Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Pelampiasan


__ADS_3

Di tengah malam yang sunyi itu, terlihat bayangan seseorang yang duduk di kursi bar nya. Ada kepulan asap terlihat, menandakan jika si pria sedang melamun sambil merokok. Itu adalah Candra, sudah lebih dari tengah malam tapi pria itu belum tidur karena merasa tidak mengantuk.


"Apa perubahan Livia karena aku ya?" gumamnya bertanya-tanya. Inilah yang membuatnya mumet dan terus memikirkan tentang perubahan istri pertamanya itu yang semakin dingin.


"Aku juga merasa Livia selalu menjaga jarak, kami sulit menghabiskan waktu bersama lagi," lanjutnya.


Sebenarnya dulu juga Livia tidak selalu menunjukan ekspresi lebihnya, tapi setelah kedatangan Rania, sifatnya itu terasa semakin dingin. Candra jadi teringat lagi pada malam Livia mabuk, perempuan itu seperti sedang mengeluarkan semua uneg-uneg di hati untuknya. Sekarang Candra yakin jika Livia memang berubah karena ada Rania.


"Tapi kan harusnya dia mengerti seperti kesepakatan waktu itu," ucap Candra pelan.


Sebatang rokok sudah Candra habiskan, pria itu lalu turun dari kursi bar nya dan pergi dari sana. Bukannya naik ke lantai atas untuk tidur, Candra malah berbelok menuju salah satu kamar. Saat masuk ke kamar yang lampunya temaram itu, pandangan pertama Candra langsung jatuh pada seorang perempuan yang tidur dengan nyenyak nya di ranjang.


"Bagaimana bisa saat tidur pun dia terlihat lugu begitu?" Batinnya sambil tersenyum tipis.


Candra lalu duduk di sisi ranjang, Ia mengusap-usap wajah Rania sampai membuat perempuan itu terjaga. Rania terlihat mengerang pelan, mungkin kesal karena tidur nyamannya Ia ganggu. Rania lalu duduk dengan dibantu Candra.


"Mas Candra, ada apa malam-malam begini?" tanya Rania dengan suara serak. Saat melirik ke jam dinding, ternyata masih sangat malam.


"Aku kangen sama kamu," jawab Candra blak-blakkan.


"Hah? Gimana?" Namanya juga baru bangun tidur, jadi sulit mencerna perkataan orang lain.


"Aku mau minta itu, boleh, kan?"


Itu di sini pasti berhubungan badan, Rania terdiam beberapa saat berkecamuk dengan hatinya. Padahal bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi tetap saja selalu membuatnya gugup. Melihat pria itu yang menunggu dengan tatapan sayunya, membuat Rania akhirnya mengangguk.


"Maaf ya bangunin kamu," ucap Candra tidak enak, Ia benar-benar sudah kepalang.


"Gak papa."

__ADS_1


Candra pun duduk bergeser semakin mendekat, lalu merangkum wajah cantik itu. Perlahan wajah mereka mendekat dengan kedua mata terpejam, saat bibir keduanya bertemu tanpa bisa ditahan detak jantung keduanya menjadi cepat. Awalnya hanya kecupan biasa, tapi Candra mulai terburu-buru dan memperdalamnya.


"Mas," panggil Rania dengan suara tertahannya.


Candra hanya berdehem sambil menatapnya sekilas, tapi tetap melanjutkan membuka pakaian perempuan itu. Saat melihat kulit putih Rania tidak tertutup lagi, membuatnya tidak tahan untuk mengecupnya. Rania pun berusaha keras menggigit bibir bawahnya menahan *******.


"Apa Mas pergi diam-diam dari Kak Livia?" tanya Rania.


Pertanyaan itu membuat Candra menghentikan kegiatannya, "Menurut kamu?"


"Apa Mas dan Kak Livia juga sering melakukannya?" Kenapa juga Rania menanyakan ini? Entahlah, hanya penasaran saja.


"Tidak, dia tidak mau aku sentuh lagi," jawab Candra dengan ekspresi dalamnya.


"Kenapa?"


"Mungkin dia masih tidak terima."


"Sudahlah tidak usah bahas dia, sekarang kan hanya ada kita," ucap Candra, nanti moodnya jadi hancur lagi karena Candra akan merasa bersalah telah melakukannya dengan Rania.


