Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Dunia Barunya


__ADS_3

Melihat perjuangan Rania saat melahirkan, membuat Yoga sampai tidak bisa menahan air matanya. Ia benar-benar setia menemani perempuan itu, tangannya pun terus menggenggam dengan erat enggan melepaskan.


Suara tangisan bayi menandakan proses melahirkan telah selesai. Yoga langsung bernafas lega, dadanya pun merasa senang karena serasa kesakitan Rania pun berakhir. Sanking terlalu senang, Yoga sampai mengecup kening Rania.


"Kamu berhasil Rania, kamu hebat. Selamat ya," ucap Yoga.


Rania memgangguk dengan kedua mata terpejam nya. Terlihat dadanya naik turun, nafasnya tidak teratur karena kelelahan. Yoga lalu membantu perempuan yang terlihat lemah itu untuk minum dahulu, setelahnya kembali membaringkan.


"Selamat ya Bu Rania dan Pak Yoga, bayinya laki-laki sangat tampan. Beratnya tiga kilo dengan panjang badan lima puluh cm," ujar bidan itu.


"Terima kasih Bu bidan."


"Sama-sama. Pak Yoga mau gendong bayinya?"


"Em boleh," angguk Yoga agak ragu.


Saat bayi mungil itu berada dalam pangkuannya, perasaan Yoga membuncah bahagia. Benar, bayi ini sangat tampan. Yoga lalu sedikit merendahkan tubuhnya agar Rania pun bisa melihat.


"Kamu sudah menyiapkan nama untuk dia?" tanya Yoga.


"Ada, tapi memangnya tidak apa aku yang menamai dia?" tanya Rania balik.


"Tentu saja tidak papa, kan kamu orang tuanya dan menjaga dia selama sembilan bulan, kamu berhak ngasih dia nama." Yoga tahu Rania hanya khawatir, seharusnya kan yang lebih berhak itu si suami.


Rania lalu mengusap pipi bayinya dengan pelan, "Namanya Daffin Haidar, seseorang yang menyayangi dan pemberani."


"Nama yang bagus," puji Yoga.


Mungkin kalau Rania dan Candra masih bersama, Daffin akan diberikan marga di akhir namanya, tapi Rania merasa tidak berhak karena dirinya sendiri yang meminta untuk berpisah. Ya walau memang sampai sekarang status mereka masih bersama.


"Bu Rania bayinya bisa mulai diberikan asi, Pak Yoga mungkin bisa bantu," ucap si bidan mendekat.


Yoga yang mendengar itu tersentak sendiri, "Em biar Nenek Rania saja yang bantu, kalau gitu saya tunggu di luar ya."


Ada saat menemani Rania melahirkan saja bagi Yoga sudah cukup dan bersyukur, tapi untuk membantu Rania memberi asi pada bayinya, Yoga merasa tidak berhak. Ia kan bukan mahramnya Rania, jadi tidak boleh lah.

__ADS_1


Saat Yoga keluar dari ruangan itu, Nenek Ima pun langsung beranjak menghampirinya. Dengan perasaan senang, Yoga lalu memberitahu jenis kelamin bayi Rania beserta berat badan dan panjang tubuhnya.


"Syukurlah Rania dan bayinya selamat dan baik-baik saja, Nenek khawatir sekali di sini," ucapnya sambil menghela nafas lega.


Yoga lalu mengalami tangan wanita paruh baya itu, "Terima kasih banyak ya Nek sudah izinin aku untuk yang temenin Rania melahirkan di dalam. Seharusnya kan yang lebih berhak Nenek, aku bukan siapa-siapa."


"Tidak apa nak Yoga, kamu juga pasti mau kan temenin Rania di dalam?"


Dengan malu-malu Yoga pun mengangguk jujur.


"Nenek tahu kamu menyukai Rania, Nenek rasa kamu tulus menyayangi dia dan ingin selalu menjaganya. Semoga nak Yoga serius ya mau dengan Rania, bisa menerima dia apa adanya. Nenek ikut senang jika Rania bersama nak Yoga yang baik ini."


Mendapatkan restu itu tentu saja membuat Yoga senang sampai tidak bisa menahan senyumamnya. Itu berarti Ia mendapatkan lampu hijau, Nenek Ima mengizinkan dirinya pdkt dengan Rania. Ternyata ada untungnya menjaga sikap kepada semua orang.


