
Di meja itu terasa canggung sekali, empat orang di sana mencoba fokus dengan makanannya masing-masing sambil melirik satu-sama lain.
"Daffin aku pengen nyobain minuman kamu ya?" pinta Elisa, tanpa meminta persetujuan mengambil jus milik Daffin begitu saja.
Daffin pun tidak masalah, pria itu malah melirik Cynthia yang duduk di sebelahnya. Melihatnya yang terlihat kesusahan memotong daging, Daffin pun mengambil alih piringnya.
"Kalau misal butuh bantuan gak usah sungkan bilang, pasti aku bantuin kok," ucap Daffin tanpa menatap, sedang memotong-motong daging itu menjadi potongan kecil agar mudah.
"Makasih," kata Cynthia pelan sambil tersenyum.
"Sama-sama, gak usah sungkan," ujar Daffin sambil membalas senyumannya.
Elisa yang memperhatikan interaksi dari dua orang itu, membuat dadanya terasa panas. Ia pun berdehem pelan, membuat Daffin akhirnya menatapnya.
"Daffin jus punya kamu enak, gantian ya sama punya aku," pinta Elisa membujuk.
"Bukannya kamu suka jus alpukat ya?" tanya Daffin, tumben sekali mau diganti dengan miliknya.
"Yang sekarang kurang enak jus alpukat nya, lebih enak jus jambu punya kamu. Gak papa kan?" Elisa menunjukan ekspresi imutnya agar pria itu luluh.
Dengan helaan nafas berat, Daffin pun mengangguk memberikan. Ia lalu mengambil jus alpukat milik Elisa yang tinggal setengahnya lagi. Aneh sekali, Elisa bilang tidak enak tadi.
Saat sedang makan Daffin pun merasa Elisa itu terus menatapnya dengan senyuman manis, membuat Daffin bingung sendiri dan membalas tatapannya bingung.
"Kamu gak makan Elisa?" tanya Daffin di sela kunyahan nya.
"Hah? Oh iya sanking terlalu fokus lihat kamu jadi lupa gak makan hehe," kata Elisa sambil tertawa kecil.
Dan Elisa pun mulai memakan spaghetti pesanannya tadi, sambil tetap menatap Daffin di depannya. Tentu saja Elisa sadar di perhatikan Cynthia dan Satria, baguslah mungkin saja dua orang itu jadi cemburu.
Elisa lalu menyumpit sedikit spaghetti nya, lalu Ia sodorkan pada Daffin. Pria itu sempat menggeleng seolah menolak, tapi karena terus Ia paksa akhirnya Daffin menerima juga suapannya.
"Ukhuk!" Cynthia tiba-tiba tersedak.
Daffin pun segera membawa jus nya lalu memberikan pada Elisa, tapi perempuan itu malah menolak dan meminum air putihnya sendiri. Daffin lalu menepuk-nepuk punggungnya.
__ADS_1
"Kamu gak papa? Makannya pelan-pelan," tegur Daffin.
"Ini juga sudah pelan," jawab Cynthia. Ia hanya terkejut dengan sikap Elisa itu yang terlihat jelas sekali sedang mendekati Daffin. Maksudnya apa?
Entah kenapa, Cynthia merasa tidak suka saja melihat kedekatan mereka. Hatinya merasa sakit, jangan bilang Ia cemburu? Tidak mungkin, bantah nya di dalam hati.
"Aku mau ke kelas sekarang," ucap Cynthia pelan. Kalau bisa Ia ingin pergi sendiri, tapi apalah daya kakinya kan lumpuh.
"Memangnya sudah kenyang makannya? Tinggal sedikit lagi loh," tanya Daffin memastikan.
Cynthia sudah tidak nafsu makan lagi saat melihat Elisa yang bersikap kecentilan begitu pada Daffin. Padahal tadi Ia enak sekali makan, tapi dengan mudah moodnya berubah.
"Ya sudah kalau gitu aku anter kamu ke kelas ya," ucap Daffin lalu berdiri dari duduknya.
Tidak lupa Daffin berpamitan pada dua temannya itu, lalu mendorong kursi roda Cynthia pergi dari sana. Sepanjang perjalanan mereka tidak mengobrol. Daffin merasa canggung melihat Cynthia yang banyak diam begitu.
