
Besoknya setelah pulang dari Kampus, Daffin menyempatkan waktu ke rumah sakit untuk melihat perempuan yang Ia tabrak itu. Saat masuk ruangannya, tidak ada siapapun yang menunggu. Kemana Mama Cynthia ya?
"Saya minta maaf karena sudah buat kamu begini, tapi saya janji akan tanggung jawab dan temenin kamu sampai sembuh," ucap Daffin.
Saat sedang asik melamun, perhatian Daffin teralih mendengar gumaman pelan dari Cynthia. Jari tangan kanannya bergerak, dan matanya pun sedikit demi sedikit terbuka. Melihat itu segera Daffin keluar untuk memanggil dokter.
Daffin memperhatikan dokter dan suster yang sedang menangani perempuan itu. Menanyakan keberadaan dan keadaan yang dirasakannya. Setelah selesai mengecek semua, dokter itu pun menghampiri Daffin.
"Bagaimana dokter?" tanya Daffin.
"Syukurlah sekarang pasien sudah sadar dari kritisnya, kami akan secara berkala mengecek keadaannya. Kamu sebagai keluarga harus temani dia terus ya, sekarang psikisnya sedang terguncang," kata si dokter.
"Baik dokter, terima kasih."
"Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu. " Dokter dan suster itu pun pergi keluar dari ruangan.
Dengan berjalan pelan Daffin mendekati ranjang, matanya tidak lepas dari perempuan itu. Untuk beberapa saat hening, keduanya malah terdiam dengan pikiran masing-masing. Daffin juga merasa gugup memulai obrolan.
"Siapa kamu?" tanya Cynthia tanpa menatap.
"Nama aku Daffin, aku.. Aku minta maaf karena sudah buat kamu begini. Tapi sumpah aku gak sengaja nabrak kamu, aku--"
"Jadi lo yang sudah buat gue lumpuh? Puas lo sudah hancurin masa depan gue?" sela Cynthia tajam dan baru menatapnya.
Daffin tersentak sendiri mendengar itu, "Dengar aku sudah bilang tidak sengaja, aku juga sama sekali gak merasa puas seperti yang kamu tuduhkan itu," ujarnya menjelaskan.
"Terus sekarang gue gimana? Gue gak bisa jalan lagi, bukannya hidup gue bakalan percuma aja?"
"Kamu tenang saja, dokter bilang lumpuh ini hanya sementara dan kalau kamu melakukan terapi pasti sembuh. Aku akan tanggung jawab, aku akan temenin kamu sampai kamu bisa jalan lagi. Aku janji."
Tatapan Cynthia melembut mendengar itu, tapi hatinya belum merasa lega sepenuhnya karena tetap sedih dengan keadaannya yang sekarang. Kakinya benar-benar tidak bisa digerakan, Cynthia merasa tidak berdaya.
"Gak usah, lo ngelakuin ini cuman karena kasihan kan sama gue?" tanya Cynthia sinis. Rasanya kesal sekali dianggap lemah begitu.
"Bukan, tapi sebagai tanda tanggung jawab aku," jawab Daffin meluruskan.
__ADS_1
"Lagian gue juga gak kenal sama lo, gue juga gak mau ketemu lo lagi karena sudah buat hidup gue hancur begini!"
"Tapi--"
"Tidak, jangan dengarkan kata Cynthia. Tentu saja kamu harus tanggung jawab karena sudah buat anak saya begitu, pokoknya kamu harus temenin anak saya terus sampai dia sembuh," kata Citra yang baru datang.
"Mah tapi--" Cynthia tidak lagi melanjutkan perkataannya saat melihat Mamanya itu melotot tajam ke arahnya, membuatnya ciut.
Daffin merasa suasana ini tidak nyaman, tapi Ia mencoba tetap baik-baik saja dan berani menghadapi mereka, Daffin harus gentle karena bukan lagi anak kecil.
"Saya pegang ya omongan kamu Daffin, pokoknya kamu harus temenin anak saya terus sampai dia sembuh," ucap Citra yang berdiri di depannya.
"Iya Tante, saya akan bertanggung jawab dari kesalahan saya," angguk Daffin.
