
Mungkin jika Daffin masih bayi, Rania akan cukup kerepotan menjaganya sendiri. Tetapi anaknya itu sekarang sudah enam bulan, tumbuh menjadi balita yang sehat dan tampan. Jujur saja setiap melihat wajahnya, tidak ada miripnya sedikit pun dengan Rania.
Tok tok!
Ketukan pintu di malam hari, membuat Rania bingung. Ia melirik jam di dinding yang menunjukan pukul sembilan malam. Apakah itu Neneknya? Atau Mas Yoga? Rania keluar dari kamar untuk membukanya, dan betapa terkejutnya Ia melihat tamunya malam itu.
"Kalian.. " Rania sampai tidak bisa berkata-kata melihat dua orang itu.
"Hai Rania, maaf mengganggu waktu kamu. Bagaimana kabar kamu?" tanya Livia.
"A-aku baik, tunggu ini bukan mimpi kan?"
Mendengar Candra tertawa kecil, membuat Rania kembali melirik pria itu. Sepertinya Candra tertawa karena Rania menganggap berkhayal. Jika di perhatikan pria itu terlihat banyak berubah, agak lebih kurus dan berjalannya masih dibantu kruk.
"Menurut kamu?" tanya Candra.
"Sepertinya bukan," gumam Rania pelan.
Dengan perasaan berdebarnya, Rania lalu mempersilahkan dua orang itu masuk ke dalam rumahnya. Rania juga membawakan minuman hangat, mungkin mereka kedinginan. Rania lalu duduk di kursi berhadapan dengan Livia dan Candra.
"Maaf ya datang tiba-tiba, apalagi malam begini," ucap Livia kembali memulai obrolan.
"Tidak apa, tapi ya aku sedikit terkejut," sahut Rania jujur.
"Candra terus memaksa ingin kesini, padahal aku bilang pada dia untuk menunggu sampai kakinya sembuh. Tapi ya katanya dia sudah kangen sama Daffin, ingin bertemu dia," cerita Livia.
Mendengar nama putranya dipanggil, membuat Rania tersentak. Tetapi tidak bisa berbohong ada perasaan haru mendengar Candra yang katanya bela-bela jauh kesini hanya untuk bertemu anaknya.
"Apa kalian kesini akan membawa Daffin?" tanya Rania pelan.
"Apa?"
__ADS_1
Rania memainkan jari tangannya tanda sedang cemas, "Apa kalian kesini mau memisahkan aku dengan Daffin? Mas Candra akan membawa Daffin kan? Seperti isi surat kontrak itu," ujarnya menahan perasaan sedih dan marah.
Tatapan Candra menjadi sendu, perasaannya langsung tidak enak kepada Rania. Candra memang sudah tahu semuanya, Livia yang menceritakan, termasuk Rania yang ingin berpisah juga dengannya.
"Rania, aku minta maaf," ucap Candra.
"Jadi benar Mas akan membawa Daffin? Enggak Mas, aku gak akan biarin Mas bawa Daffin. Dia anak aku, aku gak rela kamu memisahkan kami." Nafas Rania sampai naik turun setelah mengungkapkan itu.
Rania harus berani, Ia tidak mau dimanfaatkan lagi karena terlalu lemah dan tidak berdaya. Apalagi ini tentang Daffin, Rania tidak bisa bayangkan jika sampai Candra membawanya pergi dan memisahkan mereka.
"Kamu salah Rania, aku tidak akan begitu," bantah Candra.
"Bohong, Mas Candra kesini mau bawa dia kan? Apa Mas juga sudah memutuskan untuk menceraikan aku?"
Melihat Rania yang sedang terbawa emosi begitu dengan dugaannya, membuat Candra harus ekstra sabar menghadapi. Ia sempat melirik Livia, lewat tatapannya seolah meminta kepada istrinya itu memberikan waktu. Untung saja Livia pun mengerti, beranjak keluar rumah.
"Rania aku datang kesini untuk niat baik-baik, selain bertemu dengan Daffin juga bertemu kamu," ucap Candra serius. Jujur saja Ia juga merindukan Rania.
Rania diam dengan tatapan masih menatap curiga pria itu, gerak-gerik tubuhnya terlihat awas dan berjaga takut saja Candra itu melakukan hal nekad seperti menculik Daffin.
