap Rania.
Elisa yang melihat itu entah kenapa dibuat cemburu, padahal Ia tahu Rania hanya ingin membantu Cynthia yang lumpuh dan selalu merepotkan itu. Elisa jadi semakin takut, Cynthia mengambil posisinya di keluarga ini.
"Daffin, mau aku suapin gak?" tanya Elisa tiba-tiba sambil beralih menatap pria itu.
Daffin yang sedang makan hampir tersedak mendengar itu, "Kamu ngomong apa sih?" tanyanya lalu terkekeh kecil.
"Ya gak papa dong, aku gak masalah kok," ucap Elisa sambil mengedikkan bahu nya.
"Enggak usah aku bisa makan sendiri. Sudah kamu juga lanjutin makannya," suruh Daffin.
Elisa menghela nafas karena sepertinya dirinya terlalu agresip ingin mencari perhatian, Daffin saja terlihat terkejut dengan tingkahnya. Ya mau bagaimana lagi, jika ada Cynthia, Elisa selalu was-was.
"Elisa katanya kamu se kelas sama Daffin ya?" Kini giliran Yoga yang bertanya.
"Iya Om kita sekelas dan ke mana-mana juga selalu bareng," jawab Elisa sambil tersenyum lebar.
"Dasar, kalian itu emang gak bosen apa temenan dari kecil? Bareng terus," tanya Yoga setengah meledek.
"Enggak dong, malahan aku seneng selalu sama Daffin. Dia juga selalu perhatian dan jagain aku terus," jawab Elisa lalu melirik pria itu dengan tatapan berbinar nya.
Daffin tentu saja jadi sedikit malu mendapatkan itu, apalagi semua keluarganya memperhatikannya. Tetapi Daffin agak bingung kenapa Elisa mengatakan ini, seperti tidak malu juga.
__ADS_1
"Wah-wah Om ngerasa suasana di antara kalian jadi beda, tunggu apa jangan-jangan kalian sudah jadian ya?" tanya Yoga sambil menunjuk dua remaja itu bergantian.
Elisa langsung tersenyum lebar ditanyai seperti itu, Ia pun repleks memeluk tangan kanan Daffin, "Iya Om, aku dan Daffin sudah jadian, sekarang kita pacaran," Jawabnya keras.