Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 50


__ADS_3

Besok paginya Daffin bersiap berangkat kuliah. Pagi itu Ia terlihat lebih ceria dari biasanya, hatinya masih berbunga-bunga karena baru jadian dengan Cynthia. Bahkan lucunya semalam sampai terbawa mimpi.


"Daffin ini Mama buatkan bekal untuk kamu. Isinya kimbab sama sedikit kimchi, semoga suka ya," kata Livia memberikan kotak bekalnya.


"Ya ampun Mah sampai ngerepotin dibuatin bekal, tapi makasih banyak. Pasti aku makan dan habiskan," ucap Daffin sambil tersenyum lebar.


"Mama baru belajar buat kimbab, jadi pengen kamu cobain juga. Isiannya lumayan banyak, ya semoga aja bisa kamu makan." Livia terlihat tersenyum kikuk, sedikit gugup.


"Pasti enak kok, kelihatannya juga enak," sahut Daffin melihat dalam kotak, kebetulan tutupnya warnanya terawang jadi bisa dilihat dari luar.


"Kamu semangat ya kuliahnya." Setiap hari Livia pasti selalu mengatakan ini, benar-benar sudah menganggap Daffin anaknya sendiri.


Sebelum pergi tidak lupa Daffin menyalami tangan Livia, lalu berangkat. Seperti biasa Ia akan menjemput Elisa dahulu. Nanti mungkin Daffin harus tanyakan pada Cynthia, tidak mau kekasihnya itu salah paham jadi harus minta sarannya.


"Permisi lihat Elisa gak?" tanya Daffin pada salah seorang penghuni di kost an itu.


"Hari ini belum lihat dia sih, tapi kayanya dia udah berangkat kuliah. Kamarnya juga kelihatan sepi," jawab perempuan itu.


"Oh gitu ya, makasih."


Tumben sekali pikirnya Elisa berangkat duluan, biasanya juga selalu menunggu jemputan di depan gerbang. Daffin sempat menelepon, tapi nomor Elisa tidak aktif. Daffin pun mencoba berpikir positif dan yakin Elisa sudah pergi lebih dulu.


Pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai pergi dari sana. Ia akan langsung ke rumah Cynthia saja, menjemput pacarnya itu. Terlihat Cynthia pun sudah menunggu di depan, dan Daffin langsung membantunya masuk.


"Kemana dia?" tanya Cynthia yang sempat melirik ke belakang, tapi tidak menemukan Elisa.


"Gak tahu, tadi aku ke kost annya tapi kata temennya udah pergi duluan. Aku juga sempat telepon Elisa, tapi gak aktif," jawab Daffin sambil tetap fokus menyetir.


"Tumben, biasanya juga kan selalu ngintilin kamu kemana-mana." Nada suara Cynthia jadi agak ketus jika membahas Elisa.


Daffin sempat melirik sekilas pacarnya itu, sepertinya harus Ia bicarakan sekarang. Mumpung Elisa pun tidak ada, jadi suasananya tidak akan canggung.

__ADS_1


"Apa kamu merasa keberatan tentang pertemanan aku dengan Elisa? Aku mau kamu jawab jujur aja," tanya Daffin meminta pendapat.


"Kamu serius mau jawaban jujur dari aku?" tanya Cynthia memastikan lagi.


"Iya, aku cuman gak mau aja karena ini buat hubungan kita kenapa-napa. Lebih baik dibicarakan dari awal, biar aku pun bisa jaga sikap."


Cynthia dibuat tersenyum mendengar itu, merasa terharu karena Daffin bersikap dewasa begitu, seperti mementingkan kebahagiaannya. Kalau begitu, Cynthia pun akan menjawab jujur saja.


"Kalau boleh jujur sebenarnya aku agak cemburu kamu punya temen dekat kaya Elisa. Apalagi dia kan suka sama kamu, terus kamu mau hadapin dia gimana?" tanya Cynthia.


"Aku kemarin sudah bicara dengan Elisa, aku juga jujur kalau sekarang kita pacaran," jawab Daffin.


"Oh ya? Terus gimana reaksi dia?" pekik Cynthia. Ia kira mereka akan menyembunyikan dulu hubungan, tapi ternyata Daffin langsung jujur.


Daffin pun kembali menceritakan di mulai dari Elisa yang tiba-tiba ada di rumahnya. Daffin beralasan ingin mempertegas Elisa saja, meminta perempuan itu menjaga batasan dengannya.


