Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 17


__ADS_3

Tok tok!


"Cynthia ini aku Daffin," teriaknya dari luar rumah.


"Masuk aja."


Mendengar itu membuat Daffin tersenyum dan masuk ke dalam rumah. Ternyata Cynthia sedang nonton TV, perempuan itu bilang malas membukakan pintu karena kerepotan.


"Dimana si cerewet?" tanya Cynthia sambil melirik ke arah pintu.


"Elisa gak ikut, dia pulang bareng Satria," jawab Daffin.


"Satria itu siapa? Apa jangan-jangan pacarnya."


"Bukan, tapi Elisa bilang dia suka sama Satria, kebetulan kami bertiga satu kelas," jawab Daffin.


Sebelah sudut bibir Cynthia terangkat, "Gue kira dia sukanya sama lo, tapi kenapa malah deketin cowok lain?"


Lagi-lagi Daffin dianggap begitu, dan ekspresinya tetap sama yaitu tersenyum kecut. "Kenapa banyak yang bilang Elisa suka sama aku ya?" tanya Daffin.


"Soalnya kemarin aja dia kelihatan cemburu pas kita berduaan, dia juga kaya posesif gitu sama lo. Emang lo gak nyadar tanda-tandanya?" tanya Cynthia balik.


"Sadar, tapi kayanya itu cuman sebatas sahabat. Mungkin aja Elisa cemburu dan gak mau aku lebih perhatian ke orang lain," angguk Daffin sambil tersenyum pedih.


Ya inilah yang Daffin rasakan selama ini, karena sikap Elisa dari dulu selalu seperti itu. Jika Daffin akrab dan dekat dengan orang lain, Elisa selalu merajuk dan ngambek, apalagi kalau pada perempuan.


Tetapi Daffin tidak pernah seperti itu jika Elisa dekat dengan orang lain, termasuk memiliki pacar. Adilkah? Entahlah. Selama ini Daffin hanya ingin memiliki hubungan yang baik dengan Elisa.


"Kalau gitu berarti dia itu beban, kemana-mana terus ngandelin lo," celetuk Cynthia.


"Dia gak pernah repotin aku sih, aku ikhlas bantuin Elisa," ucap Daffin jujur.


Cynthia berdecih pelan, "Huh dasar, sekarang gue baru sadar kalau lo yang suka sama si Elisa. Benerkan?"


Melihat wajah Daffin yang tersentak seperti terkejut begitu, membuat Cynthia menganggap jika dugaannya benar. Daffin benar-benar bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik.


"Terus apa lo pernah nyatain perasaan sama dia?" tanya Cynthia.


"Belum, dan mungkin gak akan," jawab Daffin sambil mengedikkan bahunya.


"Loh kenapa? Lo harus bilang dong, pasti lo juga udah mendem dari lama kan?" Cynthia kan tahu jika dua orang itu sudah berteman lama.


"Enggak deh." Daffin hanya menggeleng sambil memendam jawabannya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa? Lo takut di tolak ya?" ledek Cynthia.


"Bisa juga, terus hubungan persahabatan kita jadi renggang," angguk Daffin setuju.


Cynthia memperhatikan Daffin dalam. Pria itu memang tersenyum dari tadi, tapi Cynthia tahu pasti perasaan Daffin yang sebenarnya sesak. Padahal menurutnya Daffin sudah sempurna, dari fisik maupun sifat.


Cynthia malah merasa heran pada Elisa karena tidak tertarik ke hal romantis pada Daffin. Tetapi yang paling aneh adalah Daffin, kenapa juga pria itu bisa menyukai Elisa si super cerewet dan nyebelin.


"Besok gue mau masuk Kuliah lagi," ucap Cynthia mengalihkan obrolan.


"Kamu serius? Emangnya udah ngerasa kuat?" tanya Daffin memastikan.


"Udah kok, lagian bosen banget di rumah terus. Mendingkan kuliah, di sana juga cuman duduk sambil dengerin pelajaran dari dosen," kata Cynthia.


Daffin mengangguk setuju, "Mau aku jemput?"


"Boleh nih?"


"Iya lah, kan aku sudah janji bakal jagain kamu. Mau dimana pun, apalagi di Kampus."


Ingin rasanya Cynthia berterima kasih pada Daffin, tapi terlalu gengsi. Melihat sikap pria itu lagi-lagi membuat Cynthia bingung kenapa Elisa bisa tidak tertarik, aneh memang perempuan yang satu itu.


