Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Berusaha Berbesar Hati


__ADS_3

"Kak Livia," panggil Rania pelan.


Livia membuka pintunya lebar sambil keluar, menatap dalam perempuan muda di depannya. Entah kenapa ada perasaan lega melihat Rania baik-baik saja, tapi Livia harus berusaha menahan ekspresinya.


"Kamu tahu Candra kecelakaan dari siapa?" tanya Livia.


"Dari Mas Yoga, kemarin dia ngasih tahu aku," jawab Rania.


Perhatian Livia teralih pada Yoga, tentu saja Ia mengenal pria itu karena tangan kanan suaminya. Tetapi yang membuat Livia bingung adalah kenapa Yoga dan Rania bisa bersama? Apa mereka saling kenal?


"Maaf Bu Livia saya mengajak Rania, dia terlihat khawatir sekali pada Pak Candra dan saya ajak saja dia kesini untuk melihat kondisinya langsung," ucap Yoga tidak enak, khawatir dianggap lancang.


"Tidak apa, malah bagus kamu bawa dia kesini," sahut Livia, "Kalian hanya berdua?"


Yoga dan Rania pun mengangguk, lalu mereka dipersilahkan Livia masuk ke dalam ruang rawat itu. Tatapan Rania menjadi sendu melihat Candra yang terbaring lemah di ranjang, dengan alat bantu pernafasan dan alat detak jantung di sebelahnya.


"Aku sebenarnya sudah larang dia pergi kemarin malam, kondisi dia sedang drop. Tapi Candra bilang dia terlalu sibuk, dan tidak mau membuang kesempatan lagi untuk menemui kamu Rania," kata Livia tanpa menatap.


Rania menggigit bibir bawahnya tanpa sadar mendengar itu. Hatinya berkecamuk sekali, merasa Candra terlalu nekad dan tidak memikirkan dirinya sendiri. Padahal kecelakaan nya bukan salah Rania, tapi tetap saja Rania merasa tidak enak.


"Jadi kamu pulang ke desa Rania?" tanya Livia.


"Iya Kak," jawab Rania pelan.


"Kenapa kamu pergi?"


"Em itu--"


"Aku tahu, pasti kamu sudah menemukan surat kontrak itu ya?" sela Livia.


Rania pun mengangkat kepalanya menatap Livia dengan perasaan campur aduk. Tetapi Rania tidak mau bohong lagi, Ia pun mengangguk pelan.

__ADS_1


"Yoga bisa kamu keluar sebentar? Saya mau bicara dengan Rania," pinta Livia serius.


"Baik Bu, saya permisi." Yoga sempat melirik Rania, semoga saja perempuan itu baik-baik saja.


Livia lalu mengajak Rania untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu, kasihan juga melihat Rania yang berdiri dengan perut besarnya itu yang pasti sangat berat. Livia juga bahkan sampai membawakan segelas air untuk perempuan itu.


"Maaf Kak waktu itu aku bohong dan bilang tidak bawa apa-apa dari kamar kalian, aku.. Aku hanya merasa tidak menyangka saja saat membaca surat itu" ujar Rania pelan namun masih bisa di dengar.


"Kamu tidak perlu minta maaf, mungkin memang sudah waktunya Tuhan memberikan petunjuk untuk kamu," sahut Livia.


"Jadi isi surat perjanjian itu benar?" tanya Rania.


"Berat untuk mengatakan ini, tapi kalau kamu mau tahu, isi surat perjanjian itu memang benar aku dan Candra yang membuatnya setelah kamu dan dia pindah ke Jakarta," jawab Livia dengan ekspresi datar seperti biasanya.


Tidak bisa berbohong dada Rania sakit sekali mendengar itu, kedua matanya pun kembali berkaca-kaca, tapi Rania pikir ini bukan waktunya menangis. Rania ingin mendengar semua penjelasan mereka dahulu.


"Kenapa kalian tega melakukan itu? Memanfaatkan aku," ucap Rania lirih.


Livia tidak tahu harus menjelaskan apalagi, bibirnya juga terasa kelu untuk mengatakan. Melihat Rania yang terlihat rapuh begitu, membuat Livia merasa bersalah karena dirinya menjadi penyebab perempuan itu bersedih.