Untung saja lift di Kampus sudah di perbaiki, jadi Daffin lebih mudah mengantar perempuan itu ke kelasnya di lantai atas. Walau sebenarnya Daffin juga tidak masalah kalau harus menggendong Cynthia.
"Daffin, kamu yakin Elisa gak ada perasaan apapun sama kamu?" tanya Cynthia tiba-tiba.
"Tapi kayanya sekarang perasaan dia sudah berubah. Mungkin sekarang Elisa sudah ada perasaan sama kamu, gue sebagai perempuan bisa lihat itu," ujar Cynthia sambil menahan pahit.
Daffin terdiam beberapa saat mendengar itu, sepertinya Cynthia pun menyadari perubahan dari Elisa. Daffin memang sudah tahu penyebab sahabatnya itu berubah, tapi ternyata Cynthia sangat peka.
Lamunan pria itu terhenti saat pintu lift terbuka, Ia pun segera mendorong kursi roda Cynthia keluar dan menuju kelasnya. Lagi-lagi mereka terdiam, merasa bingung harus mengobrol apa. Kalau topik tentang tadi, rasanya tidak nyaman.
"Daffin," panggil Cynthia saat pria itu akan pergi.
"Ya, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Daffin.
Cynthia terlihat menggigit bibir bawahnya, seperti merasa ragu untuk mengatakan ini. Tetapi karena terlalu gugup, akhirnya perempuan itu menggeleng tidak jadi menanyakan.
"Ada apa Cynthia, katakan saja, " bujuk Daffin baik-baik.
"Tidak ada kok," bantah nya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu aku ke kelas dulu ya. Nanti pulang kuliah aku kesini lagi jemput kamu, jangan dulu ke mana-mana."
"Iya," angguk Cynthia menurut.
Daffin berjalan dengan pelan pergi dari sana, matanya terlihat kosong seperti tidak fokus. Akhir-akhir ini Ia memang sedang memikirkan banyak hal, dan itu sangat mengganggunya.
Daffin tersentak saat ada seseorang memeluk tangannya, Ia pun repleks melepaskan diri dan menjauh. Tetapi saat melihat orang nya, Daffin terlihat terkejut.
"Daffin, kenapa?" tanya Elisa, tadi merasa sedih saat pria itu menolaknya.
"Seharusnya aku yang tanya begitu, kamu yang kenapa Elisa?" tanya Daffin balik.
"Maksudnya?" Elisa sampai memiringkan kepalanya tanda bingung.
"Aku merasa akhir-akhir ini kamu sedikit berubah," gumam Daffin pelan.
Elisa lalu tertawa kecil, "Haha berubah gimana sih? Aku kan memang begini Daffin," katanya.
"Enggak, dulu kita gak sedekat ini. Mau kamu atau aku, kita sama-sama selalu menjaga batasan, kan?"
Elisa langsung terdiam mendengar itu, senyuman di bibirnya pun perlahan menghilang. Haruskah Ia katakan semuanya pada Daffin? Tetapi Elisa malu.
"Apa ini terjadi karena ada sangkut pautnya dengan Satria? " tanya Daffin yang sudah tidak bisa menahan diri.
"Apa maksud kamu?" Elisa terlihat terkejut saat Daffin menyebut nama lelaki itu.
Kini giliran Daffin yang terdiam, merasa bingung harus menjelaskan bagaimana karena khawatir menyinggung perasaan Elisa. Daffin tidak mau membuatnya sakit hati, ya walau Ia juga tidak akan berbohong.
"Sebenarnya kalau boleh jujur, aku tidak terlalu suka dengan suasana seperti ini," ujar Daffin dari dalam hati. Memilih mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Suasana apa?" Elisa menunggunya dengan dada berdebar, padahal sudah bisa Ia simpulkan.
"Aku gak mau dibilang kepedean, tapi aku ngerasa kamu akhir-akhir ini memang selalu berusaha mendekati aku, kontak fisik. Alasan kamu itu, bukan karena ada sesuatu kan?"
Pertanyaan Daffin mampu membuat Elisa merasa tertohok, sampai membuatnya kembali menundukan kepala merasa malu. Entahlah apa Daffin sudah tahu yang sebenarnya atau belum, tapi Elisa inginnya Daffin tidak usah tahu kenapa Ia jadi begini.
__ADS_1