
"Elisa, kenapa kamu di luar?" tanya Daffin terkejut melihat sahabatnya itu duduk sendirian di teras rumah.
Elisa mengangkat kepalanya untuk melihat, senyumannya langsung terukir melihat Daffin sudah pulang. Elisa pun merentangkan tangannya meminta bantuan, dan Daffin dengan peka langsung menariknya.
"Aku tuh nungguin kamu pulang, kenapa lama banget sih di sana nya?" tanya Elisa protes.
"Ya maaf, aku kan di sana juga bantuin Cynthia juga temenin dia," jawab Daffin. Ada perasaan senang mendengar Elisa menunggunya pulang.
"Emangnya kamu gak kerepotan ngurusin orang lumpuh kaya dia?"
Daffin sampai tersentak sendiri mendengar itu, "Kamu ngomong apa sih? Kan aku yang sudah buat Cynthia begitu," ucapnya.
"Emang sih, tapi aku pikir Cynthia itu terlalu berlebihan sampai nyuruh kamu ini itu. Aku punya ide, gimana kalau kamu sewa pekerja aja buat jadi pelayan dia?" tanya Elisa sambil tersenyum.
Daffin mengusap tengkuknya memikirkan, sebenarnya bisa saja Ia juga menyewakan seseorang untuk menggantikannya. Tetapi pasti butuh biaya, dan Daffin merasa tidak mau merepotkan Papanya lagi.
Lagi pula Daffin sendiri yang sudah janji akan bertanggung jawab. Memang rasanya cukup merepotkan, Daffin juga harus membagi waktunya. Tetapi tidak apalah, sebagai lelaki yang bertanggung jawab ini sudah menjadi tugasnya.
"Gak papa, aku bisa kerjain ini sendiri kok," ucap Daffin.
Elisa terlihat menghela nafas berat seperti kecewa dengan jawabannya, "Aku tuh cuman gak suka ada orang yang suruh-suruh kamu begitu, apalagi dia cewek," katanya.
"Aku yakin Cynthia juga gak bermaksud begitu, mungkin ini adalah tebusan yang harus aku lakukan setelah apa yang aku lakukan pada dia," ujar Daffin yang selalu berpikir positif.
"Ya sudah deh terserah kamu, tapi kalau misal dia makin semena-mena sama kamu, kamu harus bersikap tegas ya," nasihat Elisa.
"Iya-iya."
Daffin lalu mengajak sahabatnya itu untuk masuk ke dalam rumah. Saat ditanya berapa lama Elisa menunggunya di luar, ternyata katanya hampir satu jam an. Padahal angin malam cukup dingin, tapi Elisa tetap menunggunya di luar.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Daffin.
"Belum, aku nungguin kamu pulang. Kayanya Tante sama Om juga belum pulang," jawab Elisa.
__ADS_1
"Ya ampun kenapa gak duluan aja? Ini kan sudah terlalu malam," ucap Daffin tidak enak.
"Gak enak lah kalau makan duluan, ini kan bukan rumah aku. Emangnya kamu sendiri udah makan?" Jangan bilang Daffin makan berdua dengan si Cynthia itu?
"Aku juga sih belum, ya sudah kalau gitu kita langsung makan sekarang aja yuk." Ajak Daffin menuju ruang makan.
Mungkin karena sudah mau pukul sembilan malam, jadi makanan pun sudah dingin tapi terlihat tetap enak. Di dapur juga tidak ada pembantu, memutuskan langsung makan saja tanpa perlu di hangatkan lagi.
Keduanya duduk bersebelahan dan mulai makan. Sesekali Daffin memperhatikan Elisa yang terlihat lahap, mungkin kelaparan karena belum makan, bahkan tadi saja kan menunggunya di luar.
"Besok kita baru cari kontrakannya ya, besok kan libur," ucap Daffin memulai lagi obrolan.
"Beneran ya? Kamu gak akan ke rumah sakit lagi kan?"
"Sayangnya besok aku harus ke rumah sakit dulu buat jemput Cynthia, dia sudah di bolehkan pulang. Mungkin kita baru cari kontrakan agak siangan, gak papa kan?"
