
Di pukul sembilan malamnya Candra dan Rania baru tiba di rumah mereka yang ada di Jakarta. Candra langsung menyuruh Rania istirahat karena pasti perempuan itu kelelahan selama di perjalanan, apalagi lebih lama karena macet di tol. Candra sendiri naik menuju kamarnya sendiri di lantai dua.
"Livia?" panggilnya saat masuk kamar, tapi kehadiran perempuan itu tidak terlihat, "Kemana dia?" tanyanya seorang diri.
Candra memutuskan mengganti bajunya lebih dahulu, lalu kembali mencari istrinya itu sampai ke lantai bawah juga. Di dapur saat sedang minum, Candra tidak sengaja melihat pembantunya. Candra pun langsung menanyakan keberadaan istrinya itu pada pembantunya.
"Tadi sore mbok gak sengaja ketemu Nyonya di luar, Nyonya sudah dandan cantik dan pergi naik mobil," jawab wanita paruh baya itu jujur.
"Mbok gak tanya dia mau kemana?" tanya Candra penasaran.
"Maaf Tuan, mbok gak enak kalau tanya."
Candra mengangguk mengerti, "Gimana aja dia pas saya dan Rania ke Bandung? Dia sering di rumah gak?"
"Mbok gak bisa pastikan terus Nyonya di rumah atau tidak, tapi kalau dari pagi sampai siang kayanya Nyonya kerja. Kemarin malam juga Nyonya pergi lagi, gak tahu kemana."
Anehnya perasaan Candra tidak enak, Ia mulai menduga hal aneh-aneh. Pria itu pun mencoba menghubungi istri pertamanya itu. Panggilan pertama tidak diangkat, sampai akhirnya yang kedua di angkat juga. Candra repleks menjauhkan ponselnya mendengar suara yang bising di sebrang sana.
"Hallo Livia, kamu dimana sekarang?" tanya Candra.
["Hm siapa sih ini? Ganggu aja."]
Kedua mata Candra terbelak mendengar itu, tapi Ia yakin suaranya dari Livia, "Livia kenapa di sana berisik sekali? Kamu sedang di klub malam ya?"
["Iya, kenapa sih telpon terus?"]
"Ngapain kamu kesana?"
["Ya senang-senang lah, biar beban pikiran juga hilang."]
Dari nada suara Livia yang meracau begitu, Candra yakin istrinya itu sudah mabuk. Candra pun nematikan panggilan begitu saja, Ia lalu mencari posisi Livia dan tanpa waktu lama langsung menemukannya. Ternyata benar perempuan itu berada di kelab malam terkenal, tanpa basa-basi Candra pun langsung pergi akan menyusul nya.
__ADS_1
"Jangan-jangan kemarin juga dia pergi ke sana?" Batin Candra.
Semenjak turun ke dunia model, Candra merasa Livia jadi sedikit nakal. Padahal dulu istrinya itu anak gadis baik-baik dan berprestasi sebagai pianis, sepertinya semua berubah karena pergaulan dari lingkungan. Candra hanya khawatir saja Livia kenapa-napa, apalagi tanpa pengawasannya.
"Dimana dia itu?" Candra memperhatikan dalam klub malam itu dengan mata memicing. Selain cahaya di sana yang membuatnya pusing, juga banyak sekali orang-orang.
Candra menelusuri tempat itu mencari keberadaan Livia, terkadang Ia bertabrakan dengan seseorang karena di sana banyak sekali orang. Tetapi Candra melihat seseorang familiar dengan dress yang Ia kenali juga, hanya saja perempuan itu sedang dirangkul seorang pria dan sepertinya mereka akan pergi.
"Kamu ikut aku ya cantik, ayo malam ini kita ber senang-senang," ucap si pria yang sedang menggiring mangsanya malam ini, merasa beruntung karena mendapatkan perempuan cantik.
"Heh tunggu!"
Candra berlari mendekat, saat berdiri di hadapan mereka kedua matanya terbelak melihat perempuan itu ternyata benar adalah Livia. Perasaan marah perlahan hinggap di dada nya, Ia pun menatap tajam pria yang sedang membawa istrinya itu.