"Bu bidan bilang Rania sudah bisa kasih asi ke bayinya, Nenek mungkin bisa bantu Rania, karena aku tidak boleh," kata Yoga.


"Nenek boleh masuk?"


"Iya masuk aja, sekarang aku yang tunggu di luar. "


Saat Nenek Ima masuk ke dalam dan melihat Rania di ranjang bersama bayinya, air matanya pun akhirnya luruh juga. Semakin mendekat matanya pun semakin jelas melihat bayi mungil yang dibungkus kain hangat itu.


"Rania, ini.."


"Hehe iya, sekarang Nenek sudah punya cicit. Gimana?" tanya Rania.


"Tampan sekali, sayang semoga kamu menjadi anak yang baik dan berbakti pada orang tua kamu ya," ucap Ima sambil mengelus pipi bayi itu pelan.


Rania lalu mengizinkan Neneknya itu menggendong bayinya, melihat Neneknya yang sempat ragu membuat Rania terhibur sendiri. Reaksi Neneknya yang gugup begitu, membuat Rania tahu jika Neneknya hanya terlalu senang.


Neneknya tidak mungkin tidak bisa menggendong bayi, toh sudah mengurusnya dari kecil. Sekarang Neneknya pasti akan ikut merawat bayinya, Rania senang karena Ia tidak sendirian.


"Bagaimana rasanya melahirkan?" tanya Nek Ima.


"Hm rasanya luar biasa, aku masih ingat sampai sekarang," jawab Rania sambil tersenyum tipis bermakna banyak arti.

__ADS_1


"Tapi kamu hebat, biasanya melahirkan pertama kali itu sangat berat dan butuh banyak perjuangan."


Rania mengangguk pelan, "Memang aku juga hampir menyerah, bahkan mata aku berat banget, tapi bidan terus teriakin aku untuk jangan nutup mata karena akan gak sadarkan diri."


Ima lalu mengecup kening Rania berkali-kali, tanda jika wanita paruh baya itu sangat bangga kepada cucunya. Rania sangat hebat, tapi pasti di hati kecilnya tetap merasa sedih karena saat melahirkan begini tidak ditemani sosok suami.


"Lalu Yoga bagaimana saat nemenin kamu tadi?" tanya Nek Ima penasaran.


Mengingat pria itu membuat Rania terkekeh kecil. Ia memang tidak ingat semua ekspresi Yoga karena Rania pun sibuk mengurusi dirinya sendiri, tapi Rania sedikit ingat bagaimana pria itu semalam menemaninya melahirkan.


"Dia sangat lucu, ikut panik sendiri melihat aku lahiran. Kadang Yoga sampai gak mau lihat dan milih mejamin mata, katanya gak kuat lihat aku yang ngeden kesakitan gitu," jawab Rania.


"Sepertinya keputusan Oma buat nyuruh dia nemenin kamu benar, Yoga memang lelaki yang hebat."


Nenek Ima lalu membantu Rania duduk untuk memberikan asi kepada bayinya. Cucunya itu walaupun sudah bisa diajak mengobrol, tapi terlihat masih kelelahan.


"Kok gak keluar-keluar ya Nek?" tanya Rania sedih karena asinya sulit keluar setelah beberapa kali di coba pun.


"Sabar nak, memang awal melahirkan selalu begini. Butuh waktu, nanti juga asinya pasti keluar kok."


"Tapi kasihan Daffa, dia nangis terus," rengek Rania, setelah melahirkan jadi agak sensitif.


"Daffin gak papa, bayi kan memang banyak menangis. Dia lagi biasain diri. Sekarang kamu tenangin diri, jangan terlalu banyak pikiran dan usaha biar asi kamu keluar."


Untungnya bidan tadi pun selalu membantu Rania, kali ini memberitahu cara agar asinya keluar dengan memakai sebuah alat khusus. Rania yang minim ilmu tentang hal begitu karena baru pertama kali pun menurut-nurut saja.


Tok tok!


"Rania, boleh aku masuk?" izin Yoga sambil melengokan kepalanya ke dalam.


"Iya, ada apa Mas?" tanya Rania.


"Ini tentang Pak Candra."


Mendengar satu nama itu, membuat detak jantung Rania menjadi cepat. Kabar apa yang akan diberitahukan Yoga tentang Candra? Bukan kabar buruk kan?

__ADS_1


__ADS_2