Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 58


__ADS_3

Selain dengan terapi khusus di rumah sakit, terkadang Daffin juga membantu Cynthia belajar berjalan di rumah. Dalam satu pekan ini perkembangannya pun bisa dikatakan sangat baik, karena Cynthia kini sudah tidak duduk di kursi roda lagi, melainkan memakai kruk.


"Kenapa lihatin aku kaya gitu?" tanya Cynthia pada kekasihnya yang berdiri tidak jauh di depannya.


"Aku cuman ngerasa bangga aja sama kamu karena sekarang sudah bisa jalan pakai tongkat," jawab Daffin sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana.


"Kan kamu juga yang bantu aku, makasih ya sayang," ucap Cynthia tulus dari dalam hati.


Daffin lalu mendekat dan mengecup kening perempuan itu beberapa saat, mereka lalu saling bertatapan dalam. Memang Daffin juga yang membantu Cynthia belajar berjalan, tapi tentu semua dari tekad Cynthia juga yang kuat ingin bisa berjalan lagi.


"Aku dulu sempat putus asa, ngerasa gak akan bisa jalan lagi," kata Cynthia menceritakan.


"Terus kenapa kamu sekarang masih ada tekad untuk belajar lagi?"


"Ya karena kamu, kamu selalu semangatin aku dan buat aku perlahan bangkit lagi. Kamu selalu bilang gak ada yang gak mungkin, jadi aku pikir aku juga bisa jalan lagi," jawab Cynthia sambil tersenyum.


"Aku seneng bisa jadi salah satu penyemangat kamu." Daffin pun kembali membawa perempuan itu ke pelukannya.


Merasa latihan sudah cukup, Daffin mengajak Cynthia untuk beristirahat sejenak di gazebo yang ada di belakang rumahnya. Ada minuman dingin yang sudah disiapkan, juga beberapa cemilan sebagai pengganjal perut.


Saat keduanya sedang asik mengobrol sambil makan-makan, obrolan terhenti mendengar deringan di ponsel Daffin. Dari Elisa. Daffin sempat menatap Cynthia seolah meminta izin, kekasihnya itu hanya mengangguk pelan.


"Hallo Elisa, ada apa?" tanya Daffin.


["Daffin, kamu gak mau anterin aku ke halte? Kamu lupa ya hari ini aku bakal pulang ke Kampung."]


Mendengar itu membuat Daffin tersentak, Ia hampir melupakan jika sahabatnya itu hari ini akan pulang kampung. Melihat waktu, masih ada sekitar satu jam an lagi keberangkatan.


"Maaf aku lupa, untung aja kamu nelepon. Kalau gitu aku ke kost an kamu sekarang ya? Tunggu," kata Daffin lalu mematikan panggilan itu.

__ADS_1


"Ada apa katanya?" tanya Cynthia menatapnya penasaran.


"Hari ini Elisa kan pulang kampung, aku hampir lupa," Jawab Daffin.


"Ternyata dia beneran pergi ya? Aku kira gak serius waktu itu," gumam Cynthia.


Mungkin saja Elisa itu beralasan hanya sedang mencari perhatian Daffin, agar ditahan untuk tidak pergi karena masih berharap dengan cintanya. Tetapi dugaan Cynthia salah, Elisa benar-benar serius akan pergi.


"Katanya kesehatan Bapaknya semakin menurun, jadi Elisa harus cepat pulang ke Kampung," jelas Daffin.


"Begitu ya, ya sudah ayo kita berangkat sekarang," ajak Cynthia lebih dulu.


Tadinya Daffin sempat menggoda pacarnya itu untuk Ia gendong sampai ke depan, tapi tentu saja Cynthia tolak karena tidak enak juga kalau ada yang melihat. Apalagi ini di rumah Daffin. Cynthia juga sekalian ingin melancarkan berjalannya dengan kruk.


Hampir lima belas menit mereka di perjalanan dan akhirnya sampai juga. Cynthia lalu bilang dirinya akan menunggu di mobil saja, kalau masuk untuk bantu-bantu tidak akan bisa karena keterbatasan kakinya, nanti malah makin merepotkan.


"Kamu sudah kemasin semua barangnya kan? Beneran gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Daffin mengingatkan lagi.


