
Dari sepulangnya mengantar Elisa, sepanjang perjalanan Daffin terlihat diam dan fokus menyetir. Cynthia sesekali melirik kekasihnya itu, apakah Daffin sedang merasa sedih karena ditinggal Elisa?
"Kamu mau sesuatu dulu? Jajan mungkin?" tanya Daffin tiba-tiba.
"Em terserah sih, kamu emangnya laper ya?" tanya Cynthia balik.
"Kita jajan dulu yuk, terus nyantai dulu gitu lihat matahari terbenam," ajak Daffin.
"Boleh," angguk Cynthia tidak masalah.
Mereka pun berhenti sebentar di Mini market membeli beberapa cemilan dan minuman. Cynthia juga ikut turun, karena Daffin takut salah beli dan malah beli cemilan yang tidak disukainya.
Ternyata mencari tempat ngadem untuk sunset itu tidak sulit, mereka kembali ke danau tempat yang cukup banyak kenangan, tempat saat mereka mengutarakan perasaan masing-masing. Ternyata di sana masih sepi, tidak ada siapapun.
"Daffin, ini beneran bukan tempat punya kamu kan?" tanya Cynthia merasa belum yakin.
"Beneran bukan kok, ini tempat umum. Sayang banget ya gak banyak orang yang tahu di sini, padahal tempatnya enak buat ngadem," jawab Daffin.
"Iya bener, jarang banget di Jakarta ada tempat santai yang sepi begini. Terus dari mana kamu tahu tempat bagus ini?"
"Hehe aku di kasih tahu temen, katanya dia juga pernah kesini. Lucunya dia waktu itu juga nembak pacarnya di sini, jadi aku ngikutin deh." Daffin terlihat tersenyum polos saat menceritakan ini.
Cynthia ikut tersenyum, "Haha dasar, jadi kamu dapet ide gitu? Pinter juga ya kamu."
Mereka lalu memutuskan duduk di bangku panjang di sisi danau, menyimpan kresek berisi belanjaan di tengah untuk dinikmati. Terlihat sore ini langit sangat indah dengan warna jingga nya, walau matahari tidak terlihat dari tempat itu.
"Inget banget waktu itu kita malah kehujanan, padahal suasananya lagi romantis-romantisnya ya," celetuk Daffin kembali nostalgia.
"Tapi aku malu waktu itu," gumam Cynthia sambil mengerucutkan bibir.
"Malu kenapa?" Daffin sampai menghentikan minum mendengar itu.
"Malu soalnya nangis hehe, pasti aku kelihatan cengeng ya? Huft habisnya waktu itu aku tuh gak nyangka aja kamu nyatain perasaan," jawab Cynthia jujur.
__ADS_1
Daffin lalu merangkul Cynthia membuat perempuan itu mendekat dan bersandar padanya, "Aku malah terharu lihat reaksi kamu waktu itu sampai nangis. Kamu bukan cengeng, tapi kamu orangnya perasa."
Mungkin jika orang lain pertama bertemu Cynthia, langsung bisa menyimpulkan jika perempuan itu cukup dingin dan sombong. Tetapi jika sudah dekat, pandangan itu langsung berubah. Daffin sendiri yang merasakan.
"Oh iya kamu sudah minta maaf kan sama Mama kamu?" tanya Daffin mengalihkan obrolan.
"Sudah kok dari beberapa hari lalu juga, malahan Mama duluan yang ngajak ngobrol. Dia minta maaf juga sama aku, terus kita sama-sama nangis deh," cerita Cynthia.
"Bagus, itu baru pacar aku. Kita gak perlu ninggiin ego sama orang tua, lebih baik diungkapkan saja dari pada menyesal," kata Daffin.
Cynthia lalu tertawa kecil sambil meregangkan pelukan, "Setelah aku perhatikan, kamu ini orangnya bijak banget ya."
"Masa sih?"
"Iya, suka ngasih semangat juga ke setiap orang. Hm kayanya kamu bisa nih jadi psikiater atau guru juga," ucap Cynthia.
"Sayangnya enggak bisa, karena Papa minta aku jadi pengusaha. Aku bener-benar harus jadi pengganti dia nanti setelah pensiun, menjadi CEO pengganti di perusahaannya," jawab Daffin sambil tersenyum.
