Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Diperingati


__ADS_3

Melihat Rania yang terlihat asik menanam di kebun miliknya di temani mbak Tati, membuat Amara yang melihatnya tersenyum sendiri. Mungkin jika Candra melihat istrinya itu kotor-kotoran seperti ini, pasti akan rempong seperti tadi. Mengingat cucunya itu, membuat Amara beranjak untuk mencari. Dan kebetulan sekali, mereka bertemu di dekat tangga.


"Oma dari mana?" tanya Candra.


"Dari halaman belakang," jawabnya.


"Lihat Rania tidak?" Candra terlalu fokus teleponan, sampai tidak sadar istrinya itu menghilang dari kamar.


"Dia di belakang sedang asik menanam sayuran." Saat Candra akan pergi, segera Amara cegah, "Sudah biarkan saja, lagian Rania tidak panas-panasan kok."


"Oma dia kan sedang hamil, jangan terlalu kelelahan," ucap Candra.


"Kamu terlalu berlebihan Candra, jangan terlalu mengekang Rania ini itu, kasihan dia. Pasti kalau kamu perintah apapun dia akan selalu menurut, Oma harap kamu juga tidak mempermainkan dia lagi."


"Apa maksud Oma?" tanya Candra bingung.


Amara lalu menariknya duduk di sebuah sofa yang tidak terlalu jauh dari sana. Kebetulan nya lagi berhadapan dengan sebuah dinding kaca yang bisa melihat ke halaman belakang. Di sana Rania masih asik berjongkok di tanah melakukan pekerjaannya, mbok Tati pun setia menemaninya.


"Oma sudah dengar semuanya dari Rania," ucapnya dengan helaan nafas berat.


Tiba-tiba perasaan Candra jadi tidak enak setelah mendengar itu, "Memangnya apa yang dia katakan pada  Oma?"


"Saat dengar kamu dulu akan menikah kedua kalinya dengan alasan tidak sengaja memperkosa dia sampai hamil, sebenarnya saat itu Oma sudah kecewa pada kamu. Tapi melihat kamu yang mau bertanggung jawab menikahi, Oma perlahan sudah memaafkan kamu lagi. Hanya saja kali ini Oma kembali kecewa karena ternyata ada hal lebih parah yang kamu sembunyikan." Suara Amara terdengar serius sekali.


"Apa?"


"Kenapa kamu bohongi Rania? Kenapa kamu gak cerita kalau sebelumnya kamu sudah menikah?"


"Ternyata benar dugaannya." Batin Candra.


"Aku pikir kalau bilang dia tidak akan mau, lalu bagaimana dengan bayi itu?"

__ADS_1


"Jadi kamu sangat membutuhkan bayi itu? Oma sudah duga dari awal."


Candra kali ini yang menghela nafas berat, "Oma tahu sendiri aku kesulitan punya keturunan dari Livia karena dia mandul, saat Rania hamil aku yakin itu anak aku. Aku gak mau menyia-nyiakan dia, aku pikir ini jalan yang Tuhan berikan."


"Hah lucu sekali dugaan kamu itu Candra, kamu terlihat konyol sekarang," dengus Oma nya sambil tertawa sinis, "Tapi kamu mendapatkan keturunan dengan kejadian buruk begitu, sudah menghancurkan masa depan Rania. Dia masih muda, tapi kamu sudah bohongi seperti ini."


"Tapi aku juga bertanggung jawab Oma, dengan menikahi dia, itu berarti masa depannya sudah terjawab sekarang. Sekarang aku sangat menjaga bayi itu, semoga saja dia menjadi calon penerus ku nanti." Candra tahu Ia salah, tapi kan Ia sudah menebus kesalahannya itu juga.


"Kasihan Rania, bagaimana kalau dia tertekan dalam pernikahan kamu?" tanya Oma nya.


"Itulah, aku akan selalu menjaga perasaan dia agar dia pun nyaman dan tidak terlalu banyak pikiran di sini." Walaupun terkadang perasaannya campur aduk saat bersama Rania, tapi Candra selalu berusaha bersikap baik untuk menjaga mental perempuan yang sedang hamil itu.


"Lalu bagaimana dengan Livia?" tanya Oma nya baru mengingat perempuan itu.