Sebenarnya Elisa inginnya di hari libur itu Daffin menghabiskan waktu dengannya terus, tapi Elisa juga tidak bisa meminta begitu karena Daffin menganggap itu adalah tugas penting. Dan dengan berat hati, Ia pun mengangguk.
"Oh iya Daffin, aku boleh minta nomor Satria gak?" tanya Elisa sambil tersenyun-senyum.
"Belum, lagian aku juga malu." Biasanya kan laki-laki yang lebih dulu, tapi kali ini Elisa akan memulai duluan.
Elisa harus menurunkan gengsinya untuk mendekati Satria lebih dahulu, padahal selama ini Ia lah yang di kejar. Jantungnya terus berdetak cepat walau hanya menyebut nama itu, menandakan jika Elisa memang benar sedang tertarik.
"Kamu beneran suka sama dia?" tanya Daffin tanpa menatap, jika di perhatikan raut wajahnya tidak se cerah tadi.
"Iya beneran, belum pernah aku se tertarik ini sama cowok. Apalagi dia cukup deket sama kamu, jadi aku pikir pdkt kita gak bakalan lama hehe," ucapnya penuh percaya diri.
Daffin hanya tersenyum kecut, tidak tahu harus berkomentar apa. Haruskah Ia pun bilang pada Satria jika Elisa menyukainya? Ini akan sangat menyakitkan, tapi ini juga bukan pertama kali untuk Daffin.
***
Besok paginya sekitar pukul delapan Daffin sudah bersiap berangkat ke rumah sakit. Ia juga sudah izin pada kedua orang tuanya, dan tentu saja mereka mengizinkan. Saat menuruni tangga, Daffin malah di hadang Elisa.
__ADS_1
"Mau kemana nih? Kok wangi banget," tanya Elisa menggoda.
"Hehe mau ke rumah sakit lah, jemput Cynthia," jawab Daffin.
"Aku ikut ya?"
"Em mending kamu tunggu di rumah aja, aku takutnya di sana kamu malah jadi kerepotan bantu ini itu."
Elisa menggeleng kencang, "Enggak, pokoknya aku tetep mau ikut. " Karena Elisa ingin menjaga Daffin, takut si Cynthia itu kembali merepotkan nya.
"Huft ya sudah deh kalau maksa, tapi nanti aku minta kamu sama dia jangan ribut lagi ya? Gak enak juga kalau ada Mamanya," pinta Daffin agak memelas.
"Iya-iya," ucap Elisa tidak meyakinkan.
Keduanya lalu berangkat dengan mobil yang Daffin pinjam dari Papanya. Ia tidak pakai mobil sendiri karena kursinya hanya dua, jadi memilih mobil yang lebih muat untuk beberapa orang. Mungkin juga nanti akan banyak barang yang dibawa.
Sesampainya di rumah sakit, langsung menuju kamar rawat itu. Ternyata memang sudah ada Mamanya Cynthia, terlihat sedang berkemas-kemas. Daffin dan Elisa pun menyapa wanita paruh baya itu lebih dulu.
"Saya kira kamu tidak akan datang kesini untuk bantu Cynthia pulang," ucap Citra dengan nada suara menyindir. Mungkin kesal karena Ia harus bekerja repot sendirian.
Daffin tersenyum kikuk, "Maaf Tante aku agak telat, tadi cukup macet. Biar aku bantu ya Tante."
"Hm."
Daffin lalu membawakan dua tas yang pasti isinya pakaian itu, sedang Citra mendorong Cynthia di kursi roda keluar dari sana. Elisa sendiri ikut bantu bawa barang, tapi hanya barang kecil.
"Apa itu Mamanya?" tanya Elisa berbisik di sebelahnya.
Daffin menoleh, "Iya itu Mamanya Cynthia, kamu baru pertama kali ketemu dia ya?"
"Iya, kayanya sifat nyebelin dan sombong Cynthia itu turunan dari Mamanya ya? Masih untung kamu mau bantu kesini, tapi sikap Mamanya masih sinis gitu," gerutu Elisa menatap sinis di depannya.
"Syuut ah jangan ngomongin, gak enak kalau kedengeran," tegur Daffin canggung sendiri.
__ADS_1
Kenapa Elisa akhir-akhir ini jadi suka julid ya?