Daffin juga bilang kalau Elisa sempat menangis dan memintanya kembali, tapi Daffin merasa sudah yakin dengan perasaannya sendiri. Sekarang dengan Elisa hanya ingin berteman saja.


Kepala Daffin sempat menoleh saat Cynthia menggenggam tangan kirinya. Melihat senyuman manis perempuan itu, membuat Daffin pun ikut tersenyum. Dengan repleksnya Daffin pun mengecup punggung tangan pacarnya itu.


"Aku kira kamu bakalan luluh sama dia dan kita.. Putus," kata Cynthia pahit.


"Enggak lah, mana mungkin aku setega itu sama kamu," jawab Daffin lalu tertawa kecil.


"Tapi kamu juga tanpa sadar sudah buat Elisa sakit hati, kamu gak mikirin perasaan dia juga?" tantang Cynthia, hanya ingin melihat jawaban pria itu.


"Aku pikir aku sudah memutuskan yang terbaik, lagi pula perasaan aku ke dia sekarang tidak lebih dari sebatas teman. Aku cuman mau Elisa mengerti, kalau aku juga ingin bahagia."


Cynthia yang tidak bisa menahan harunya lalu mencondongkan tubuhnya dengan susah payah, dan mengecup pipi Daffin. Pria itu sempat menatapnya terkejut, sedang Cynthia pun langsung mengalihkan pandangan.


"Hei apa itu tadi? Berani juga ya kamu," tanya Daffin menggoda. Giginya sampai terlihat semua karena terus tersenyum lebar.

__ADS_1


"Itu tanda terima kasih, aku bangga sama kamu," balas Cynthia jujur.


Sesampainya di kampus, mereka pun langsung turun. Daffin akan mengantar Cynthia dahulu ke kelasnya, setelahnya Ia pun akan pergi ke kelasnya sendiri. Sekarang mereka sudah terbiasa di perhatikan beberapa orang.


Saat kelas kedua selesai, Daffin dan Cynthia akan mengganjal perut kosong sebentar di kantin sebelum pelajaran ketiga di mulai. Seperti biasa Daffin pun yang memesankan makanan dan minuman, sedang Cynthia menunggu di meja.


"Makasih," ucap Cynthia saat pria itu menyimpan makanannya di depannya.


"Iya sama-sama, habiskan ya," perintah Daffin. Pria itu lalu duduk berhadapan dengan Cynthia.


Mereka terlihat makan dengan lahap, merasa lapar karena sudah jam makan siang juga. Di tengah obrolan, suara getaran ponsel Daffin di atas meja membuat obrolan pun terhenti. Melihat itu panggilan dari Elisa, Daffin dan Cynthia sempat bertatapan.


"Hallo Elisa, ada apa?" tanya Daffin tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Cynthia.


["Daffin, apa tadi pagi kamu ke kost an aku?"]


Bukannya langsung menjawab, Daffin malah salah fokus dengan suara Elisa yang serak dan lemah. Perasaannya pun tiba-tiba tidak enak, tapi Daffin harus tetap terlihat tenang.


"Iya tadi aku ke kost an kamu, tapi kamu gak ada di depan. Terus aku tanya sama seseorang, tapi dia katanya gak lihat kamu dan mungkin aja sudah ke Kampus," jawab Daffin.


["Aku gak kuliah hari ini, dari semalam badan aku meriang. Aku baru bangun, dan rasanya lemes banget."]


"Elisa kamu sakit?" tanya Daffin memastikan.


["Hm sepertinya, aku bisa minta bantuan kamu gak?"]


Daffin sempat menelan ludahnya kasar mendengar itu, Ia pun menatap Cynthia dengan perasaan campur aduk nya. Entah apa Cynthia mendengar percakapannya atau tidak.


"Iya nanti sepulang dari Kampus aku ke kost an kamu ya? Kamu coba telepon temen kost an kamu atau Ibu kost dulu kalau lagi butuh sesuatu. Setidaknya minum dulu atau paksakan makan sedikit. Jangan tidur terus," perintah Daffin.


Cynthia yang melihat Daffin se khawatir itu pada Elisa dibuat gundah sendiri. Daffin memang baik pada semua orang, tapi untuk yang pada satu ini, Cynthia selalu cemburu.

__ADS_1


__ADS_2