Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 40


__ADS_3

Melihat Elisa yang mendekat dengan wajah memerah seperti menahan marah, membuat Daffin berdiri untuk segera menghampiri. Hanya khawatir Elisa bersikap kasar lagi pada Cynthia seperti waktu itu.


"Lepasin, aku harus ngasih pelajaran sama cewek gatel itu!" desis Elisa saat tangannya ditahan.


"Kamu mau apa Elisa? Lebih baik kita pergi," ajak Daffin.


"Enggak, aku mau bicara dulu sama Cynthia. Emang dasar dia itu gak tahu malu, masih gatel sama cowok orang!" geram Elisa.


Kernyitan terlihat di kening Daffin mendengar itu, Ia tidak salah dengarkan? Jadi maksudnya Daffin milik Elisa? Astaga, sepertinya perempuan ini harus diberikan pengertian.


"Elisa, aku mau bicara sama kamu!" ucap Daffin dengan suara tegasnya.


"Bicara apa? "


Merasa tidak enak mengobrol di sana karena khawatir di dengar Cynthia, Daffin pun memilih menarik tangan Elisa untuk pergi dari sana. Ia membawa Elisa ke salah satu ruangan kosong di rumah Oma nya, tapi masih bisa melihat ke halaman belakang.


"Aduh Daffin kenapa narik-narik sih? Tangan aku sakit nih!" kesal Elisa menggeruru.


"Aku minta maaf kalau terlalu kasar narik kamu." Daffin tidak sadar telah melakukan itu, Ia hanya terlalu merasa gemas dengan suasana ini.


"Kamu kenapa sih? Mau bicara apa memangnya?" tanya Elisa.


"Aku mau lurusin aja semua kesalahpahaman ini, sebelum semakin panjang ceritanya," jawab Daffin dengan ekspresi kembali serius.


"Salah paham apa?" Elisa terlihat pura-pura tidak tahu, padahal Ia sedikit sudah bisa menyimpulkan.


Daffin terlihat menghela nafas berat, seperti banyak beban yang sedang Ia pikirkan. Rasanya sekarang hatinya campur aduk sekali, ada rasa tidak tega juga pada Elisa dan khawatir menyakiti perasaannya.


Sekilas Daffin melirik ke jendela, bisa melihat di halaman belakang Cynthia yang masih sendirian. Setiap menatap perempuan itu, mampu membuat perasaannya membaik.


"Daffin, kok diam aja sih?!" tegur Elisa. Ia tahu pria itu melihat Cynthia di luar.

__ADS_1


"Begini Elisa, aku mohon jangan bilang lagi pada siapapun kalau kita sedang menjalin hubungan. Kita tidak pernah memulainya," kata Daffin mulai bicara.


"Tapi kenapa? Apa kamu malu punya pacar kaya aku?"


Daffin segera menggeleng, "Aku gak malu, tapi kita memang gak pernah jadian. Sekarang aku yang tanya, kenapa kamu mengaku ke keluarga aku kalau kita jadian?"


Kali ini Elisa yang terdiam, merasa bimbang dengan hatinya ditanyai seperti itu. Ia lalu satu langkah mendekati Daffin, sambil menatap matanya dalam.


"Karena aku memang benar cinta sama kamu Daffin, apa salahnya dua orang yang saling mencintai bersama, kan?" Elisa lalu tersenyum setelah mengatakan itu.


"Kamu menganggap aku menyukai kamu?"


"Tentu saja, bukannya memang begitu?" Tiba-tiba perasaan Elisa jadi tidak enak, khawatir Ia terlalu kepedean.


Lagi-lagi Daffin terlihat menghela nafas, lalu memijat pelipisnya yang berdenyut pusing. Memang sih Ia ada rasa suka pada Elisa, tapi rasa mengebu-ngebu itu sekarang sudah hilang dan tergantikan oleh seseorang.


"Itu dulu Elisa, sekarang sepertinya sudah tidak," ucap Daffin pelan namun masih bisa di dengar.


"Sekarang sepertinya perasaan itu sudah berubah, aku hanya ingin kita sebatas teman saja."


Betapa terkejutnya Elisa mendengar itu, detak jantungnya seperti menjadi cepat. Suasana ini sangat tidak nyaman baginya, Elisa seperti perempuan menyedihkan yang baru saja ditolak cintanya.


