
Setiap hari Yoga selalu menyempatkan waktu untuk ke rumah Rania, ikut menjaga Daffin. Nenek Ima juga sudah pindah dan kini tinggal bersama Rania, kasihan juga perempuan itu kalau harus merawat bayinya sendirian.
"Aku beliin sesuatu untuk kamu dan Daffin," ucap Yoga terlihat bersemangat.
"Beli apa?" tanya Rania, pria itu kemarin ke luar kota ada urusan katanya.
Ada beberapa paperbag di atas meja, Rania pun membukanya satu persatu. Ternyata kebanyakan pakaian, entah untuk dirinya ataupun Daffin. Yoga membelikan dua daster cantik untungnya, sedang untuk Daffin ada beberapa setelan yang keren.
"Aku kirain oleh-olehnya makanan," ucap Rania.
"Aku juga beli kok, tuh di yang sebelahnya," jawab Yoga sambil menunjuk.
Rania menggeleng pelan, "Mas, ini terlalu berlebihan, " ucapnya.
"Berlebihan gimana? Apa kamu gak suka baju yang aku beli?"
"Bukan gitu, tapi kamu selalu beliin ini itu untuk aku maupun Daffin," jawab Rania meluruskan.
Yoga lalu membawa sebelah tangan Rania dan menggenggamnya, "Kan aku yang beliin, kamu juga gak minta. Aku ngerasa seneng aja kalau ngasih sesuatu untuk kamu."
Tetapi berbeda yang dirasakan Rania yang malah merasa tidak enak hati. Rania hanya tidak mau merepotkan, ya walau uang Yoga pasti banyak, tapi tetap saja Rania tidak suka kalau terlalu banyak dibelanjain barang.
"Kalau untuk Daffin aja gak papa, tapi Mas selalu beliin untuk aku juga," ucap Rania.
"Soalnya aku selalu bayangin kamu pakai baju itu, makanya aku beli, pasti kamu cantik," ujar Yoga sambil menyengir lebar.
Melihat balita merangkak keluar dari kamar, Yoga beranjak menghampiri dan langsung menggendongnya. Tidak terasa sekarang usia Daffin sudah enam bulan, sudah merangkak dan berceloteh dengan riangnya.
"Anak Papa baru bangun tidur ya?" tanya Yoga mengajak mengobrol.
Daffin hanya tertawa saja saat lelaki yang wajahnya familiar itu mengecup-ngecupi pipinya dan lehernya. Tawa bayinya yang khas selalu membuat siapa saja yang mendengar ikut terhibur.
"Papa beliin kamu baju loh, nanti dipakai ya, pasti ganteng." Yoga kembali duduk di sofa lalu menunjukan kepada Daffin.
Di usia balita yang tidak bisa diam-diamnya seperti ini, memang harus ekstra sabar dan siaga menjaga Daffin. Itulah kenapa Yoga selalu setiap hari ke rumah Rania, mungkin saja Rania kelelahan jadi giliran dirinya yang menjaga.
__ADS_1
"Pasti baju buat Daffin mahal ya," celetuk Rania. Setelan bajunya khas anak orang kaya sekali, modern.
"Enggak juga, biasa saja," jawab Yoga tanpa berniat mengucap harganya yang sebenarnya sampai jutaan.
"Oh iya aku lupa bilang sesuatu. Apa di pabrik ada lowongan kerja? Aku mau mulai kerja," tanya Rania, mungkin saja Yoga itu bisa membantu.
Yoga tersentak sendiri mendengar itu, "Siapa yang kerja? Kamu?"
"Iya," angguk Rania, "Aku ngerasa sudah siap untuk kerja, Daffin juga sudah gak terlalu kecil."
Selain itu hal utama yang mendorong Rania harus bekerja ya karena tabungannya sudah habis. Memang sebenarnya inginnya nanti setelah Daffin satu tahun, tapi ternyata kebutuhan hidupnya dan anaknya itu cukup banyak pengeluaran.
"Jangan bercanda, kalau kamu kerja terus siapa yang jagain Daffin?" tanya Yoga menolak.
"Ada Nenek, biar Nenek aja yang jagain Daffin. Kasihan Nenek juga kalau kerja, sudah tua."
"Kamu jangan kerja, sudah biar aku saja yang lengkapin biaya kehidupan kalian," ujar Yoga.
