
Selesai ber teleponan dengan Elisa, Daffin menyimpan ponselnya dan memfokuskan pandangan pada Cynthia. Rasanya gugup sekali untuk mengatakan ini, mungkin karena status mereka sekarang beda.
"Tadi Elisa yang telepon, dia bilang ternyata hari ini gak kuliah karena sakit. Sepulang dari Kampus, apa boleh aku jenguk dia?" tanya Daffin meminta izin. Ia tidak mau seenaknya, tidak mau membuat Cynthia curiga.
"Dia sakit apa emangnya?" Cynthia malah balik bertanya.
"Gak tahu, dia bilang badannya lemes banget sampai gak bisa bangun. Aku nyuruh dia minta tolong teman kostnya dulu untuk temenin, takut Elisa butuh sesuatu," jawab Daffin.
Cynthia terlihat mengangguk pelan mengerti. Sekarang Ia tahu kenapa Daffin terlihat khawatir saat ber teleponan dengan Elisa. Jadi haruskah Cynthia memberikan izin?
"Iya pergilah, dia juga cuman tinggal sendirian kan?"
Daffin sempat terbelak mendengar itu, "Kamu izinin aku pergi jenguk Elisa? Kamu serius kan? " tanyanya.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Aku kira kamu gak akan ngasih izin, kalaupun enggak ya aku bakal minta dia langsung anterin ke rumah sakit aja."
Tetapi Cynthia juga tidak setega itu, apalagi di sini Elisa hanya punya Daffin. Memang sih Cynthia agak cemburu, tapi Ia juga harus tahu waktu. Keadaannya sekarang sedang genting.
"Tapi nanti kamu ikut ya? Aku gak mau buat kamu salah paham atau mikir aneh-aneh," ucap Daffin memelas.
"Iya aku ikut," angguk Cynthia.
Rasanya Daffin lega sekali bisa mendapatkan izin pergi, ternyata Cynthia memang baik, dirinya saja yang terlalu takut. Mau bagaimana lagi, hubungan Cynthia dan Elisa kan selama ini sangat buruk.
Selesai kelas terakhir, keduanya langsung berangkat ke kost an Elisa. Sempat Cynthia juga menawarkan untuk membeli buah-buahan dan makanan untuk Elisa, tapi Daffin bilang nanti saja karena harus memastikan dulu.
Tok tok!
"Elisa, ini aku Daffin," panggilnya dari luar kamar.
Tidak lama pintu kost an pun terbuka, tapi yang membukakan adalah Ibu kost. Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum ramah menyambut keduanya.
__ADS_1
"Adek ganteng ini bukannya pacarnya neng Elisa ya?" tanya Ibu kost itu.
"Hah? Bukan-bukan Bu, saya cuman temen Elisa. Kalau pacar saya yang ini," jawab Daffin sambil mengusap bahu Cynthia yang duduk di kursi roda.
Ibu kost itu terlihat menutup bibirnya merasa malu, "Oh iya aduh maaf ya," katanya.
"Gak papa Bu, apa Ibu yang nemenin Elisa dari tadi?" tanya Daffin mengalihkan obrolan agar tidak terlalu canggung.
"Iya Ibu yang temenin, ada anak kost yang ngasih tahu katanya neng Elisa sakit. Badannya panas banget, dia juga gak mau makan, cuman minum," jawabnya dengan raut sedih.
Daffin yang mendengar itu tentu saja semakin khawatir, Ia pun izin masuk ke dalam bersama Cynthia. Ibu kost sebelum pergi sempat bilang padanya untuk membawa Elisa ke rumah sakit saja, dan Daffin pun mengangguk patuh.
"Elisa," panggil Daffin saat duduk di sebelah kasur lantainya.
Perlahan mata yang tertutup itu terbuka, bibir pucat itu lalu melengkungkan senyuman tipis melihat kedatangan orang yang ditunggu nya dari tadi. Sayangnya tangannya terlalu lemas untuk menggapai.
"Daffin, kamu di sini?" tanya Elisa pelan dengan suara seraknya.
"Maaf ya aku baru datang, kelasnya baru selesai. Katanya kamu belum makan ya? Kenapa?"