Walau memang entah sampai kapan Cynthia itu bisa sembuh dari lumpuhnya, tapi Daffin akan sabar menemaninya. Daffin tidak bisa melarikan diri dari ulahnya, itu bukan dirinya.
Merasa anak dan Ibu itu butuh waktu bicara, akhirnya Daffin pun memutuskan keluar sebentar. Perutnya terasa lapar, Ia memutuskan akan mencari makanan di depan rumah sakit. Setelah mendapatkannya kembali.
"Tante mau kemana?" tanya Daffin pada Citra yang keluar ruangan.
"Belum kok, saya mau bicara dulu dengan Cynthia. Saya ingin membuktikan pada dia kalau saya bersungguh-sungguh mau tanggung jawab." Daffin terlihat serius sekali saat mengatakan itu.
Citra lalu menepuk-nepuk bahunya, "Tante sudah duga dari awal kalau kamu ini memang anak yang tidak lari dari masalah, itu namanya baru laki-laki."
Daffin juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Cynthia, kalau bisa perempuan itu tidak ketus lagi padanya dan bisa menerimanya sebagai teman mungkin?
"Kamu bisa masuk dan temani Cynthia, Tante ada urusan dulu di luar nanti pasti kesini lagi kok," ucap Citra.
"Iya Tante, makasih."
"Jangan sungkan." Citra pun pergi dari sana sambil menyeringai seolah menandakan arti banyak hal.
Dengan perasaan gugup Daffin lalu masuk lagi ke ruang rawat Cynthia, tidak lupa sebelumnya sudah mengetuk pintu dahulu. Melihat perempuan itu sedang duduk menyender dan melamun.
"Kamu sudah makan?" tanya Daffin memulai obrolan.
__ADS_1
"Bubur di sini gakbenak, gak ada rasanya sama sekali," jawab Cynthia tanpa menatap.
"Mau mie ayam? Tadi aku beli di depan," tawar Daffin sambil menunjukan kresek nya.
Cynthia pun baru menatapnya, "Itu kan punya lo, memangnya gak papa?"
"Aku sih gak masalah, kita bisa bagi berdua. Tapi.. Memangnya orang baru bangun dari kritis bisa langsung makan ini ya?" tanya Daffin bermonolog sendiri.
"Gak papa lah, dari pada gue kelaparan. Jadi gak ngasihnya?"
"Iya jadi, sebentar biar aku siapin."
Daffin dengan baiknya membukakan penutup dari wadah makanan itu, lalu memberikannya dengan garpu pada Cynthia. Daffin lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang.
"Emangnya gak ngerasa sakit pas makan?" tanya Daffin agak konyol.
"Sakit kenapa?" tanya Cynthia balik.
"Mungkin aja sakit gitu, kamu kan habis ke--"
"Kalau pas ngunyah sih enggak, tapi kalau badan ada beberapa yang linu dan sakit. Ya paling parah sih di kaki, sampai gak bisa digerakin sedikit pun," jawab Cynthia.
Daffin jadi terdiam mendengar itu, merasa tertohok saja padahal Ia sendiri yang menanyakan keadaan Cynthia. Daffin merasa kasihan, parahnya dirinya yang membuat perempuan itu terluka.
"Waktu itu kamu mau pergi kemana? Sebelum kecelakaan itu. Kenapa lari-lari sampai gak lihat jalanan?" tanya Daffin.
"Gue lagi buru-buru, tapi gue udah ngerasa kok jalanan agak lenggang. Kenapa, lo mau nyalahin gue balik?" tanya Cynthia sensi.
"Enggak kok, mungkin kita memang sama-sama salah, tapi tetap saja aku yang paling salah," jawab Daffin berbesar hati.
Daffin juga kan waktu itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, jadi merasa yang paling bersalah. Jujur saja semenjak kecelakaan waktu itu, Ia jadi lebih berhati-hati mengendarai mobilnya.
"Berapa umur kamu?" tanya Daffin yang ingin mengenal lebih.
"Delapan belas tahun, baru masuk Kuliah di UI," jawab Cynthia.
__ADS_1
Kedua mata Daffin terbelak, "Wah beneran kamu kuliah di sana? Kenapa bisa kebetulan sama ya?" tanyanya.