
Rania terbangun dari tidurnya karena mendengar ketukan pintu rumahnya yang berulang kali, diikuti teriakan yang memanggilnya untuk keluar. Merasa ada sesuatu yang mengganjal, Rania pun segera mengeceknya.
Baru saja membuka pintu rumahnya, Rania terkejut melihat beberapa warga yang menyeruduk nya dan memarahinya. Rania sempat terdiam tidak mampu berkata-kata sanking terkejutnya.
"Dimana laki-laki itu? Dia semalam menginap kan di sini?" tanya seorang pria berkumis.
"Wah neng Rania kita gak nyangka neng melakukan zina, neng Rania kan sudah menikah dengan Pak Candra dan sekarang sedang hamil. Berani sekali selingkuh," ucap seorang Ibu-Ibu dengan nada sinis nya.
Mendengar itu membuat Rania menggeleng cepat, "Maaf Pak Bu, ini sebenarnya ada apa sih?" tanyanya.
"Sudahlah tidak usah sok polos begitu, kami itu sudah merhatiin neng Rania dari dulu. Selalu ada laki-laki yang main ke rumah kan? Kalian ngapain aja?" tanya mereka sinis.
"Bapak dan Ibu jangan menuduh saya sembarangan, saya dan dia hanya berteman kok. Kami juga tidak melakukan tindakan asusila yang seperti kalian tuduhkan itu," kata Rania membela diri.
"Halah sudah lah tidak usah mengelak, masa di dalam rumah berduaan bukan muhrim gak ngapa-ngapain."
"Kayanya Pak Candra belum cukup, padahal dia kan orang kaya dan ganteng. Memang dasar dianya aja gatel," sahut yang lain semakin memojokan.
Di saat Rania tidak tahu harus menjelaskan apalagi, Yoga malah baru keluar dan menghampiri. Pria itu bahkan menguap lebar, dengan wajah bantal khas bangun tidur. Tatapan Yoga memicing melihat banyak orang pagi itu di depan rumah.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Loh jadi selingkuhan neng Rania itu Pak Yoga? Tapi kan Pak Yoga ini tangan kanannya Pak Candra, kok bisa?"
Mereka pun kembali berbisik merasa terkejut mengetahui jika ternyata lelaki yang sering datang berkunjung ke rumah Rania adalah Yoga. Pria itu sangat terkenal di desa karena menjadi kepercayaan Pak Candra mengurus perkebunannya.
"Selingkuhan?" tanya Yoga bingung.
"Iya, kamu dan neng Rania selingkuh kan?" tanya seorang Ibu-Ibu.
__ADS_1
"Pak Yoga ini kenapa berkhianat? Pak Candra kan bos kamu, kok bisa-bisanya malah main sama istrinya."
Sekarang Yoga sudah mengerti kenapa banyak warga pagi ini yang datang, mereka merasa curiga dan sialnya lagi Yoga malah sedang menginap. Yoga lalu melirik Rania, merasa khawatir dengan keadaan perempuan itu yang pasti merasa tertekan.
"Kalian itu selalu menyimpulkan sendiri, pikiran kalian itu terlalu kolot," ledek Yoga blak-blakkan.
Terlihat para warga pun terkejut dikatai seperti itu, tapi memang sih mereka berenam yang ada di sana sudah berumur. Tetapi siapa juga yang tidak curiga coba? Mereka kan hanya berjaga-jaga saja.
"Aku dan Rania hanya berteman, kalaupun kalian berpikir kami selingkuh sampai melakukan hal aneh-aneh di rumah kalian sudah fitnah," lanjut Yoga.
"Bohong, kalian sedang mengelak kan sekarang?" tanya mereka belum percaya.
"Sekarang saya tanya, memangnya kalian tahu apa yang sering saya lakuin dengan Rania di dalam rumah? Jangan-jangan kalian suka mengintip ya?" tuduh Yoga.
"Kami tidak mengintip, tapi kami sering memperhatikan kalau Pak Yoga ini hampir setiap hari selalu kesini."
Yoga menghela nafasnya berat, "Saya kesini karena kasihan pada Rania. Dia itu sedang hamil besar dan tinggal sendirian, sedangkan suaminya sudah tidak peduli pada dia dan bayinya," katanya.
