Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Pernikahan Yang Mengesankan


__ADS_3

Sempat mereka khawatir keadaan Yoga belum pulih saat acara, tapi syukurlah pria itu baik-baik saja dan sehat seperti biasa. Acara pernikahan di laksanakan di sebuah gedung khusus di Kampung itu, cukup meriah dan banyak tamu yang hadir.


"Selamat ya Pak Yoga dan Bu Rania, semoga menjadi pasangan suami istri yang sakinah mawaddah warohmah," ucap si penghulu.


"Aamiin, terima kasih Pak sudah menyempatkan waktu hadir di sini," ujar Yoga.


"Sama-sama, sudah menjadi kewajiban saya," angguknya.


Selanjutnya Rania dan Yoga pun menandatangani buku nikah mereka dahulu. Memakaikan cincin pada pasangan sekalian mengabadikan moment. Selesai acara akad, langsung pindah ke kursi altar di depan.


Semakin siang para tamu semakin banyak. Yoga memang sengaja banyak mengundang orang, bahkan semua karyawan di pabriknya pun. Lagi pula kebahagiaan ini harus di abadikan dengan baik karena hanya satu kali seumur hidup.


"Kamu pasti capek, nih minum dulu," ucap Yoga sambil memberikan air mineral di gelas pada istrinya.


Rania pun mengucapkan terima kasih lalu meminun air itu lumayan banyak. Merasakan usapan lembut di keningnya, membuat Rania menatap bingung Yoga. Pria itu memang romantis, sampai menghapuskan keringat di keningnya.


"Semalam aku gak bisa tidur," kata Rania bercerita.


"Kenapa? Jangan bilang gugup ya?" tanya Yoga sambil tersenyum.


"Iya gugup banget, kaya baru pertama kali menikah," angguk Rania jujur.


"Memangnya dulu saat nikah sama Pak Candra gak gugup?"


"Ya sedikit sih, tapi lebih ke perasaan was-was dan takut keputusan aku nerima dia itu salah," jawab Rania.


"Terus perbedaannya sama aku apa?" tanya Yoga menunggu.


"Perasaan gugup itu lebih ke perasaan senang dan gak sabaran, tapi khawatir juga besok saat acara gak berjalan lancar," ungkap Rania.


Yoga lalu mengecup sekilas punggung tangan istrinya itu, "Aku juga sama kok ngerasain kaya kamu, aku malahan cuman tidur dua jam aja," sahutnya.


Rania mengerti, toh ini kan pernikahan pertama Yoga. Rania masih tidak menyangka sekarang mereka sudah resmi menjadi suami istri, bisa menikah dengan lelaki seperti Yoga.

__ADS_1


"Makasih ya Mas sudah memilih aku, aku benar-benar beruntung bisa ketemu sama kamu," ujar Rania tulus.


"Aku juga makasih karena kamu sudah memilih aku," Balas Yoga.


Bagaimana juga Rania tidak bisa memilih Yoga? Melihat perjuangan lelaki itu dari dulu dan setia menunggunya, membuat Rania terharu dan merasa beruntung. Rania juga sudah menyadari perasannya pada Yoga itu adalah perasaan cinta.


"Oh iya Daffin dimana ya?" tanya Rania sambil memperhatikan sekitar.


Di aula itu banyak sekali para tamu, membuat mereka bingung sendiri. Tetapi sudah pasti sih Daffin bersama Nenek Ima, bahkan tadi saja yang menggendong orang tua Yoga. Mereka semua benar-benar pengertian memberikan kesempatan.


"Aku lupa ngasih tahu kamu, katanya Pak Candra dan Bu Livia gak akan hadir ke acara pernikahan kita. Mereka sedang sibuk-sibuknya, aku bilang saja tidak apa," ucap Yoga memberitahu.


"Oh iya gak papa, aku juga sih gak terlalu berharap Mas Candra datang," sahut Rania pelan.


"Hm kenapa?" Yoga kira istrinya akan sedih, tapi dugaannya salah.


"Pasti akan jadi perbincangan orang lain, lagi pula kan agak kurang etis juga mantan suami hadir di acara pernikahan mantannya," jawab Rania masuk akal.