"Tapi seharusnya aku sudah mengerti alasannya, Mas Candra tidak akan pernah mencintai aku karena dia sangat mencintai Kak Livia. Mungkin dia harus berkorban dulu untuk pura-pura bahagia bersama aku, tapi pasti dia pun selalu memikirkan perasaan Kakak," ujar Rania pahit.


"Rania," panggil Livia pelan.


"Tapi maaf Kak, aku gak bisa ngasih bayi ini untuk kalian. Dia milik aku, aku gak bisa bayangin kita berpisah dan dia sama sekali tidak mengenali aku sebagai Ibunya," lanjut Rania.


Sudah cukup selama ini Rania selalu mengalah dan orang lain bertindak sesukanya kepadanya. Untuk masalah yang satu ini berbeda, Rania akan bersikap tegas mempertahankan miliknya.


"Aku mengerti Rania, tidak ada satupun Ibu yang mau di pisahkan dengan Ibunya," ucap Livia.


"Lalu kenapa kalian membuat kontrak seperti itu? Kalian merugikan dan hanya memanfaatkan aku." Rania langsung memejamkan mata karena suaranya jadi agak tinggi sanking emosinya.

__ADS_1


"Kami membuatnya saat masalah ini muncul, di saat itu hubungan aku dan Candra sedang benar-benar buruk. Saat itu aku minta cerai, tapi Candra tidak mau sampai dia melakukan berbagai cara, termasuk mengorbankan kamu." Livia bukan bermaksud memojokan Rania, Ia ingin menjelaskan semuanya saja.


"Mas Candra setega itu?" tanya Rania lirih.


Padahal selama ini Rania selalu berusaha menjadi istri yang baik dan penurut, kurang apalagi dirinya? Tetapi semua perjuangannya itu percuma saja, karena yang ada di hati Candra bukan dirinya, Rania harus mengerti ini.


"Tapi aku yakin sekarang Candra ada perasaan pada kamu Rania, pada bayi kamu juga, " ucap Livia entah apa maksudnya.


"Tidak, sampai kapanpun aku bukan orang berharga untuk Mas Candra. Dia mempertahankan aku hanya karena ingin bayi ini saja, setelah dia lahir aku akan langsung diceraikan," gumam Rania dengan tatapan kosong ke depan.


Livia jadi bingung harus menjelaskan apalagi, Rania terlihat sulit percaya sanking terlalu kecewa. Kalau saja ada Candra sekarang, pria itu pasti akan mengeluarkan semua isi hatinya untuk mendapatkan kepercayaan Rania lagi.


"Kak Livia tidak marahkan aku tidak memberikan bayi ini?" tanya Rania.


"Kenapa aku harus marah? Dia milik kamu Rania, dia anak kamu," jawab Livia. Ditanyai seperti itu membuat Livia jadi seperti orang jahat.


"Kalau begitu aku akan meminta berpisah dengan Mas Candra, semoga saja dia bisa mengikhlaskan bayinya juga."


Livia lalu membawa kedua tangan Rania, "Rania kenapa sampai berpikir sejauh ini?" tanyanya terkejut sendiri.


Rania tersenyum tipis sambil membalas genggaman tangan Livia, "Karena dari awal Mas Candra itu milik Kak Livia, aku yang jadi orang ketiga di hubungan kalian dan seharusnya pergi."


"Tapi--"


"Mas Candra mungkin pernah mengecewakan Kak Livia, tapi aku yakin dia sangat mencintai Kakak. Lagi pula aku sudah tidak bisa lagi ada dalam hubungan seperti ini, jadi aku memutuskan untuk menyerah," kata Rania berbesar hati.


Rania sudah memikirkan ini dengan baik-baik, kedatangannya ke sini juga ingin sekalian menyelesaikan masalahnya dengan Livia dan Candra. Walaupun sekarang Candra tidak sadar, tapi mungkin nanti Livia bisa memberitahunya.


"Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi, tapi bukan berarti aku tidak bahagia mengenal kalian. Kak Livia orang yang baik, begitupun Mas Candra. Banyak kejadian yang sudah kita lewati bersama, Tuhan mempertemukan setiap manusia dengan ada maksudnya. Benarkan Kak?"


Livia tidak bisa menahan rasa harunya lagi, kali ini perempuan itu lah yang lebih awal memeluk Rania. Dan kedua perempuan itu pun menangis bersama.

__ADS_1


__ADS_2