
Rania sebenarnya tidak masalah jika harus menginap, kasihan juga pada Yoga yang pasti kelelahan harus menyetir berjam-jam. Respon dari Bunda Yoga juga sangat ramah, membuat Rania betah.
"Kamu bisa tidur di sini nanti malam," kata Yoga sambil membukakan sebuah pintu kamar.
Rania pun masuk dan memperhatikan kamar itu dengan senyumannya, "Makasih ya Mas," ucapnya.
"Aku yang bilang makasih karena kamu gak maksa untuk pulang ke desa di hari ini," balas Yoga.
"Mas pasti capek bolak-balik, sedangkan aku selama perjalanan cuman tidur. Lagian Mas juga pasti masih kangen kan sama orang tua Mas?"
"Hehe iya, soalnya sudah lumayan lama gak pulang," jawab Yoga sambil terkekeh kecil.
"Kenapa gak pulang? Kan Mas punya kendaraan pribadi, di anter supir juga mungkin bisa."
"Ya kamu tahu sendiri aku sibuk kerja di sana, apalagi aku kan yang gantiin Pak Candra sebagai Direktur di sana." Yoga merasa bangga sendiri bisa mencapai jabatan itu, dengan kerja kerasnya sendiri.
Rania menganggukan kepalanya mengerti, "Kalau boleh tahu, Mas Yoga apa punya saudara?"
"Enggak, aku anak tunggal, jadi harapan orang tua aku."
"Mereka pasti bangga punya anak yang sukses kaya Mas Yoga," sahut Rania memuji.
"Ah kamu bisa saja Rania, aku kan jadi malu," ucap Yoga sambil menahan senyumannya.
Yoga pun keluar dari kamar memberikan waktu pada Rania untuk beristirahat. Karena waktu sudah mau jam tiga sore, Rania memutuskan tidak tidur dan menonton TV saja. Tetapi lama-lama ternyata bosan juga, Rania pun memutuskan keluar kamar.
Sama seperti rumah Candra dulu, banyak lorong dan ruangan. Rania jadi khawatir tersesat, Ia akan sedikit berjalan-jalan melihat rumah saja. Saat akan berbelok ke sebuah pintu menuju halaman belakang, Rania menghentikan langkah nya mendengar obrolan dari luar.
"Kamu serius suka sama Rania?" tanya Aisyah.
"Iya Bunda, aku serius. Memangnya kenapa?" tanya Yoga balik.
__ADS_1
"Tapi Rania itu kan sedang hamil. Memang dia sudah berpisah dengan mantan suaminya, tapi status dia berarti janda anak satu. Kamu tidak masalah?"
Yoga terlihat meminum kopinya sedikit, "Tidak masalah, aku menyukai dia apapun tentang Rania."
"Dasar, Bunda gak nyangka punya anak tukang gombal kaya kamu," ledek Aisyah membuat Yoga tergelak tertawa.
Beralih pada Rania, perempuan itu terlihat speechless mendengar percakapan di antara dua orang itu. Sebelah tangannya terangkat menyentuh dadanya, bisa merasakan detakan cepat di sana.
Rania tidak salah dengarkan tadi? Yoga menyukainya? Bagaimana bisa? Bukan bermaksud percaya diri, tapi sebenarnya Rania sudah menyadari ini dari lama. Sikap pria itu yang terlampau baik dan selalu menemuinya hampir setiap hari itu sudah menunjukan.
"Loh Rania, kamu di sini?" tanya Yoga terkejut sendiri. Pria itu tadinya akan ke kamar mandi, tapi saat berbelok malah berpapasan dengan Rania.
"I-iya Mas," jawab Rania sambil tersenyum kikuk.
"Sejak kapan? Apa.. Kamu mendengar obrolan aku dengan Bunda?"
Rania menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, "Maaf Mas aku bukan bermaksud lancang, aku cuman kebetulan lewat dan gak sengaja dengar," ucapnya menahan malu.
Bukannya tersinggung atau bagaimana, Yoga malah dibuat tersenyum tipis. Ia sempat melirik ke luar dimana Bunda nya masih duduk santai di kursi kayu. Sepertinya ini waktunya Yoga untuk jujur mengungkapkan isi hatinya.
