
Saat mendengar kabar Neneknya akan ke Jakarta, ada dua yang Rania rasakan. Ia tentu saja senang karena setelah beberapa bulan akhirnya mereka akan bertemu lagi, tapi di sisi lain Rania merasa segan dan gugup khawatir Neneknya tahu bagaimana keadaan pernikahannya yang sebenarnya.
"Gimana Mas?" tanya Rania saat melihat pria itu masuk ke kamarnya. Berharap saja semoga mendapat izin.
"Iya gak papa Nenek kamu kesini, tapi kenapa harus tiba-tiba begini sih?"
"Maaf ya Mas kalau tiba-tiba, soalnya Nenek juga katanya sekalian nebeng tetangga yang kebetulan mau ke Jakarta." Rania menunduk merasa malu sendiri, apakah kedatangan Neneknya ini akan merepotkan Candra?
"Sebenarnya gak papa, tapi aku cuman khawatir aja gak ada waktu untuk selesain semuanya dulu. Tadi aku juga sudah bicara dengan Livia, awalnya dia keras kepala gak mau nurut, tapi setelah aku bujuk beberapa kali akhirnya mau mengerti juga."
"Memangnya apa?" tanya Rania penasaran.
"Aku minta Livia untuk pindah beberapa hari ke apartemen, karena kalau dia di sini takutnya membuat Nenek curiga. Tapi sayangnya dia gak mau, dia juga malah akan bilang ke Nenek Ima kalau dia istri pertama aku," lanjut Candra menceritakan.
Kedua mata Rania terbelak, "Terus gimana dong?" Entah kenapa, Rania jadi panik sendiri mendengar itu.
"Aku gak tahu apa nanti rencana Livia, apa dia bakalan jujur atau enggak. Tapi semoga aja dia gak bersikap ceroboh dan bocorin rahasia ini," ucap Candra dengan tatapan lurus ke depan. Hatinya sedang berkecamuk memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
"Kalau misal Kak Livia bocorin gimana?" tanya Rania yang ingin melihat reaksi Candra.
"Kayanya Nenek kamu akan marah dan gak terima, tapi kalaupun dia marah aku memang salah dan harus menerima semuanya." Candra mencoba pasrah saja, bukannya rahasia se berusaha disembunyikan apapun suatu saat pasti akan terbongkar, kan?
"Lalu gimana kalau misal Nenek minta kita pisah?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat Candra repleks menoleh, "Jangan bicara aneh-aneh," tegur nya.
__ADS_1
"Misal saja Mas, reaksi Nenek pasti akan sama seperti aku. Kecewa." Rania sampai menekan kata di akhir, hanya berusaha mengingatkan Candra saja.
"Tidak akan, kalau sampai Nenek minta kita sampai berpisah, aku tidak akan terima," jawab Candra serius. Kalau untuk menerima kemarahannya saja Candra terima, tapi kalau sampai meminta itu tentu saja Candra akan tolak.
Apalagi sekarangkan Rania sedang hamil, ada darah dagingnya di perut perempuan itu, calon warisnya yang selama ini Ia tunggu-tunggu. Menurut Candra juga, dirinya sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi suami yang baik dan berperan menjadi suami yang siaga pada istrinya yang sedang hamil.
"Kapan Nenek kamu itu akan sampai kesini?" tanya Rania.
"Katanya sih besok pagi, berangkat dari sana sekitar jam dua pagi soalnya biar gak macet."
"Terus nanti bakalan nunggu di halte atau langsung kesini?"
"Mungkin langsung di anter ke rumah, jadi gak perlu dijemput di halte." Sepertinya nanti Rania harus telepon lagi Neneknya meminta penjelasan.
"Ya sudah kabari aku lagi ya. Tenang aja kalau misal dijemput pun bisa sama supir."
Candra melihat jam tangannya, "Aku mau keluar sebentar, ada urusan sama temen kerja."
"Hm hati-hati." Padahal hari ini weekend, tapi suaminya itu memang sibuk sekali. Maklum saja namanya juga pengusaha.