Melihat Candra yang sampai meneteskan air mata begitu, membuat Rania tersentak terkejut sendiri. Sebegitunya kah? Tatapan Rania pun kini tidak lagi curiga, sepertinya niat Candra kesini memang bukan hal buruk.
"Bagaimana kabar kamu Rania? " tanya Candra yang seharusnya menanyakan dari awal bertemu.
"Aku baik, kalau Mas?" tanya Rania balik.
Candra mengedikan bahunya, "Ya kamu lihat saja, aku sudah lebih dari beberapa bulan lalu yang bahkan sama sekali tidak bisa berjalan," jawabnya pedih.
"Tapi katanya sekarang Mas sudah bisa berjalan ya?"
"Lumayan, tapi harus dibantu kruk," jawab Candra.
__ADS_1
Melihat kondisi Candra sekarang yang seperti sudah bugar, membuat Rania lega sendiri. Tanpa sepengetahuan siapapun, Rania selalu mendoakan Candra. Jangan salah paham, bukan berarti Rania masih memiliki perasaan cinta.
"Apa aku boleh melihat Daffin sekarang?" tanya Candra agak malu-malu. Sudah tidak sabar sekali rasanya bertemu putranya, sudah berbulan-bulan Ia pendam.
Rania mengangguk pelan, "Iya, dia tidur di kamar."
Rania terus memperhatikan Candra, pria itu terlihat sudah biasa menggunakan kruk dan tidak kerepotan. Rania pun berjalan lebih dulu, walau langkahnya pelan seolah menunggu Candra.
Saat masuk ke kamar itu, pandangan Candra langsung tertuju pada balita yang tertidur di tengah ranjang. Kembali kedua matanya berkaca-kaca, dengan nafas yang mulai berat. Semakin dekat, Candra pun bisa semakin jelas melihat wajah anaknya itu.
"Astaga dia sangat tampan, lebih tampan dari foto yang sering kamu kirimkan," puji Candra.
"Iya, setiap yang melihat Daffin pasti selalu memuji kalau dia sangat tampan," sahut Rania yang ikut bangga sendiri.
"Mirip dengan saya ya?" tanya Candra sambil menatap Rania seolah meminta pendapat.
Rania sebenarnya enggan mengiyakan, tapi wajah Daffin memang sangat mirip Papanya itu. Saat Ia mengangguk pelan, Candra pun langsung tersenyum lebar dan kembali menatap putranya. Candra duduk di sisi ranjang, semakin dekat dengan Daffin.
"Hei ganteng, ini Papa. Maafin Papa ya baru kesini, tapi Papa setiap hari selalu kangen sama kamu. Papa terlalu lemah tidak bisa jenguk kamu di sini, tapi sekarang Papa coba kuatkan karena sudah kangen banget sama kamu," kata Candra.
Candra lalu memegang tangan mungil itu, mengecupnya berkali-kali dengan gemas. Saat Candra mengecup pipi Daffin, ternyata membuat anak itu terbangun dan langsung merengek. Candra pun repleks menjauhkan tubuhnya sambil melirik Rania tidak enak.
"Cup-cup sayang jangan nangis, ini Mama." Rania pun langsung mendekat dan menggendong anaknya itu.
Rania lalu berdiri sambil menepuk-nepuk pelan bokong Daffin, menggoyangkan badannya juga supaya lebih tenang. Dan benar saja anak itu tidak merengek lagi, tapi sayangnya tidak tidur lagi dan malah menatapnya berbinar.
"Kenapa hm? Kamu gak mau bobo lagi?" tanya Rania mengajak mengobrol.
Daffin hanya tersenyum lebar sambil menatap Mamanya itu senang seperti biasa. Rania lalu kembali duduk di ranjang, memposisikan duduk Daffin menjadi menghadap Candra.
"Lihat itu siapa?" tanya Rania sambil menunjuk pria itu.
__ADS_1
Candra mencondongkan tubuhnya mendekati Daffin, Ia membawa tangan mungilnya, "Hai sayang, ini Papa. Kamu kenalkan sama Papa? "
Bukannya mendapat respon yang sama seperti Rania, Daffin malah menangis dengan keras membuat keduanya terkejut. Candra langsung mengerucutkan bibirnya, sepertinya Daffin tidak senang melihat kedatangannya.