
"Kemarin pas kamu mau pulang, ngobrolin apa sama Mama?" tanya Cynthia memulai obrolan.
Daffin menghentikan sejenak makannya, "Kamu tahu aku sempat ngobrol sama Tante Citra?"
"Aku gak sengaja lihat di jendela, kalian kelihatan lumayan lama ngobrol," jawab Cynthia. Inilah waktu yang tepat untuk Ia bicarakan.
Daffin pun memutuskan memfokuskan pandangan pada pacarnya itu. Sepertinya Tante Citra pun tidak cerita pada anaknya, tapi Daffin merasa harus menceritakan karena ingin hubungan Cynthia dengan Mamanya itu kembali baik.
"Mama kamu minta maaf sama aku," kata Daffin.
"Dia memang harus minta maaf sama kamu." Tidak menyangka, itulah tanggapan dari Cynthia. Ya Cynthia saja merasa malu dengan tingkah Mamanya itu.
"Dia bilang minta maaf atas semua sikapnya dan juga repotin aku dengan jagain kamu. Tapi aku bilang aja kalau ikhlas jagain kamu, aku juga gak minta uang tebusan itu balik. Aku bilang, mungkin ini memang sudah jadi takdir aku ketemu sama kamu," jelas Daffin panjang lebar.
"Terus kenapa dia nangis?"
"Mama kamu menyadari semua kesalahan nya, dia juga merasa tidak enak sama kamu. Aku pikir sudah waktunya kalian baik kan," jawab Daffin.
Cynthia terdiam mendengar itu, dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya Ia tidak dendam pada Mamanya, mana bisa Ia sebenci itu pada Citra, wanita itu kan Ibu kandungnya. Hanya Cynthia terkadang merasa lelah saja dengan tingkah lakunya.
"Bagaimana Mama kamu saat di rumah? Apa kamu juga ngerasa dia ada perubahan?" tanya Daffin penasaran.
"Iya ada, aku aja agak kaget. Mulai dari bangunin aku, terus mulai nyiapin sarapan lagi sampai waku itu sempat nawarin untuk mandiin aku." Cynthia menjawab sambil tersenyum.
Tidak bohong Cynthia memang senang dengan perubahan Mamanya, setelah sekian lama merasa selalu diabaikan. Cynthia seperti melihat sosok Mamanya di masa lalu, inilah yang Ia rindukan selama ini.
"Aku pikir Mama kamu serius mau berubah, dia juga mau memperbaiki hubungan dengan kamu. Jadi aku minta kamu jangan dingin lagi sama Mama kamu, ya?" bujuk Daffin.
Cynthia mengangguk pelan, "Iya Daffin, aku akan coba. Semoga aja Mama beneran berubah, gak kumat lagi," celetuknya setengah bergurau.
__ADS_1
"Kamu ini, jangan gitu, dia kan Mama kamu," kata Daffin tapi malah tertawa kecil merasa terhibur.
Mereka pun melanjutkan makan dengan lahapnya, diiringi obrolan ringan. Terkadang sesekali Daffin menyuapi Cynthia, benar-benar pacar yang romantis.
Selesai membayar makanan, mereka memutuskan langsung pulang. Tetapi Daffin tidak akan mengantar Cynthia ke rumahnya langsung, akan Ia ajak main dulu di rumahnya. Lagi pula belum terlalu sore, masih ingin bersama.
"Apa Mama sama Papa kamu ada di rumah?" tanya Cynthia agak khawatir.
"Gak tahu, tapi kayanya Papa enggak deh, dia kan kerja di kantor. Cuman kalau Mama Livia, jam kerjanya memang gak tentu," jawab Daffin.
Saat masuk ke rumah besar itu, seperti biasa suasana selalu sepi. Daffin memilih akan ke kamarnya dahulu, meninggalkan Cynthia sementara di ruang keluarga dengan tayangan film di TV.
Perhatian Cynthia teralih mendengar suara sepatu melangkah mendekat, tubuhnya terlihat tersentak melihat itu adalah Papanya Daffin. Tadi Daffin bilang Papanya di kantor, ternyata malah sedang ada di rumah.
"Om," panggil Cynthia lalu tersenyum berusaha ramah.
"Cynthia, kamu sedang di sini? Lalu dimana Daffin?" tanya Candra sambil memperhatikan sekitar.