Daffin itu benar-benar mengerjakan tugasnya dengan baik untuk merawatnya, sangat bertanggung jawab. Cynthia merasakan segan, tapi jujur Ia juga menyukai saat di perhatikan seperti ini.


"Jurusan Komunikasi, ya gak terlalu jauh lah sama kelas kamu," jawab Cynthia.


"Oke berarti aku gak perlu cari-cari kamu ya nanti di Kampus, kan gak jauhan juga."


"Iya nanti gampang tinggal telepon aja," sahut Cynthia.


Di saat keduanya sedang asik mengobrol, deringan di ponsel Daffin membuat perhatian teralih. Tertulis di sana nama Elisa, Daffin pun beranjak untuk mengangkatnya.


"Hallo Elisa, ada apa?" tanyanya.


["Kamu masih di rumah Cynthia? Kapan pulangnya?"]


"Gak tahu, memangnya kenapa?"


["Daffin masa kamu sudah lupa lagi sih, kan kamu udah janji sepulang Kuliah mau bantuin aku pindahan ke kontrakan baru,"] rengeknya dari sebrang sana.


Benar juga, batin Daffin.


"Apa mau sekarang pindahan nya? Kan masih siang juga," tanya Daffin.

__ADS_1


["Iyalah harus cepet-cepet, gimana kalau hujan? Kan nanti repot. Sudah mending kamu pulang, gak usah lama-lama juga di sana. Ngapain sih?"]


Daffin menghela nafasnya berat mendengar itu, lihatkan Elisa itu memang seperti tidak mau terbagi perhatian nya. Padahalkan Daffin sudah memberikan pengertian jika dirinya harus membagi waktu.


"Ya sudah sebentar lagi aku pulang, kamu sudah siapin semua barang-barang kamu kan?"


["Iya sudah, tinggal berangkat. Buruan ih Daffin!"]


"Iya aku mau pamitan dulu sama Cynthia, kalau gitu sudah dulu."


Setelah panggilan berakhir, Daffin kembali masuk ke dalam rumah dan tidak menemukan Cynthia. Mendengar suara dari arah dapur, membuat Daffin pun langsung menghampiri.


"Cynthia, kamu sedang apa?" tanya Daffin menghampiri.


"Gue lupa gak bawain lo minuman, lo kan tamu," jawab Cynthia sambil tersenyum lebar sampai menunjukan deretan giginya.


"Ya ampun gak usah, lagian aku juga mau pulang sekarang," tolak Daffin. Pria itu lalu mendekat untuk menutup lagi lemari bagian atas.


Senyuman Cynthia perlahan menghilang, "Loh sudah mau pulang lagi?"


"Iya tadi Elisa--"


"Oh jadi dia nyuruh lo pulang ya, mungkin cemburu kali gak mau lama-lama di sini berduaan sama gue," sela Cynthia sambil tersenyum kecut.


"Bukan gitu, tapi aku mau bantu dia pindahan ke kontrakan baru, jadi kayanya harus cepet-cepet. Kalau sore juga takutnya keburu hujan."


"Hm."


Melihat wajah murung Cynthia entah kenapa membuat Daffin jadi tidak enak hati untuk meninggalkan nya. Mungkin Ia juga di sini baru setengah jam, dan dari tadi hanya mengobrol saja.


"Sebelum aku pulang, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Daffin memastikan.


"Gak usah, gue bisa sendiri. Sudah sana pulang aja, nanti dia makin bawel lagi," kata Cynthia.


"Maaf ya Cynthia."


Sebelah alis Cynthia terangkat, "Kenapa minta maaf? Besok juga kan lo kesini buat jemput gue ke Kampus, kita bakal ketemu lagi," katanya.


"Iya besok aku janji bakal jemput kamu, ya sudah kalau gitu aku pulang dulu. Sampai jumpa besok. "


Daffin melambaikan tangannya lalu keluar dari rumah itu dengan langkah yang berat. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang melirik Cynthia, tapi perempuan itu hanya tersenyum walau entah apa artinya.


Daffin hanya takut tidak menjalankan amanahnya dengan baik, rasanya jadi sulit sekali membagi waktu di antara Cynthia dan Elisa.

__ADS_1


__ADS_2