Malam itu pun Candra terkesan sangat buru-buru sampai membuat Rania kewalahan. Walaupun begitu Candra terlihat masih hati-hati dan selalu mengecup perutnya yang mulai besar. Rania tahu Candra khawatir bayinya kenapa-napa.


"Kenapa dia lama sekali besarnya?" tanya Candra sambil menatap perut Rania yang tidak tertutupi apapun. Kepalanya ditopang dengan tangan berselonjoran di sisi Rania.


"Kenapa ingin cepat-cepat?" tanya Rania.


"Gak sabar aja dia lahir, nanti kira-kira akan mirip siapa ya?" tanya Candra penasaran, "Semoga dia mirip aku hehe."


"Kalau perempuan katanya lebih kuat gen wajahnya ke Papanya, kalau laki-laki ya ke Ibunya," sahut Rania. Walaupun pendidikannya tidak tinggi, tapi Rania tahu beberapa hal tentang kehamilan.

__ADS_1


"Berarti dia harus perempuan. Tapi mau perempuan atau laki-laki, yang penting dia sehat, kan?"


"Iya Mas."


Tatapan Candra terlihat sangat lembut pada perut Rania, tangannya pun dari tadi terus mengusapi perut ratanya itu. Rania berusaha memejamkan mata karena masih mengantuk, selain itu merasa lelah telah melewati kegiatan panas tadi. Tetapi karena Candra terus mengusapi perutnya, membuat Rania jadi sedikit kegelian.


"Rania, apa dulu kamu sempat terpikirkan untuk menggugurkan dia?"


Kedua mata Rania kembali terbuka saat mendengar pertanyaan itu, Ia pun melieik Candra, "Pernah," jawabnya jujur.


"Oh ya? Lalu apa kamu pernah melakukannya?"


"Tidak, aku tidak seberani itu. Padahal saat itu aku tidak mau mengakui dia, tapi anehnya aku masih mempertahankan." Rania dibuat tersenyum kecut membayangkan lagi saat kejadian waktu itu.


"Saya lega kamu tidak menggugurkan dia," ucap Candra jujur.


"Aku bingung, kenapa Mas Candra terlihat sangat menyayangi bayi ini?" Padahalkan dia hadir dalam kejadian tidak terduga, bahkan pria itu sebelumnya sudah menikah.


"Ya karena aku sudah menantikan dia dari lama. Sebenarnya Livia cukup sulit hamil, padahal aku sangat membutuhkan keturunan." Candra bukan bermaksud membeberkan aib istri pertamanya itu.


Rania mengernyitkan keningnya, baru mengetahui itu, "Lalu apa mungkin saat itu Mas sengaja perkosa aku?" tanyanya menduga itu.


"Tentu saja tidak," bantah Candra, "Aku juga tidak menyangka sendiri telah melakukan itu pada kamu. Bukan cuman kamu yang terpuruk, tapi aku juga terus merutuki kebodohanku."


Candra hanya tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Seorang pengusaha muda yang kaya dan berpendidikan malah melakukan hal bejad begitu pada pelayan di villa nya. Teman-temannya saat itu saja sampai terkejut saat Ia akan menikahi Rania, mereka tidak setuju karena Ia sudah menikah. Tetapi setelah Candra berikan pengertian, akhirnya mereka menerimanya walaupun dengan terpaksa.


"Aku pikir Mas sengaja perkosa aku," gumam Rania.


Candra lalu bergeser menyamakan posisi berbaring nya dengan Rania, sekarang mereka saling berhadapan, "Tapi jujur aku gak bohong kalau saat pertama ketemu kamu memang menarik, cantiknya berbeda dari yang lain."

__ADS_1


Bukannya merasa senang mendapatkan pujian begitu, Rania malah merasa terbebani, "Mas jangan bilang begitu, memangnya Mas gak mikirin perasaan Kak Livia?"


Candra langsung menelan ludahnya kasar merasa tertohok mendengar itu, Rania itu selalu saja memikirkan Livia lebih dari pada dirinya sendiri. Untuk membunuh kecanggungan, Candra pun menyuruh istrinya itu untuk tidur. Kasihan juga kalau tidur terlalu larut, takut tidak baik untuk bayi.


__ADS_2