"Em itu--"
"Apa kamu dengar aku yang bilang sama Bunda kalau aku suka sama kamu?" tanya Yoga blak-blakkan.
Rania menatap pria itu terkejut, tapi tidak lama menunduk merasa gugup, "Mas Yoga jangan bercanda," tegur nya.
"Bercanda gimana? Masa aku bercanda. Kalau aku bercanda gak mungkin dong bilang gitu ke Bunda," kata Yoga menjelaskan.
"Benar juga." Batin Rania.
Tetapi rasanya seperti tidak mungkin Yoga itu menyukainya, Rania kan bukan siapa-siapa dan hanya orang biasa. Belum lagi statusnya ini yang belum jelas berpisah dengan Candra.
__ADS_1
"Rania, aku sayang sama kamu," ujar Yoga serius, bibirnya melengkungkan senyuman tipis.
"A-apa?" Rania semakin syok mendengar itu.
Tiba-tiba Yoga membawa kedua tangannya, "Entah kenapa aku suka saat bersama kamu, aku ingin selalu bersama kamu. Setiap kamu sedih, aku ingin selalu ada di samping kamu, menemani kamu. Aku gak suka lihat kamu menangis, bisakah aku menjadi teman hidup kamu?"
Percayalah sekarang Rania sedang berdebar sampai membuatnya terdiam tidak bisa berkata-kata mendapatkan pernyataan cinta dari Yoga, yang selama ini dianggap teman. Rania berusaha menyadarkan dirinya sendiri, Ia pun perlahan melepas genggaman tangan itu.
"Mas Yoga, maaf aku gak bisa," jawab Rania pelan.
"Kenapa?" tanya Yoga terkejut sendiri.
"Bukan berarti Mas bukan tipe aku atau bagaimana. Mas sangat baik, perhatian dan selalu nolongin aku. Tapi aku sadar diri, aku gak pantas untuk Mas Yoga. Aku ini cuman orang biasa, belum lagi status aku ini yang belum jelas," jawab Rania menjelaskan.
Yoga terlihat menghela nafasnya, "Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa kamu Rania, yang pasti aku senang dan ingin selalu bersama kamu."
Yoga melanjutkan jika dirinya pun mengerti dengan status Rania yang belum jelas berpisah dengan Candra, dan pria itu bilang akan menunggunya sampai Rania benar-benar terlepas dari Candra.
Tanpa bisa ditahan kedua mata Rania berkaca-kaca, merasa terharu ada lelaki tulus seperti itu. Tetapi bukannya langsung diterima, pernyataan Yoga tadi malah membuat Rania semakin minder dan merasa tidak pantas.
"Mas Yoga bisa dapetin perempuan yang lebih baik dan sempurna dari aku," ucap Rania.
Tatapan Yoga menjadi getir, apa itu maksudnya Rania menolaknya lagi ya? Biasanya kata-kata dari perempuan selalu seperti itu. Tangan Yoga yang dari tadi menggenggam tangan Rania pun perlahan melemah.
"Aku gak mau nama baik Mas jadi buruk karena aku, Mas Yoga itu selama ini hidupnya sudah baik-baik, jangan sampai karena aku, Mas malah mendapat masalah baru," ujar Rania merendah.
"Kamu bicara apa sih Rania?" tanya Yoga pelan, dadanya sesak sendiri mendengar itu.
"Aku serius Mas, Mas bisa dapat perempuan yang lebih baik segalanya dari aku. Orang tua Mas juga pasti tidak akan setuju kalau kita bersama, apalagi status aku yang seorang janda." Kata Rania pahit.
Rania merasa tidak pantas dan minder jika sampai menerima cinta Yoga, ya walau jujur Rania pun mulai ada benih suka pada lelaki baik itu. Tetapi Rania pikir Yoga tidak pantas bersamanya yang kehidupannya banyak masalah ini, belum lagi status kasta mereka yang berbeda jauh.
__ADS_1
"Maaf Mas Yoga," ucap Rania terakhir sebelum perempuan itu berbalik dan pergi dari sana.
Yoga menatapnya dengan tatapan sendu, nafasnya terlihat berat tanda jika pria itu sedang merasa sedih. Sepertinya Yoga terlalu terburu-buru, tapi Yoga tidak akan menyerah dan akan terus berjuang.