"Sudah kok gak ada, semalam aku sampai bergadang berkemas," jawab Elisa.


"Aku bantu bawain ke bawah ya barang-barangnya," ucap Daffin. Ia lalu membawa koper dan satu tas ransel berukuran sedang pergi dari sana.


Elisa lalu mengikutinya di belakang, hanya menggendong tas di belakang punggungnya. Mungkin jika hanya pulang liburan tidak akan sampai membawa semua barang, tapi kan Elisa mau pulang lama dan entah kapan akan kembali lagi.


"Kamu sudah pamitan juga kan sama Ibu kost?" tanya Daffin setelah menyimpan barang-barang di bagasi.


"Sudah kok, malahan Ibu kost ngasih kue, terus katanya kalau balik lagi harus nge kost di sini," jawab Elisa.


"Mereka baik-baik sama kamu, nanti kalau misal ke Jakarta lagi pindah kesini aja," kata Daffin. Karena Ia pun akan tenang dan tidak perlu khawatir dengan keselamatan sahabatnya ini.

__ADS_1


Elisa dan Daffin pun naik ke mobil, seperti biasa Elisa selalu di belakang karena ada Cynthia di depan. Dua perempuan itu sempat saling menyapa sambil membalas senyuman, tapi setelah itu terdiam canggung satu sama lain.


"Apa waktunya bakalan keburu sampai halte? Aku takut busnya keburu pergi," tanya Daffin sambil tetap fokus menyetir.


"Ya semoga aja keburu, masih ada setengah jam an lah," jawab Elisa sambil melihat jam tangannya.


"Maaf ya aku hampir lupa, padahal bilangnya bakalan jemput jam tiga an," ucap Daffin tidak enak.


"Gak papa." Hanya itu saja yang Elisa katakan. Ia mengerti, mungkin Daffin sedang menikmati waktu dengan Cynthia.


Elisa tidak bisa marah, toh dirinya bukan siapa-siapa. Daffin masih bisa menyempatkan waktu dengannya saja sudah membuat senang. Jadi ingat dulu saat Elisa punya pacar, sampai tidak memperdulikan Daffin karena terlalu bahagia sendiri.


Daffin berusaha mempercepat laju mobilnya, tapi tetap hati-hati walau jalanan agak lenggang. Kalau sampai tertinggal bus kan repot, harus mencari lagi tapi waktunya pasti akan lama. Untungnya mereka sampai tepat waktu di halte, dan langsung mencari bus tujuan.


"Huft untung aja sampai tepat waktu, tinggal lima menit lagi busnya pergi," ucap Elisa menghela nafas lega.


"Ya sudah sana naik, nanti aku minta kernet nya simpan barang-barang kamu di bagasi," perintah Daffin.


Elisa lalu berbalik menghadap pasangan kekasih itu, "Aku pulang ya, sampai bertemu lagi. Aku gak tahu kapan bakal ke Jakarta lagi, tapi semoga kalian selalu baik-baik saja," ucapnya berpamitan.


Suasana pun dalam sekejap berubah menjadi sedih, terlihat ketiganya seperti menahan tangis, tapi berusaha menahan.


"Kamu juga baik-baik di sana Elisa, jaga diri kamu dan selalu bahagia," balas Cynthia baru membuka suara, tangannya lalu terulur mengusap bahu perempuan itu.


"Kamu cepet sembuh ya Cynthia, semoga nanti pas aku kembali kamu sudah bisa jalan normal dan lepas tongkat, aku yakin kamu bisa," kata Elisa menyemangati dan membalas genggaman tangannya.


Elisa lalu beralih menatap Daffin, ingin sekali berhambur memeluknya tapi pasti akan tidak pantas karena pria itu sudah ada yang punya. Rasanya sedih sekali tidak bisa menggapai Daffin, tapi lagi-lagi semua karena kesalahannya sendiri.


"Aku pergi ya Daffin, aku pasti bakalan kangen banget sama kamu. Kalian saling menjaga ya." Setelah mengatakan itu, Elisa berbalik untuk naik ke dalam bis dengan air mata yang akhirnya menetes juga.

__ADS_1


__ADS_2