Ya walaupun hubungannya dengan Candra berjalan dengan baik dan damai, tapi tetap saja pandangan orang lain berbeda. Rania memang sudah berusaha tidak mempedulikan omongan orang lain, tapi tetap saja jika terdengar telinga tetap sakit hati.


"Enggak sih, biasa aja. Aku malah selalu khawatir sama Mas kalau Mas Candra kesini," kata Rania.


"Kenapa khawatirin aku?" tanya Yoga bingung.


Kali ini Rania lah yang menggenggam tangan suaminya itu, "Soalnya aku takut kedekatan aku dengan Mas Candra buat Mas cemburu."


Yoga yang mendengar itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya, toh memang benar yang dikatakan Rania. Ternyata perempuan itu cukup peka, sampai memikirkan perasaannya. Selama ini Yoga selalu bersikap biasa, tapi ternyata Rania menyadarinya.


"Iya aku cemburu, aku takut aja kamu ada perasaan lagi sama Pak Candra," jawab Yoga jujur.


"Mas tenang aja, aku selalu berusaha jaga batasan kok sama Mas Candra. Lagian kita juga udah punya pasangan masing-masing, jadi harus saling menghargai. Masa lalu ya masa lalu, sekarang sudah berbeda," ucap Rania dewasa.


Keduanya pun membalas senyuman dengan perasaan senang. Merasa mereka adalah pasangan yang cocok satu sama lain, karena bisa mengerti pasangannya. Perasaan beruntung pun hadir begitu saja di hati masing-masing.

__ADS_1


"Tapi Pak Candra dan Bu Livia katanya ngirimin kado untuk kita, ada untuk Daffin juga," lanjut Yoga.


"Oh ya? Terus dimana kirimannya?"


"Aku suruh seseorang untuk pisahin sama yang lain. Tadi sempat lihat, kadonya lumayan besar. Nanti kita buka sama-sama."


"Iya."


Menjalani acara dari pagi sampai sore rasanya sangat melelahkan, tapi walau begitu merasa senang dan bahagia. Acara pun berjalan dengan lancar, tidak ada masalah yang terjadi.


Setelah acara selesai, pasangan suami istri itu langsung pulang ke rumah Yoga. Tempat tinggal pria itu selama tinggal di Kampung ini. Keluarga yang lain tidak ikut, memberikan waktu bagi pasangan itu untuk berduaan.


"Aku kangen sama Daffin, apa dia akan baik-baik saja sama Nenek dan Mama Papa?" tanya Rania sedikit khawatir. Mama Papa di sini sudah pasti mertuanya.


"Tenang aja sayang, Daffin pasti akan baik-baik aja. Besok juga kan mereka akan ke rumah. Oke?" kata Yoga berusaha memberikan pengertian.


"Huft baiklah."


Rania lalu memutuskan mandi terlebih dahulu, merasa tubuhnya sangat lengket. Yoga sempat menggodanya akan memandikan, tapi Rania yang masih malu-malu menolak dengan lembut dan Yoga pun tidak terlalu memaksa.


"Mau buka kado dari Pak Candra sekarang?" tanya Yoga saat istrinya itu keluar dari kamar mandi.


Rania pun berjalan mendekat, "Boleh-boleh," angguknya yang memang penasaran juga.


Ada banyak kado di sana, tapi memutuskan membuka terlebih dahulu dari Candra dan Livia. Kadonya dibungkus dengan cantik, ada pitanya juga. Saat dibuka, ternyata isinya adalah  sebuah kain songket cantik. Di sana ada dua, satunya sudah pasti untuk Yoga.


"Wah mereka milihin yang bagus, kamu suka gak?" tanya Yoga.


"Suka banget, tapi bukannya kain ini mahal ya?" Rania pernah dengar, katanya satunya saja sampai jutaan.


"Memang lumayan, tapi untuk Pak Candra bukan apa-apa," angguk Yoga.


Mantan suami Rania itu sudah pasti akan memberikan hadiah mewah dan bagus. Di sana juga ada surat penyampaian selamat dari Candra Livia kepada mereka yang resmi menikah. Juga permintaan maaf karena tidak bisa hadir.

__ADS_1


"Kalau untuk Daffin hadiahnya banyak. Ada mainan, baju sama sepatu."


Candra itu memang sangat perhatian dan baik. Memberikan kado untuk mantan istrinya, tentu tidak melupakan juga hadiah untuk putranya.


__ADS_2