Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 11


__ADS_3

"Lo emangnya siapa hah ngatur-ngatur? Terserah gue lag mau bilang apa, suruhan sama babu itu sama aja," balas Cynthia tidak mau kalah, emosinya mulai terpancing.


Elisa menggeram pelan lalu memegang tangan Daffin, "Lebih baik kita pergi aja, kurang ajar banget dia rendahin kamu kaya gitu," ajaknya.


"Eh gak boleh, kalau mau pergi lo aja sana. Daffin gak boleh pergi, gue butuh dia sekarang," tolak Cynthia cepat.


Daffin memijat pelipisnya yang berdenyut pusing menonton pertengkaran dua perempuan itu. Tidak menyangka saja di awal pertemuan langsung ribut begini.


Daffin juga merasa sedikit terkejut dengan sikap Elisa, selalu berpikir jika sahabatnya itu sangat kalem, tapi ternyata bisa terpancing juga emosinya sampai marah-marah begini.


"Sudah-sudah jangan ribut lagi, gak enak kalau didengar keluar, nanti ada suster lagi yang masuk," lerai Daffin dengan suara rendahnya.


"Ih kamu kok diam aja sih Daffin? Emangnya kamu gak sakit hati atau kesel apa di rendahin begitu sama dia?" tanya Elisa kesal.


Daffin sempat melirik Cynthia, seperti biasa perempuan yang satu itu selalu menunjukan ekspresi datar dan dinginnya. Daffin lalu menarik tangan Elisa mengajaknya keluar untuk bicara.


"Daffin ayo kita pulang aja, kamu juga mending jangan kesini lagi deh. Emang dasar gak tahu malu, masih untung kamu mau tanggung jawab, tapi malah rendahin kamu begitu," gerutu Elisa.


"Tapi aku ngerasa itu memang sudah jadi tugas aku Elisa, aku harus jagain Cynthia sampai dia sembuh dari lumpuhnya," ucap Daffin berusaha memberikan pengertian.


"Terus kamu juga pasrah aja gitu di bilang babu sama dia?" Elisa sendiri saja yang mendengarnya merasa tidak terima.


"Ya aku sih sebenarnya gak dimasukan ke hati, aku ngelakuin pekerjaan ini sebagai tanda tanggung jawab atas semua yang sudah aku lakukan pada dia," jawab Daffin sambil tersenyum.


Elisa dibuat menghela nafas berat mendengar itu, benar-benar tidak habis pikir saja dengan pemikiran Daffin. Memang sahabatnya yang satu itu sangat rendah hati dan terlalu baik.


Kalau saja Elisa yang ada di posisi Daffin, mana mau Ia di suruh-suruh begitu oleh Cynthia. Elisa yakin Daffin sudah menanggung semua biayanya, kenapa Ia juga sampai harus merawatnya?


"Elisa kamu jangan khawatir, aku baik-baik aja kok," ucap Daffin sambil memegang bahunya.


"Tapi aku gak suka ada yang jelekin kamu kaya gitu," sahut Elisa, kini nada suaranya terdengar lebih rendah.


Mendengar ke khawatiran sahabatnya itu, tentu saja membuat Daffin senang. Dari kecil sampai sekarang, Elisa memang peduli sekali kepadanya. Selalu membantu dan menolongnya jika ada yang mengintimidasi nya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu sekarang pulang ke rumah aku dulu, maaf hari ini kayanya kita belum sempat lagi cari kontrakan untuk kamu, jadi untuk sementara kamu juga tinggal dulu aja di rumah aku," kata Daffin.


"Tapi aku gak enak sama orang tua kamu, aku takut ngerepotin mereka tinggal di sana," ucap Elisa merendah.


"Gak akan, mereka juga gak akan masalah kok, tenang aja."


Akhirnya Elisa pun mengangguk setuju, lagi pula rumah Daffin memang nyaman membuatnya betah. Ini juga sudah mau larut malam, mereka akan sangat kelelahan jika harus mencari kontrakan. Mungkin bisa di hari libur saja.


"Terus kamu gimana dong?" tanya Elisa.


"Aku mau di sini dulu, gak tahu kapan pulang. Gak papa kan kamu pulang sendiri?"