"Dia tidak kenapa-napa, dia juga baik-baik saja," jawab Candra tanpa ragu.


"Bagaimana reaksi dia saat kamu meminta izin untuk menikah lagi?"


Amara terdiam dengan tatapan kosong memikirkan Livia. Istri dari Candra yang satu itu kepribadiannya sangat sulit di tebak, tapi Amara yakin jika sebenarnya Livia pasti berat untuk memutuskan ini. Bukan hanya pada Rania seharusnya Amara meminta maaf, tapi pada Livia juga.


"Walaupun sekarang Oma yakin kamu lebih mementingkan Rania dan bayinya, tapi Oma harap kamu jangan sampai mengabaikan Livia ya. Dia itu memang selalu bersikap tenang di setiap kondisi, tapi Oma yakin dia pasti tetap butuh perhatian dari kamu," nasihat nya.


"Iya Oma."


Setelah percakapan lumayan panjang dengan Oma nya itu, Candra pun menghampiri Rania di belakang. Dengan mudah perempuan itu menyadari kehadirannya, Rania repleks berdiri dan menatapnya gugup. Perempuan itu terlihat lucu sekali, seperti seorang anak yang ketahuan main kotor-kotoran.


"Sudah mainnya?" tanya Candra.


"Aku gak main Mas, tadi habis nanam sayuran," jawab Rania polos meluruskan.


"Ya pokoknya itu lah."

__ADS_1


"Sudah kok."


Sebelah tangan Candra terangkat lalu mengusap noda tanah di kening Rania, perempuan itu tidak menyadarinya karena tidak terlihat. Candra bahkan bisa merasakan kening itu sedikit lembab, sepertinya berkeringat.


"Kamu ini kenapa nakal sekali Rania?" tanya Candra gemas dengan suara tertahan.


"Nakal bagaimana Mas? Maaf ya Mas kalau aku aneh-aneh atau buat Mas marah." Rania menunduk khawatir dimarahi, tapi perempuan itu tidak mengerti dengan sikapnya yang membuat suaminya itu kesal.


"Aku kan sudah bilang jangan cape-capean, tapi kamu selalu aja melakukan hal yang aku larang itu," ucap Candra menjelaskan.


"Tapi menanam gak cape kok, tadi bantu masak juga enggak. Semua itu kesukaan aku." Rania mencoba membela diri, Candra sendiri kan tahu dulu Ia mantan pembantu.


"Tapi kan kamu bisa habisin waktu dengan kegiatan lain yang lebih santai. Misalnya nonton tiktok atau youtube di ponsel gitu?" Bukankah orang lain malah ingin bersantai seperti itu? Kenapa Rania ini berbeda sekali.


"Oh itu, anehnya aku gak terlalu bisa lama-lama main HP Mas," jawab Rania sambil tersenyum canggung.


Candra hanya menggelengkan kepala mendengar itu, benar-benar di luar pikiran sekali Rania itu. Tetapi Candra juga mengerti, mungkin karena Rania dulu hanya orang biasa dan tidak terbiasa akan hal seperti itu. Tetapi kan sekarang perempuan itu statusnya sudah berubah, Rania benar-benar menyiakan kesempatannya menjadi kalangan atas.


"Ya sudah mending sekarang kamu mandi, sebentar lagi kita pulang ke Jakarta," perintah Candra.


"Aku kira kita akan pulang nanti malaman."


"Enggak, aku takut terlalu kecapean di jalan. Satu jam lagi kita berangkat." Lagi pula besok Candra bekerja, jadi jangan sampai kelelahan di perjalanan dan membuatnya besok drop.


"Iya Mas, kalau gitu aku mandi dulu terus mau beres-beres barang."


"Iya."


Candra sendiri tidak ikut masuk dan mengintili Rania, Ia malah duduk di sebuah bangku kayu lalu mencari nomor Livia di ponselnya. Hampir lupa dari kemarin belum sempat menghubungi istri pertamanya itu. Candra ini memang keterlaluan sekali, baru ingat setelah dinasehati Oma nya tadi.


"Gak diangkat, apa dia lagi sibuk ya? Atau dia ngambek?" gumam Candra. Tetapi sepertinya tidak mungkin Livia ngambek, istrinya yang satu itu tidak suka mengekspresikan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2