Karena merasa bosan diam di kamar terus, Rania pun memutuskan keluar kamar dan berjalan-jalan di rumah besar itu, berkeliling ke sana kemari. Melihat kolam renang yang terlihat segar, membuat Rania jadi merasa tergiur untuk berenang. Apalagi cuaca sedang panas, sepertinya kalau berenang akan segar.
"Gak papa kali ya kalau berenang, bakalan diem di sisi aja deh gak akan jauh-jauh," gumamnya senang sendiri. Rania pun ke kamar dahulu untuk mengganti bajunya dengan yang lebih nyaman, setelahnya kembali ke halaman belakang.
"Kalau waktu itu sih kolamnya gak terlalu dalam, tapi kan aku gak bisa renang jadi tetep aja harus hati-hati takut tenggelam."
__ADS_1
Rania lalu turun ke dalam air dari tangga sisi, saat merasakan air menyentuh kulitnya membuatnya tidak bisa menahan senyuman. Perlahan tubuhnya pun terbasahi sampai sebatas dada. Rania tidak berenang ke tengah, tangannya terus memegang tembok sisi kolam karena khawatir terpeleset.
"Ah seger banget, kamu juga pasti seneng kan sayang?" tanya Rania sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.
Merasa bosan terus diam saja, Rania lalu berinisiatif menelusuri semua sisi kolam itu dengan berjalan perlahan, tangannya pun dari tadi tidak lepas dari tembok atas. Tetapi Rania tidak tahu, jika sisi kolam bagian kiri ternyata lebih dalam, dan membuatnya yang tidak bisa menjaga keseimbangan otomatis terpeleset sampai tangannya pun terlepas.
"Huah tolong!" teriak Rania saat kepalanya terangkat ke atas. Sekarang tubuhnya mengambang di air, dan semakin terseret ke tengah.
Kedua tangannya berusaha menggapai apapun di atas, tapi Rania terus tenggelam membuatnya perlahan kehabisan nafas. Di tengah keputusasaan nya, Tiba-tiba ada yang menarik tangannya membuat tubuhnya yang sempat tenggelam akhirnya bisa ke atas dan menghirup lagi udara.
"Rania, kamu apa-apa an sih?!" tanya Livia dengan suara kerasnya. Ternyata perempuan itu yang menolongnya, Livia sampai terjun ke air untuk menolong dan membuat tubuhnya basah.
"Hiks hiks!" Rania hanya bisa menangis, terlalu takut karena dirinya tadi hampir tenggelam dan kehabisan nafas.
Merasa ini bukan waktunya mengomeli, Livia pun menarik Rania ke sisi kolam dan naik ke atas. Terlihat agak kewalahan karena berat badan Rania yang lebih, mungkin karena perempuan itu pun sedang hamil. Livia duduk di sebelahnya memperhatikan Rania yang masih menangis. Sebelah tangannya lalu terulur menepuk-nepuk punggung Rania, mungkin saja kan ada air yang masuk?
"Hiks makasih ya Kak Livia, aku.. Aku benar-benar takut tadi." Rania tidak lebay sekarang, karena perempuan itu sedang ketakutan setelah mendapat musibah tadi. Badannya bahkan masih bergetar ketakutan, air matanya pun tidak berhenti menetes.
"Kalau gak bisa berenang, jangan maksain berenang sendirian. Apalagi kamu lagi hamil, kalau sampai kamu kenapa-napa gimana? Bukan cuman kamu yang bahaya, tapi pikirin bayi di perut kamu itu," ucap Livia menasehati sambil berusaha menurunkan egonya sedikit.
Rania mengangguk pelan, "Iya Kak, aku ngaku salah dan ceroboh. Aku kira semua akan baik-baik saja, tapi aku kepeleset sampai ke bawa ke tengah yang dalam itu," ucapnya dengan suara serak khas menangis.
"Di sebelah sana memang lebih dalam. Sekarangkan sudah tahu, jadi nanti hati-hati lagi."
Rania lalu menatap Livia dengan senyuman tipis di bibirnya, "Sekali lagi makasih ya Kak Livia, aku tahu Kakak memang baik."
__ADS_1
Livia hanya berdehem pelan tanpa menatap karena merasa malu, selain itu Ia gengsi sekali, tapi tidak bisa berbohong rasanya senang dikatai sebagai orang baik.