Rania langsung menggeleng, "Enggak Mas, aku gak mau!" tolak nya tegas.
"Bukan begitu, tapi Mas tidak seharusnya sampai mau menghidupi biaya hidup kami. Mas Yoga gak berhak dan gak pantas."
"Apa?"
"Mas aku harus bilang ini, tapi kita memang bukan siapa-siapa. Maksudnya, orang yang berhak Mas tanggung jawabi adalah keluarga Mas dan istri Mas Yoga," jelas Rania.
Yoga terdiam beberapa saat, tahu akan hal itu, "Tapi kan kamu juga sekarang tanggung jawab aku Rania," ucapnya pelan.
"Memang, tapi kita belum menikah."
Mendengar fakta itu langsung membuat Yoga merasa tertohok, tapi yang dikatakan Rania memang benar. sebenarnya surat perceraian sudah di berikan pada Candra dari beberapa bulan lalu, tapi sayangnya sampai sekarang tidak ada tanggapan juga.
Apa mungkin Candra tidak setuju berpisah dengan Rania?
"Aku jadi takut Rania," ucap Yoga dengan senyuman mirisnya.
__ADS_1
"Takut apa?"
"Aku takut perjuangan aku selama ini sia-sia. Bagaimana kalau Pak Candra tidak mau melepaskan kamu pergi? Berarti aku yang harus pergi ya?" tanya Yoga sedih.
Melihat tatapan sendu itu, membuat Rania tidak tega, "Enggak akan, Mas yang sabar ya."
Rania yakin Candra memikirkan ini baik-baik, lagi pula kalau secara agama sebenarnya Ia dan pria itu sudah sah berpisah. Hanya memang harus dengan secara negara juga agar lebih meyakinkan. Rania juga agak bingung kenapa sampai saat ini tidak ada tanggapan dari sana.
"Kabar terakhir yang aku dengar dari Pak Candra, katanya dia sudah berhasil sembuh dari lumpuhnya. Ya walaupun masih harus dibantu tongkat jalan," ujar Yoga memberitahu.
"Syukurlah kalau Mas Candra semakin baik." Rania juga harap pria itu bisa berjalan normal seperti dulu sebelum kecelakaan.
Ternyata kecelakaan beberapa bulan lalu itu cukup buruk, karena Candra sampai lumpuh tidak bisa berjalan. Rania merasa kasihan sendiri, tapi hanya bisa memendam karena sudah lost kontak juga. Tetapi Rania tahu Candra adalah lelaki yang pantang menyerah, untuk sembuh dari lumpuhnya pasti tidak mudah.
"*****," celoteh Daffin sambil merentangkan tangannya pada Rania.
Yoga mengecup sekilas pipi gembul anak itu, "Dasar kamu itu minum cucu terus, nanti makin gendut," ledek nya.
Yoga pun memberikan Daffin pada Rania, sepertinya Daffin masih ngantuk dan ingin kembali tidur. Yoga lalu beranjak ke kamar untuk menyimpan barang-barang. Sampai saat ini pun Yoga tidak lancang menonton Daffin saat minum asi dari Rania.
"Nek Ima kemana? Kok gak kelihatan," tanya Yoga baru sadar setelah melihat rumah.
"Nenek lagi ke rumahnya, katanya ada tetangga yang mau hajatan. Malam ini mungkin gak akan di sini, jadi aku di rumah cuman berdua sama Daffin," jawab Rania dari arah sofa.
Sebelah sudut bibir Yoga terangkat, "Mau aku temenin gak?" tawarnya.
"Itu mah mau kamu, tapi sayangnya gak bisa karena kita bukan muhrim. Nanti tetangga malah curiga lagi kaya waktu itu," tolak Rania mentah-mentah.
Yoga hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar itu. Sudah berapa kali menawarkan diri tetap saja selalu ditolak. Rasanya Yoga gemas sekali ingin menemui Candra langsung memintanya secepatnya mengurus perceraiannya dengan Rania.
"Tapi emangnya kamu gak akan kenapa-napa cuman berdua sama Daffin?" tanya Yoga.
"Gak papa, aku sudah biasa kok. Inget ya, sekarang Daffin bukan bayi lagi." Kata Rania.
"Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa kabari aku ya."
__ADS_1
"Iya."