"Enggak Daffin, gak mungkin kamu bisa lupain aku secepat itu. Bukannya kamu menyukai aku dari dulu? Seharusnya sekarang kamu senang, karena aku juga sudah bisa membuka hati untuk kamu," ucap Elisa panik sendiri.


"Benarkah? Bukan karena kamu sedang patah hati dan butuh pelampiasan?" tanya Daffin sambil tersenyum kecut.


Melihat Elisa yang terdiam dengan raut tidak nyamannya, membuat Daffin tahu jika sepertinya dugaannya benar. Ya Elisa hanya kesepian dan sedang butuh seseorang untuk jadi obat di hatinya karena tidak bisa mendapatkan si pemeran utama itu.


"Perasaan aku ke kamu kayanya hanya sebatas sayang sesama teman, sekarang aku sudah bisa mengetahui itu. Aku selalu ikut bahagia kalau kamu juga bahagia, tapi aku gak pernah se cemburu itu juga lihat kamu bersama lelaki lain," lanjut Daffin menjelaskan.


Elisa menggeleng lalu membawa tangan Daffin ke genggamannya, "Daffin jangan bilang gitu dong, kamu suka ke aku karena perasaan asmara. Ayo kita coba dulu, gimana?"

__ADS_1


Tetapi keputusan Daffin tetap bulat, Ia pun melepaskan genggaman tangannya dengan Elisa sambil menggeleng. Hanya ini saja, bukankah Elisa sudah bisa langsung menyimpulkan jika Ia tidak mau?


"Kenapa? Apa karena Cynthia?" tanya Elisa getir.


"Hah?"


"Kamu suka kan sama dia? Aku ngerasa kamu makin menjauh karena dia, dia yang sudah buat kamu berubah Daffin," ucap Elisa dengan suara lirihnya. Tidak lama, perempuan itu pun menangis.


Daffin mengusap tengkuknya melihat Elisa yang sampai menangis, kenapa sampai se dramatis ini? Membuatnya jadi tidak enak hati saja. Untuk menenangkan, Daffin pun mendekat dan berusaha membujuknya.


Tanpa diduga Elisa malah memeluknya dan melanjutkan menangis. Daffin berdiri kaku dan tidak bergerak beberapa saat, bahkan tangannya sampai terhenti di udara.


Tanpa mereka sadari, Cynthia sudah memperhatikan dari tadi di luar. Tatapannya terlihat sendu melihat Elisa dan Daffin yang sedang berpelulan, apakah mereka sudah saling menyatakan perasaan? Sepertinya begitu.


"Loh kok Kak Cynthia sendirian, kata Mama tadi di sini bareng Kak Daffin," kata Devina baru datang.


"Daffin kayanya ada urusan, dari tadi Kakak sendiri kok di sini," jawab Cynthia sambil berusaha tersenyum.


"Ya ampun dasar dia itu," dengus Devina. Kan kasihan Cynthia hanya bisa melamun di sini sendirian.


Sekali lagi Cynthia sempat melirik ke jendela itu, ternyata posisi mereka masih sama bahkan kini Daffin terlihat membalas pelukan Elisa. Rasanya Cynthia tidak tahan lama-lama menontonnya.


"Elisa, Kakak bisa minta tolong gak sama kamu? Tolong anterin Kakak ke depan, Kakak mau pulang," pinta Cynthia.


"Kakak mau pulang sama siapa? Tunggu Kak Daffin aja ya?" bujuk Devina.


"Gak papa gak usah, kayanya Kakak kamu lagi sibuk, Kakak gak mau ganggu. Lagian Kakak juga sudah pesan taxi online, sebentar lagi juga pasti datang," tolak Cynthia berusaha menunjukkan ekspresi baik-baik saja.


Akhirnya Devina pun mengangguk mengiyakan, lalu mendorong kursi roda Cynthia pergi dari sana. Devina terus memperhatikan sekitar berusaha mencari Daffin, tapi sayangnya Kakaknya itu entah pergi kemana.


Cynthia juga sempat berpamitan kepada keluarga yang lain yang kebetulan sedang mengobrol santai di ruang keluarga. Sempat Mamanya juga menawarkan Cynthia di antar supir, tapi menolak dan beralasan jika taxi nya sudah sampai di depan.

__ADS_1


"Makasih ya Devina sudah anterin Kakak, maaf kalau kedatangan Kakak kesini malah ngerepotin kalian," ucap Cynthia terakhir kali.


__ADS_2