Candra terlihat mengangguk pelan, lalu terdiam memperhatikan gadis remaja itu dalam. Ada sesuatu yang ingin Ia tanyakan, tapi dari pada terus dihinggapi perasaan penasaran lebih baik Ia katakan saja.
"Kamu sekarang pacarnya Daffin kan?" tanya Candra. Waktu itu putranya itu bahkan sempat minta bantuan padanya, katanya ingin membuat kejutan untuk Cynthia.
"I-iya Om, tapi kami masih baru pacaran," jawab Cynthia agak gugup, seperti merasa akan ditanyai banyak hal.
"Bagaimana hubungan kalian sampai sekarang? Baik-baik saja kan?"
"Baik kok Om," angguk Cynthia. Ia selalu menjawab singkat karena merasa bingung harus balik membuat topik apa?
"Daffin terlihat sangat tulus mencintai kamu, dia juga dari dulu merawat dan menjaga kamu dengan baik. Om harap kamu juga bisa mencintai dia dengan tulus, Om minta jangan manfaatkan perasaan dia," kata Candra penuh makna.
__ADS_1
Cynthia tidak terlalu mengerti kenapa Candra mengatakan itu, Ia mengangguk menurut saja. Tetapi Cynthia merasa jadi agak terbebani. Padahal Ia mencintai Daffin dengan tulus kok, tidak diminta pun akan menjaganya juga.
"Cynthia, tolong jawab jujur. Apa kamu tulus mencintai Daffin? Tanpa ada alasan apapun di baliknya?" tanya Candra serius.
"Saya mencintai Daffin kok Om, saya tulus suka pada dia. Selama ini dia sangat baik pada saya, jadi bagaimana juga saya tidak bisa menyukai dia?" Cynthia berusaha meyakinkan pria paruh baya itu, mungkin Candra masih ragu padanya.
"Baiklah Om pegang ya kata-kata kamu, semoga kamu juga benar tulus mencintai dia." Setelah mengatakan itu, Candra pun pamit pergi dari sana.
Selepas kepergian Candra, Cynthia terlihat terdiam dengan kepala menunduk dan jari tangan yang saling bertaut. Kenapa Papanya Daffin menanyakan itu padanya ya? Seperti Cynthia orang yang tidak bisa dipercaya saja.
"Hei sayang maaf lama," ucap Daffin yang sudah kembali.
Kernyitan terlihat di kening pria itu melihat ke terdiam Cynthia, bahkan tidak menoleh padanya sedikit pun. Saat Daffin sudah dekat, Ia pun mengusap bahu Cynthia dan perempuan itu baru mengangkat kepala melihatnya.
"Kamu kenapa? Jangan ngelamun," tegur Daffin sambil tersenyum.
"Enggak Papa kok, sudah selesai buang air besar nya? Lama juga," tanya Cynthia sambil berusaha mengalihkan obrolan.
"Sudah kok, sekarang lega banget hehe." Melihat Daffin sampai mengelus-elus perutnya, membuat Cynthia menggelengkan kepala, tidak jaim sekali.
Pria itu lalu mengajaknya ke halaman belakang, katanya mau mengajarinya berjalan. Cynthia sih menurut saja, sekalian untuk mengalihkan pikirannya tadi saat mengobrol dengan Candra. Kata-kata nya yang terlihat meragukannya itu terasa masih membekas di hatinya.
"Coba jalan tanpa penyangga ya. Tenang aja nanti aku tangkap kalau jatuh," perintah Daffin.
Cynthia mengangguk lalu mencoba berjalan tanpa memegang apapun. Sempat khawatir, tapi melihat pacarnya itu terus menyemangati membuat Cynthia berusaha. Jujur Ia takut sekali, tapi jika tidak mencoba tidak akan bisa.
Dengan perlahan kakinya pun sedikit demi sedikit melangkah. Daffin selalu setia berdiri di depannya dengan jarak tidak jauh, berjaga saja jika tubuh Cynthia oleng. Pria itu terus bertepuk tangan sambil menyoraki nya.
"Ayo sayang kamu hebat, sudah tiga langkah. Ayo terus-terus, kamu pasti bisa!" teriak Daffin terus menyemangati.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, ada Candra yang memperhatikan dari jendela di dalam rumah. Melihat pasangan kekasih itu, membuatnya yakin jika mereka memang saling mencintai.