"Iya gak papa, aku bisa naik taxi." Elisa lalu menepuk pelan kepala Daffin, "Yang sabar ya Daffin, semoga semua masalah kamu bisa cepat selesai."


"Iya makasih."


Daffin mengantar Elisa dahulu sampai ke depan rumah sakit, juga mencarikan taxi untuknya. Setelah memastikan pergi, Ia pun kembali masuk ke rumah sakit dan masuk ke ruang rawat Cynthia.


"Maaf-maaf, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Daffin sambil mendekat.


"Gue bosen di kamar terus, ayo keluar jalan-jalan," pinta Cynthia.


"Oke sebentar aku bawa dulu kursi rodanya."


Untungnya di sana di sediakan kursi roda. Daffin menggendong Cynthia memindahkan nya dari ranjang ke kursi roda. Setelah memastikan duduk dengan nyaman, pria itu pun mulai mendorongnya keluar dari ruangan itu.


Suasana rumah sakit sore itu lumayan ramai, jadi mereka memutuskan akan ke taman yang ada di lantai paling bawah. Sepanjang perjalanan tidak mengobrol, fokus dengan pikiran masing-masing.


"Kemana pacar cerewet lo itu?" tanya Cynthia setelah Daffin duduk di bangku panjang sebelahnya.


"Pacar siapa? Maksud kamu Elisa?" tanya Daffin balik.


"Iya lah, udah deh ngaku aja dia pacar lo kan?"

__ADS_1


Daffin tersenyum tipis, "Kenapa kamu sampai nganggap kalau aku dan Elisa pacaran? Bukannya tadi sudah aku jelasin ya?"


"Soalnya dia kelihatan care banget sama lo, Ciri-ciri pacar posesif yang gak mau cowoknya perhatian sama cewek lain," jawab Cynthia asal.


"Haha enggak lah, aku dan Elisa gak pacaran kok."


"Tapi kayanya dia suka sama lo, atau mungkin lo yang suka sama dia. Di mana-mana gak ada namanya sahabat cewek sama cowok," sahut Cynthia.


Daffin tidak menanggapi lagi karena rasanya sudah bosan sekali banyak yang menganggap begitu. Sebenarnya sih Ia tidak masalah dianggap ada rasa suka pada Elisa, toh memang benar. Hanya saja Daffin sedikit khawatir reaksi Elisa jika tahu perasaannya.


"Kamu sendiri punya pacar gak? Kenapa dari awal dirawat aku belum pernah lihat ada yang jenguk kamu?" tanya Daffin mengalihkan obrolan.


"Itu artinya gue gak punya pacar, pinter dikit lah," ledek Cynthia.


"Terus temen gitu? Masa gak punya."


"Emang gak punya, gak peduli juga sih. Lagian gue lebih seneng sendirian, kalau sama temen katanya bakalan ngerepotin," ucap Cynthia.


Daffin mengernyitkan keningnya mendengar itu, merasa mengganjal saja dengan pemikiran Cynthia tentang seorang teman. Bukankah setiap orang butuh teman ya?


"Kamu salah, malahan teman itu bisa bantu kita kalau sedang kerepotan," sahut Daffin.


"Tapi gue gak suka temen, mereka itu munafik. Di depan aja sok baik, padahal di belakang suka jelek-jelekkin," gumam Cynthia dengan pandangan kosong.


Setelah itu Daffin tidak berani bertanya lagi, merasa takut saja menyinggung perasaan Cynthia dan salah bicara. Daffin tidak tahu banyak kehidupan Cynthia, tapi merasa perempuan itu cukup kesepian.


Mereka sudah lumayan dekat dan setiap hari selalu bersama, perlahan pun saling mengerti masing-masing. Sepertinya Daffin mulai penasaran dengan kehidupan Cynthia, haruskah Daffin cari tahu lebih dalam?


"Lo kenapa lihatin gue terus? Emang sih gue cantik, tapi lo bukan tipe gue," celetuk Cynthia.


Lamunan Daffin pun langsung terhenti, "Dasar kepedean, siapa juga yang lagi ngagumin kamu?" balasnya sambil mendengus.


Cynthia hanya tersenyum tipis tanpa diketahui Daffin.

__ADS_1


__ADS_2