Mendengar itu membuat Cynthia tersenyum dengan tatapan berbinar nya. Ia selalu bangga pada Daffin, apalagi yang calon pengusaha. Tetapi senyuman Cynthia tidak bertahan lama, perempuan itu jadi murung.
"Kamu kenapa? Pasti ada yang lagi dipikirin kan?" Biasanya kalau pacarnya sudah diam, pasti ada sesuatu.
"Daffin, aku cuman ngerasa gak pantas aja sama kamu," ucap Cynthia merendah.
"Kenapa bilang gitu?" protes Daffin.
"Kamu tuh sempurna Daffin dari segala apapun. Apalagi keluarga kamu kaya raya, orang berada. Sedangkan aku? Aku cuman orang biasa, dan kayanya gak pantes untuk kamu," jawab Cynthia jujur. Inilah yang membuatnya insecure.
Saat Daffin menggenggam tangannya yang ada di pangkuan, membuat Cynthia kembali menatapnya memelas. Terkadang perbedaan kasta memang selalu menjadi penghalang juga, makanya orang selalu bilang untuk mencari pasangan yang setara.
"Aku gak pernah masalahin itu Cynthia, aku tulus sama kamu. Lagian kamu juga nanti kalau sudah nikah jadi Ibu rumah tangga, biar aku aja yang cari uang," kata Daffin.
"Ish apaan sih Daffin? Kok sudah bahas rumah tangga?" Cynthia sampai tergelak sendiri, sepertinya pria itu sedang berusaha menghiburnya.
__ADS_1
"Ya makanya gak usah dipikirin, lagian nanti kamu juga ikut sama aku."
Memang sih jodoh itu tidak ada yang tahu, mereka juga masih bisa dibilang remaja karena belum masuk kepala dua. Tetapi setiap pasangan, pasti selalu berpikir untuk bersama sampai sejauh itu.
"Daffin, aku mau cerita sesuatu. Ini tentang Om Candra," ucap Cynthia memutuskan cerita.
"Ada apa sama Papa?" tanya Daffin bingung.
"Minggu kemarin pas pertama kali kamu ajak aku ke rumah kamu, aku sempet ketemu sama Papa kamu. Pas kamu lagi ke kamar, dan aku ditinggal sendirian di ruang keluarga," jawab Cynthia.
"Iya lalu apa? Kalian sempat ngobrol? "
"Hm," angguk Cynthia, "Kami ngobrolin kamu."
"Hah aku?"
Cynthia terlihat terdiam beberapa saat, seperti sedang bergulat dengan hatinya. Jangan salah paham, Ia menceritakan ini bukan sedang mengadu ataupun mencari belas kasihan Daffin.
"Kayanya Papa kamu cukup ragu sama aku, dia mungkin takut orang setulus kamu di manfaatkan," lanjut Cynthia.
"Dia bilang langsung begitu sama kamu?" Daffin sampai terkejut sendiri, Papanya memang se blak-blakkan itu ya?
"Mungkin dia cuman takut aku pura-pura cinta sama kamu dan manfaatin kamu karena ingin sesuatu. Tapi aku sudah jelaskan pada Papa kamu, kalau aku tulus kok cinta sama kamu, " jawab Cynthia meluruskan.
"Lalu apa tanggapan Papa?" tanya Daffin menunggu.
"Dia bilang akan pegang janji aku, dia juga mungkin akan lihat sejauh apa kita bisa bersama."
Daffin terlihat menghela nafas berat, "Maaf ya Cynthia kalau Papa sempat nuduh kamu begitu," ucapnya tidak enak.
"Gak papa Daffin, aku mengerti bagaimana perasaan Papa kamu, dia orang tua kamu. Dia cuman mau yang terbaik untuk kamu, ya semoga saja hubungan kita selalu baik-baik saja."
"Iya," angguk Daffin lalu membalas senyumannya.
__ADS_1
Sebenarnya Daffin agak kesel dengan Papanya karena sudah menuduh Cynthia, Ia sendiri yakin kok pacarnya ini memang tulus mencintainya. Daffin juga akan membuktikan pada Papanya itu, kalau mereka akan selalu baik-baik saja.