Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 54


__ADS_3

Besoknya sepulang dari Kampus, Daffin dan Cynthia akan menjenguk Elisa lagi di rumah sakit. Tidak lupa di perjalanan membeli beberapa buah-buah an, atas usul Cynthia. Katanya bagus untuk Elisa yang sedang sakit.


"Permisi, apa kita boleh masuk?" izin Daffin setengah bergurau sambil membuka pintu sedikit.


Elisa yang tadinya sedang melamun pun mengalihkan ke ambang pintu, senyumannya langsung terukir melihat kedatangan dua orang itu. Elisa pun mempersilahkan masuk saja.


"Maaf ya kita baru kesini lagi, kelas baru selesai," ucap Daffin tidak enak hati.


"Gak papa, apa hari ini ada ujian?" tanya Elisa penasaran.


"Gak ada sih, tapi ada pembagian kelompok untuk ngerjain tugas. Kamu kan lagi sakit, nanti mungkin harus ketemu langsung sama dosen untuk minta tugas lain," jawab Daffin.


Cynthia lalu menyodorkan keranjang buah yang dihias dengan cantik pada Elisa. Perempuan itu sempat menatap Daffin bertanya, tapi Daffin hanya tersenyum dan membiarkan. Akhirnya Elisa pun menerima keranjang buah itu tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Cynthia yang beliin untuk kamu, katanya kamu pasti bosen di rumah sakit. Nyemil buah-buahan bagus juga," ucap Daffin.


"Nyemil kan biasanya cemilan, kenapa gak belinya cemilan?" tanya Elisa sedikit protes.


"Hei kamu kan sedang sakit, mana boleh makan sembarangan. Oh iya kamu sudah boleh makan belum sama dokter?"


"Sudah kok, tadi pagi juga makan bubur. Gak terlalu banyak, soalnya gak enak," celetuk Elisa.


"Makanya cepet sembuh, biar bisa makan enak," sahut Daffin memberikan semangat.


Cynthia lalu menarik tangan Daffin, membuat perhatian pacarnya pun teralih padanya. Cynthia berkata dirinya ingin pergi ke kamar mandi dan Daffin pun segera mengantarnya ke kamar mandi yang masih ada di ruangan itu.


Setelah Daffin menutup lagi pintu kamar mandinya, Ia mendekati ranjang Elisa. Elisa katanya ingin buah apel, kebetulan di sana pun ada pisau buah jadi Daffin bisa memotongnya menjadi bagian kecil.


"Kamu kelihatan bahagia sama Cynthia, aku bisa lihat itu," kata Elisa memulai lagi obrolan.


"Iya aku memang bahagia, apalagi ini pertama kalinya aku menjalin hubungan," jawab Daffin sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sepertinya sekarang kita tidak akan bisa sedekat dulu lagi ya, sayang sekali," gumam Elisa dengan tatapan sendunya.


Daffin lalu menepuk bahu perempuan itu, "Tenang saja, aku yakin sebentar lagi kamu juga punya pacar," godanya membuat Elisa tertawa kecil.


Jika dulu mungkin Daffin akan nyesek sendiri berkata seperti ini, tapi sekarang Ia sangat ringan sekali mendorong Elisa memiliki kekasih lagi. Daffin kan tidak bisa terus menjaganya, jadi mungkin jika Elisa punya pacar Ia tidak akan terlalu khawatir.


"Daffin, sepertinya aku akan cuti dulu Kuliah," ucap Elisa tiba-tiba.


"Hah? Kenapa?" tanya Daffin terkejut.


"Aku harus pulang ke Kampung, mungkin akan lanjut Kuliah di tahun depan," jawab Elisa.


"Kenapa tiba-tiba begini Elisa? Kamu serius mau cuti sampai tahun depan?"


Apakah ini karena dirinya juga? Batin Daffin. Sungguh jika sampai dirinya yang sudah membuat Elisa terlalu sedih sampai memilih menghindar sementara waktu, Daffin merasa tidak enak hati. Kenapa sampai sejauh ini?


Elisa lalu menggenggam tangan Daffin, "Jangan salah paham, aku pulang karena mau rawat Bapak yang sakit," katanya.


"Iya, dan di rumah tidak ada yang bisa mengurus dia. Nenek juga sudah tua, kasihan dia akan kesusahan menjaga Bapak."