"Makanya harus makan biar gak lemes. Padahal itu bubur loh, mau aku suapin lagi gak?" tawar Daffin verbaik hati.
"Enggak mau, gak enak," geleng Elisa.
Daffin menghela nafasnya berat melihat penolakan itu, tapi Ia pun tidak tega memaksa karena Elisa benar-benar terlihat lemah sekarang. Kepalanya lalu menoleh ke belakang pada Cynthia, pacarnya itu hanya diam memperhatikan.
"Aku bawa kamu ke rumah sakit ya? Biar dokter periksa dan tahu kamu sakit apa, tapi kayanya kamu bakal dirawat," ajak Daffin sambil menepuk kaki Elisa yang tertutupi selimut.
"Terus nanti di sana aku bakal sendirian?" tanya Elisa mengkode.
Daffin malah terdiam, merasa bingung harus menjawab apa di situasi seperti ini. Daffin pun mengalihkan pertanyaan itu dan langsung menarik Elisa membantunya duduk dan berdiri, akan langsung membawanya pergi.
Cynthia lalu memanggil Ibu kost lagi, meminta bantuannya untuk mengemasi beberapa pakaian dan kebutuhan Elisa untuk nanti di rumah sakit. Untungnya Ibu kost sangat baik, jadi tidak menolak.
__ADS_1
"Hati-hati ya di jalannya, semoga neng Elisa bisa cepet sembuh. Ibu gak tega lihat neng Elisa sakit gini," kata Ibu kost.
"Iya Bu, kalau gitu kami permisi dulu," pamit Daffin.
Kalau dulu Elisa selalu tidak mau duduk di belakang dan selalu mau di sisinya. Tetapi mungkin karena sekarang sedang sakit, jadi tidak protes saat di dudukan di kursi belakang, sedang Cynthia di depan.
Sesampainya di rumah sakit terdekat, Daffin pun langsung memanggil suster untuk membawa Elisa. Daffin tentu tidak melupakan Cynthia juga, Ia mendorong kursi roda Cynthia ke ruangan diperiksa Elisa.
"Bagaimana dokter? Teman saya itu sakit apa?" tanya Daffin sambil mendekat melihat dokter itu keluar ruangan.
"Setelah saya periksa pasien ini terserang penyakit tipes, gejalanya itu bisa terjadi karena tidak makan dan lingkungan yang kurang bersih. Untung saja kamu segera bawa dia kesini," jawab dokter itu menjelaskan.
"Jadi apa Elisa akan dirawat di sini?"
"Iya, jika kondisinya semakin membaik dia baru bisa pulang."
"Baik dokter, saya akan lunasi biaya administrasi nya sekarang," kata Daffin.
Setelah dokter itu pergi, Daffin pun mengajak Cynthia masuk ke ruang rawat Elisa. Perempuan itu terlihat sudah diganti pakaiannya dengan baju pasien oleh suster, Elisa juga di infus.
"Terima kasih suster," ucap Daffin pada suster itu.
"Sama-sama, saya permisi." Suster itu pun keluar dari sana, meninggalkan mereka bertiga.
Daffin sempat mengira Elisa tidur, tapi ternyata perempuan itu katanya hanya merasa lelah. Tidak ada makanan yang di sediakan, tapi sepertinya tidak apa karena diberikan dari infus.
"Aku baru kali ini lihat kamu sakit begini, maaf ya Elisa aku gak cepat tanggap," ucap Daffin pelan.
"Gak papa, kamu kan kuliah," ujar Elisa pengertian.
"Kata dokter kamu akan dirawat di sini beberapa hari sampai kamu pulih, nanti kalau kamu makin baik baru bisa pulang," lanjut Daffin.
Elisa sempat melirik Cynthia, ternyata wanita itu mengikuti Daffin terus. Padahal sekarang Elisa ingin menghabiskan waktu dengan Daffin, sedang butuh sandaran nya.
__ADS_1
"Terus nanti malam aku sendirian di sini? Aku ngerasa sedikit takut, apalagi kamu pesan kamar untuk yang satu orang aja," tanya Elisa setengah mengkode.
"Em itu, nanti aku pikirin lagi ya," jawab Daffin pelan sambil melirik Cynthia.