
Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana, tidak lain sepertinya itu rumah Cynthia. Daffin terlebih dahulu menggendong Cynthia untuk duduk di kursi roda, lalu Ia membawakan barang-barang sedang perempuan itu di dorong lagi Mamanya ke dalam rumah.
"Kamu gak akan langsung pulang kan Daffin?" tanya Citra.
"Em apa Tante butuh sesuatu lagi?" tanya Daffin menawarkan lebih dahulu.
"Begini sebenarnya Tante sekarang sedang buru-buru mau pergi ke suatu acara, kamu bisa temenin Cynthia dulu gak sebentar di rumah?" Citra harus memanfaatkan moment ini dengan baik.
Daffin mengangguk pelan mengerti, Ia tidak langsung menjawab dan malah melirik Elisa. Terlihat perempuan itu menggeleng pelan, seolah memintanya untuk tidak menuruti perintah itu. Tetapi karena Daffin orang yang tidak enakan, membuatnya tidak melakukan.
"Apa Tante akan lama pergi? Soalnya saya kebetulan mau temenin temen saya ini cari kontrakan," ucap Daffin sambil menunjuk Elisa.
"Enggak akan lama kok, siang juga pasti pulang. Jadi bisa kan?"
"Ya sudah kalau gitu gak papa, saya bisa temenin Cynthia sebentar di rumah," jawab Daffin.
Citra terlihat tersenyum bahagia lalu menepuk tangan Daffin, "Makasih ya Daffin, kamu ini memang orang yang sangat bertanggung jawab."
Setelah wanita paruh baya itu pergi keluar rumah, suasana di dalam pun menjadi hening. Daffin menoleh saat melihat Elisa yang duduk dengan kasar di sebuah sofa, Ia tahu sahabatnya itu pasti sedang bad mood.
"Elisa kalau kamu bosan dan gak mau di sini, kamu bisa pulang aja dulu ke rumah, nanti siang aku baru ke sana," ucap Daffin.
"Terus kalau aku pergi, kamu mau berduaan sama dia di dalam rumah?" tanya Elisa sinis.
Daffin menaikkan sebelah alisnya, "Ya aku di sini juga kan temenin dan jagain Cynthia, takut dia butuh sesuatu dan gak bisa lakuin sendiri."
"Kamu ini terlalu gak enakan sama orang, padahal tadi kamu bisa tolak tuh permintaan Tante Citra. Kamu juga kan punya urusan, yaitu temenin aku," ucap Elisa masih kesal.
Daffin lalu berjongkok di depan Elisa, membawa kedua tangannya ke genggamannya, "Sabar dong, kita harus bagi-bagi waktu. Aku juga sudah berusaha yang terbaik."
Saat sedang membujuk Elisa, perhatian Daffin teralih mendengar barang jatuh dari arah kamar Cynthia. Daffin pun langsung berdiri dan mengeceknya, khawatir terjadi sesuatu.
"Ada apa?" tanya Daffin.
__ADS_1
Cynthia menolehkan kepalanya ke belakang, "Gue gak sampai ambil gelas, gue payah banget," ucapnya.
Daffin yang mendengar itu dengan sigap langsung mendekat dan membenarkan cangkir yang untungnya terbuat dari plastik itu. Ia membawa beberapa lembar tisu untuk mengelap genangan air di lantai.
"Sebentar ya aku ambil lagi airnya," ucap Daffin pada Cynthia.
Saat melewati ruang tamu, Daffin sempat melirik ke arah sofa dan ternyata di sana masih ada Elisa. Tetapi wajahnya masih cemberut, mungkin masih ngambek. Daffin berpikir kali ini Cynthia lebih penting, Elisa bisa Ia bujuk nanti lagi.
"Lain kali kalau kamu butuh bantuan bilang aja sama aku, kan tadi aku ada di luar, tinggal teriak," ucap Daffin memberikan segelas air.
Cynthia menerimanya, "Gue gak mau ganggu orang lagi pacaran, apalagi kalian kayanya lagi romantis-romantisnya," sinis nya.
"Bukan gitu, Elisa lagi ngambek soalnya--"
"Kayanya dia cemburu ya lo sekarang lebih banyak waktu untuk urusin gue dari pada sama dia?" sela Cynthia.