Rania pun ikut terkejut mendengar itu, Ia sempat memanggil nama Yoga pelan tapi pria itu hanya mengangguk pelan seolah harus percaya kepadanya. Apakah Yoga akan mengatakan semuanya?
"Yang kalian tahu itu Rania masih jadi istri Pak Candra, kan? Kalian itu memang ya terlalu ikut campur sekali masalah orang lain. Baiklah karena kalian merepotkan, jadi saya harus menjelaskan saja agar tidak salah paham lagi."
"Kalau kalian baru tahu, Rania dan Pak Candra itu sudah tidak bersama. Saya mendekati Rania bukan bermaksud merebut atau berkhianat pada atasan saya itu, tapi kan mereka juga sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi intinya sekarang Rania sudah tidak terikat pernikahan. Mengerti?"
Rania menggigit bibir bawahnya merasa gugup setelah Yoga menceritakan itu kepada para warga. Saat merasakan punggungnya ditepuk pelan, membuat Rania kembali mengangkat kepala menatap Yoga. Pria itu tersenyum tipis seolah berusaha menenangkannya.
"Jadi neng Rania dan Pak Candra sudah cerai?" tanya salah seorang mewakilkan.
Dengan pelan Rania pun mengangguk, lebih baik Ia jelaskan saja sekarang karena Rania juga tidak mau terus dipojokkan seperti tadi. Mungkin dengan cara inilah bisa membuat mereka tidak menuduhnya ini itu.
__ADS_1
"Kok bisa sih neng Rania cerai sama Pak Candra? Padahal kan Pak Candra itu sempurna. Sudah mapan, kaya, baik lagi," sindir seorang Ibu-Ibu di belakang.
Yoga mendengus, "Hei kalian itu gak ada yang tahu bagaimana sifat asli Pak Candra, seseorang kan harus menunjukan sifat yang paling baik di depan saja," ucapnya.
"Memangnya Pak Yoga tahu sifat Pak Candra?" tanyanya.
"Enggak, tapi dia bos yang baik," jawab Yoga jujur.
"Lalu kenapa sekarang Pak Yoga malah ingin mendekati mantan istri bos anda itu?"
"Aduh Bapak-bapak sama Ibu-Ibu ini kepo banget ya, ini kan masalah hati saya. Masa saya harus jelasin juga ke kalian, emangnya kalian siapa?" tanya Yoga menohok.
Terlihat para warga pun langsung menunduk malu mendengar itu, baru kali ini pun mendapatkan sikap ketus dari Yoga yang selama ini selalu ramah pada setiap orang. Mereka tahu sekarang Yoga itu sedang menahan marah, tapi berusaha ditahan.
"Sebenarnya tindakan kalian ini sangat mengganggu dan melanggar privasi, saya bisa laporkan kalian," ujar Yoga serius.
"Loh jangan begitu dong Pak, kami kan hanya berjaga-jaga saja," bela seorang Bapak-Bapak.
"Tapi kalian ini sampai mengganggu kenyamanan orang lain, bisa juga menggunakan pasal pencemaran nama baik. Kalian pasti sudah cerita juga kan pada orang lain?"
"Tidak kok," bantah mereka bersamaan, terlihat raut panik itu. Merasa takut benar dilaporkan karena Yoga itu kan banyak uang.
"Baiklah kita lihat nanti, apa tuduhan kalian itu sudah tersebar ke yang lain atau belum. Sekarang saya masih maafkan, tapi saya gak mau kalian datang ramai-ramai begini lagi melabrak Rania!" tegas Yoga.
Para warga pun terpaksa mengangguk lalu berbalik untuk pulang, mereka merasa tidak berdaya melawan Yoga yang punya kekuasaan itu. Selain itu juga mereka tidak punya bukti jika benar mereka melakukan hal aneh-aneh.
"Rania maaf ya," ucap Yoga tidak enak, semua salahnya.
"Sebaiknya kamu pulang," kata Rania tanpa menatap.
__ADS_1
"Tapi--"
"Aku masuk dulu." Rania pun melenggang pergi dari sana dengan perasaan campur aduk nya.