Mendengar alasan itu membuat Daffin bernafas lega. Padahal Ia tahu hubungan Elisa dengan kedua orang tuanya tidak cukup baik, tapi Elisa masih menjadi anak yang berbakti dan menghormati kedua orang tuanya.


"Memangnya Bapak kamu sakit apa? Kenapa sampai selama itu juga di sana?" tanya Daffin penasaran.


"Nenek bilang sih struk, tadi pagi aku dikabarin."


"Kasihan sekali, semoga Bapak kamu cepat sembuh dan sehat lagi ya. Kamu juga yang sabar rawat dia nanti, pasti gak mudah," ucap Daffin memberikan semangat.


"Iya," angguk Elisa.


Daffin lalu baru teringat sesuatu, Ia pun segera ke kamar mandi dan mengetuk pintu menanyakan apa Cynthia sudah selesai atau belum. Pacarnya itu menjawab sudah, dan Daffin pun segera membuka pintunya. Ia memindahkan lagi Cynthia ke kursi roda, lalu keluar dari sana.

__ADS_1


"Sekarang aku yang sakit perut, bentar ya," izin Daffin lalu masuk ke kamar mandi itu, meninggalkan Elisa dan Cynthia di sana.


Untuk beberapa saat suasana di sana hening, sesekali dua perempuan itu saling melirik satu sama lain. Rasanya canggung sekali untuk memulai obrolan, tapi kapan lagi kan? Mumpung tidak ada Daffin.


"Cynthia, aku titip Daffin ya. Minggu depan aku akan pulang ke Kampung, aku juga akan cuti kuliah beberapa bulan dan akan kembali ke Jakarta kalau Bapak aku sudah sembuh," ujar Elisa membuka suara.


"Hm tenang saja, tanpa diminta pun aku akan berusaha menjaga dia dengan baik," sahut Cynthia pelan. Sebenarnya Ia sempat menguping dari kamar mandi, walau tidak terlalu jelas.


"Baiklah aku percaya, lagi pula dia yang bilang sendiri kalau dia merasa bahagia dengan kamu," ucap Elisa sambil tersenyum kecut.


Cynthia lalu memberanikan diri menatap Elisa yang duduk di ranjang, posisi perempuan itu tentu lebih tinggi di banding dirinya yang duduk di kursi roda. Elisa pun membalas tatapannya dengan senyuman tipis.


"Kamu yakin pergi karena itu? Bukan karena patah hati Daffin lebih memilih aku?" Cynthia bukan maksud percaya diri, Ia juga hanya ingin memastikan saja.


"Benar kok Bapak aku memang sakit, tapi dugaan kamu yang itu juga bisa dibilang tidak salah," jawab Elisa pelan.


"Jadi kamu ingin menghindar dulu Elisa? Sampai mengorbankan kuliah kamu?"


Sebenarnya Elisa juga tidak mau seperti ini, tapi Ia rasa keputusannya sudah tepat. Elisa tidak bisa pura-pura baik-baik saja melihat Daffin yang bahagia dengan Cynthia, hatinya sakit.


Dengan alasan Bapaknya sakit, Elisa bisa sejenak menjauh dan mungkin di sana bisa mengobati hatinya. Berharap jika saat kembali ke Jakarta, Ia sudah baik-baik saja dan menerima semuanya. Elisa hanya tidak mau dihinggapi perasaan menyesal terus.


"Santai saja, Bapak aku beneran sakit kok. Nanti saat aku kembali ke Jakarta, aku mau lihat apa kalian masih bersama atau tidak," ucap Elisa mencairkan suasana.


"Memangnya kau akan lama di sana?" tanya Cynthia.


"Mungkin? Ya sampai Bapak sembuh saja, sakitnya kan lumayan parah dan harus ada yang selalu menjaga dia."


Cynthia mengangguk pelan dengan jari tangan yang Ia mainkan. Rasanya gengsi sekali untuk mendoakan yang terbaik pada Elisa, tapi kalau egonya terus seperti ini hubungan mereka kapan baiknya?


"Semoga urusan kamu di sana bisa lancar Elisa," ujar Cynthia memberanikan diri.

__ADS_1


__ADS_2