"Enggak bukan itu, dia cuman ngambek karena tadinya aku mau langsung bantu dia nyari kontrakan," jawab Daffin berusaha menjelaskan.
"Pasti karena gue jadi ganggu ya? Ya sudah sana pergi, nanti dia makin ngambek lagi," usir Cynthia agak ketus, walau sebenarnya dari dalam hati tidak iklas di tinggalkan.
Pria itu lalu menawarkan untuk memindahkan Cynthia ke ranjang, tapi perempuan itu menolak dan katanya malah ingin keluar rumah. Daffin pun akhirnya menuruti, mungkin bosan diam di dalam kamar.
"Mau kemana kalian?!" tanya Elisa.
"Ke luar rumah, ngadem. Kamu mau ikut?" tawar Daffin.
"Ck enggak!" ketus Elisa.
Cynthia yang melihat sikap perempuan itu hanya memutar bola mata malas, lalu meminta Daffin untuk kembali melangkah. Kenapa juga sih Daffin itu malah mengajak Elisa kesini, sudah tahu mereka tidak akur.
"Rumah lo sama rumah gue pasti beda banget kan?" tanya Cynthia memulai lagi obrolan.
"Beda gimana maksudnya?" tanya Daffin balik.
__ADS_1
"Ya rumah lo pasti besar, sedangkan rumah gue kecil dan biasa aja. Sorry ya kalau gak nyaman di rumah biasa kaya gini," ucap Cynthia.
"Enggak kok, biasa aja. Kamu jangan bilang gitu, yang penting kan kita masih punya tempat tinggal."
Cynthia dibuat tersenyum tipis mendengar itu, memang Daffin ini orangnya sangat rendah hati sekali. Padahal Cynthia menyadari jika dirinya agak menyebalkan, tapi Daffin selalu sabar menghadapinya.
"Gue pengen coba belajar berdiri, lo bisa bantu gue?" tanya Cynthia sambil menengadahkan kepalanya.
Daffin terdiam beberapa saat, "Jadi maksudnya aku pegangin gitu?"
"Ck iyalah, gue kan belum bisa jalan. Mau gak? Ya udah kalau gak mau, gue bisa sen--"
"Iya-iya, belum juga jawab," sanggah Daffin cepat.
Pria itu lalu beralih berdiri di depan Cynthia, menyimpan kedua tangannya di pinggang perempuan itu. Daffin sempat mengatakan maaf, khawatir dianggap tidak sopan, tapi Cynthia sepertinya tidak masalah.
Dengan hati-hati Daffin pun mulai mengangkat tubuh Cynthia, dan perlahan terangkat sampai tegak berdiri. Kini posisi mereka sangat dekat seperti berpelukan, benar-benar menempel dengan kepala di bahu lawan.
"Kamu ngerasain sesuatu gak?" tanya Daffin pelan, entah kenapa Ia merasa gugup di posisi sedekat ini dengan Cynthia.
"Enggak sakit, tapi kakinya rasanya lemes banget susah di gerakin," jawab Cynthia.
"Tapi kamu ini sudah nginjak tanah loh, beneran gak bisa rasain?"
"Enggak, apa gue selamanya bakalan gini ya?" tanya Cynthia sedih.
"Gak akan, aku yakin kamu suatu saat bisa jalan normal lagi. Nanti juga kan bakalan terapi, kalau rutin pasti bisa. Kamu harus yakin sama diri kamu sendiri," ucap Daffin berusaha menyemangati.
Cynthia pun mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum. Tangannya yang tadi hanya memegang sisi pinggang Daffin perlahan terulur menjadi memeluk pinggangnya. Kepalanya pun Ia sandarkan di bahu pria itu.
"Hei kalian sedang apa?!" teriak Elisa dari arah pintu.
Melihat posisi kedua orang itu yang sangat dekat seperti sedang berpelukan, entah kenapa dadanya panas sekali. Elisa lalu berjalan menghampiri sambil menghentakkan kakinya, setelah dekat Ia menarik tangan Cynthia kasar sampai perempuan itu terlepas dari pelukan Daffin dan terjatuh ke bawah.
__ADS_1
"Elisa kamu apa-apaan?!" bentak Daffin tanpa sadar.