"Siapa ya?" tanya pria bertato di lehernya itu.
"Kamu yang siapa, berani-beraninya sentuh istri saya," desis Candra dengan tatapan tajam.
"Mau kamu bawa kemana dia?"
"Em aku--"
"Lepaskan, kamu pasti mau macam-macam kan pada istri saya?" Candra pun mendekat lalu menarik Livia, hingga perempuan itu pun bersandar di tubuhnya dengan kedua mata masih terpejam.
"Sorry gue gak tau kalau dia udah ada pasangan," ucap si pria tanpa ada raut penyesalan di wajahnya.
"Untung saja kamu belum macam-macam pada istri saya, kalau sudah saya akan buat perhitungan dengan kamu!" ancam Candra serius, membuat si pria ciut lalu segera pergi dari sana.
Candra menghela nafas berat lalu melirik Livia yang sudah setengah sadar, tercium bau alkohol dari mulutnya membuatnya yakin jika perempuan itu minum banyak. Candra pun memutuskan menggendongnya sampai ke mobil, setelahnya Ia mengendarai pergi dari sana. Sesekali melirik Livia yang duduk di sebelahnya masih belum sadar.
"Astaga dia itu," gumamnya frustasi sendiri.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Candra menggendong Livia untuk masuk sampai ke kamar mereka di atas. Candra lalu menghirupkan obat cair yang memiliki aroma kuat di dekat hidung Livia, sampai kedua mata perempuan itu akhirnya terbuka juga. Candra pun membantu Livia untuk minum, setelahnya duduk bersandar di punggung ranjang.
"Candra?" tanya Livia dengan mata memicing mencoba melihat jelas pria yang duduk di dekatnya.
"Iya, kamu sudah sadar sekarang?" tanya Candra tajam.
"Hah?"
"Ck kamu ini apa-apa an sih Livia? Ada-ada saja tingkah kamu ini." Candra harus berusaha menahan emosinya, merasa percuma saja beradu argumen dengan orang mabuk.
"Maksudnya apa?"
"Kenapa kamu ke kelab sendirian? Terus minum banyak sampai gak sadar, kamu tadi itu hampir dijahatin sama orang lain. Teledor kamu itu!" geram Candra. Untung saja Ia cepat datang, kalau terlambat mungkin Livia pun sudah hilang dari sana.
Livia terlihat terdiam beberapa saat, sepertinya sedang berusaha mengingat kejadian tadi, "Kamu sudah pulang?" tanyanya.
"Kenapa baru tanya ini sekarang? Kalau aku gak pulang, terus nyusulin kamu ke sana. Mungkin sekarang kamu lagi mesra-mesraan sama cowo kurang ajar tadi," Candra menjawabnya dengan ketus.
"Kamu peduli sama aku?"
"Apa? Pertanyaan kamu ini konyol, kalau aku gak peduli mungkin aku bakal biarin kamu begitu aja tadi," balas Candra.
Senyuman miris terlihat di bibir Livia, "Aku pikir kamu gak akan peduli sampai repot-repot begitu untuk aku," gumamnya.
"Sudahlah sepertinya kamu masih mabuk, buang-buang tenaga aja nyeramahin kamu," dengus Candra. Tetapi baru saja beranjak, tangannya ditahan Livia membuat Candra kembali menatapnya.
"Aku pikir yang kamu pedulikan sekarang cuman Rania, ternyata kamu juga masih mikirin aku ya? Aku senang, tapi.. Hati aku masih ngerasa sedih gitu aja. Aku kenapa ya Candra?"
Tatapan Candra meluluh saat mendengar nada suara lirih dari Livia, dengan tatapannya yang sayu juga. Livia seperti sedang mengeluarkan isi hatinya, membuat hati Candra tersinggung karena menyadari jika sepertinya istrinya yang satu ini sedang kesepian.
"Ayo tidur, aku temani," ucap Candra. Dan pria itu pun ikut naik ke ranjang lalu membawa Livia ke pelukannya, setelahnya mereka pun tidur bersama. Entahlah apa Livia itu masih mabuk atau tidak, yang pasti kata-katanya tadi sangat menyentuh hati Candra.
__ADS_1