Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Tidak Diizinkan Pulang


__ADS_3

Saat Candra kembali ke ruang makan, terlihat Rania yang sudah menunggunya. Seperti biasa perempuan itu pun selalu membawakan makanan lebih dulu untuknya, Candra hanya diam memperhatikan sambil tersenyum tipis. Setelah Rania menghidangkan di depannya, tidak lupa Candra mengucapkan terima kasih.


"Kenapa gak dimakan?" tanya Candra yang melihat Rania hanya diam saja, "Apa kamu sedang ingin sesuatu?"


"Enggak kok Mas, apa Kak Livia sudah makan?"


Sebelah alia Candra terangkat, "Dia katanya akan makan di kamar."


"Pasti Kak Livia tidak kuat kalau turun ke bawah, nanti biar aku saja yang antar makanannya."


"Hah tidak kuat kenapa?"


"Mas gak tahu? Kak Livia kan sedang sakit."


"Livia sakit?" tanya Candra dengan nada suara yang lebih keras, hanya terkejut mendengar itu.


"Tadi pagi wajahnya pucat, katanya kepalanya juga pusing. Tadi pagi juga aku sempet buatin bubur, Kak Livia harus makan biar gak sakit." Rania terlihat lembut sekali saat mengucapkannya, penuh ketulusan di matanya.


"Livia kemarin malam mabok, mungkin dia pusing karena itu," ucap Candra pelan.


"Mas nanti tanyain aja apa Kak Livia masih pusing atau enggak, kalau masih mending periksa aja ke dokter biar lebih jelas."


Candra mengangguk pelan, "Iya, nanti aku tanya ke dia." Istrinya yang satu itu memang selalu memendam perasaan, sakit pun jarang bilang membuat Candra seperti suami yang bodoh dan tidak perhatian.


Selain itu Candra juga masih merasa bingung setiap melihat sikap Rania yang terlampau perhatian kepada Livia, sikap baiknya itu tuluskan? Candra dulu sempat khawatir mereka bermusuhan, tapi ternyata hubungan di antara Rania dan Livia tidak seburuk itu juga. Haruskah Candra merasa bersyukur?


"Mas," panggil Rania di sela makannya.


"Ada apa?"


"Aku kangen sama Nenek."


Candra kembali melirik Rania, tapi hanya sebentar karena kembali fokus pada makannya, "Kan bisa lewat telepon," sahutnya yang sudah bisa menebak apa keinginan perempuan itu.


"Tapi aku pengen banget ketemu Nenek, apa Mas ada rencana lagi untuk ke desa? Kalau ada, aku ikut ya?" Rania memang selalu bertukar kabar dengan Neneknya, tapi tetap saja jika bertemu langsung akan lebih berbeda.


"Enggak ada, aku gak ada kerjaan lagi di desa," jawab Candra.

__ADS_1


Rania menunduk merasa sedih, itu berarti sepertinya dirinya tidak ada kesempatan bertemu Neneknya dalam waktu dekat ini. Sebenarnya Rania bisa saja meminta, tapi khawatir Candra tidak mengizinkan. Melihat ekspresi wajahnya yang serius itu, sudah membuatnya ciut sendiri.


"Kalau boleh aku pengen banget pulang sebentar, apa Mas bakal izinin?" tanya Rania pelan.


"Enggak," tolak Candra cepat.


"Kenapa?"


"Aku sibuk, ke desa juga cukup jauh dan akan cape di perjalanan."


"Em kalau gitu aku bisa pergi sendiri, atau mungkin Mas berbaik hati aku di antar supir gitu?"


"Enggak Rania, aku gak bisa izinin kamu pergi sendiri. Kamu lagi hamil, bahaya," ucap Candra dengan tegasnya. Ternyata dugaannya benar jika perempuan itu akan meminta pulang.


"Tapi Mas--"


"Rania untuk sekarang aku tidak bisa mengizinkan kamu, kalau kamu pergi aku juga harus ikut. Nanti kalau misal kamu pergi sendiri, bagaimana kalau Nenek kamu itu bertanya kenapa aku tidak ikut? Belum pandangan orang lain."


"Mas tenang saja, aku akan bilang kalau Mas sibuk."


"Lalu apa kamu akan menjelaskan juga bagaimana rumitnya hubungan kita sekarang?" tanya Candra serius.


"Apa Nenek kamu itu tahu kalau sebenarnya sebelum aku menikahi kamu, aku sudah punya istri. " Inilah sebenarnya yang Candra khawatirkan, Rania yang berterus terang mengenai statusnya yang istri kedua.


"Em itu--"


"Nenek tahu?" Candra terus mendesak tidak sabaran.


"Enggak Mas, aku gak cerita sama Nenek kalau sebenarnya aku istri kedua," ucap Rania lalu memejamkan matanya.


Tanpa sadar Candra menghela nafas lega mendengar itu, tapi tentu Ia harus tahu alasan Rania tidak menceritakan yang sebenarnya pada Nenek Ima. Bukankah seharusnya Rania cerita? Curhat juga tentang apa yang dirasakannya. Perempuan kan biasanya seperti itu.


"Kenapa kamu gak cerita?"


"Aku malu."


"Hah?"

__ADS_1


"Saat itu saja ketahuan hamil di luar nikah semua orang menjelekkan aku, apalagi kalau ternyata mereka tahu kalau sebenarnya aku istri kedua. Mungkin mereka akan semakin mengolok-olok aku dan Nenek." Suara Rania terdengar tersedat, rasanya berat sekali untuk mengungkapkan bagaimana yang dirasakannya dulu. Tekanan dari banyak orang, padahal bukan salahnya.


"Maafin saya Rania." Candra harus meminta maaf, karena dirinya lah sumber masalahnya sampai Rania yang polos pun harus ikut menanggung.


"Tapi aku sempat bingung, kenapa orang desa pun gak ada yang tahu kalau Mas sudah menikah sebelumnya?" tanya Rania.


"Soal asmara dan keluarga aku memang cukup privasi, lagian kami juga bukan selebriti yang harus di sorot kemana pun oleh kamera."


Entahlah apa Rania harus merasa lega akan hal itu atau tidak, hanya saja Ia tetap khawatir kalau semisal ada warga desa yang tahu jika sebenarnya Candra memiliki dua istri. Dan parahnya lagi Rania adalah istri keduanya, bukan satu-satunya.


"Mas mau ke atas, kan? Titip obat ini untuk Kak Livia," ucap Rania sambil memberikannya.


Candra pun menerimanya lalu mengangguk pelan. Rania itu memang baik pada Livia, tapi entahlah apa maksud dari sikapnya itu. Hanya saja Candra senang jika Rania dapat akur dengan Livia, walau belum pasti Livia pun mau membuka diri untuk Rania. Pria itu lalu naik ke kamarnya di lantai atas, melihat Livia yang duduk di ranjang sambil bermain ponsel.


"Sudah belum makannya?" tanya Candra mendekat.


"Sudah," jawab Livia tanpa menatap.


Candra lalu duduk di dekatnya, "Nih minum obatnya dulu, kamu sakit, kan?"


"Biasa aja."


"Kamu selalu saja gak bilang kalau kenapa-napa, aku kan khawatir Livia." Candra sampai menghela nafas berat melihat sikap acuh Livia, kenapa istrinya yang satu ini dingin sekali ya?


"Pasti kamu tahu dari Rania, kan? Huh dia berlebihan sekali, aku tidak papa kok."


Livia mencoba terlihat baik-baik saja. Melihat Candra yang khawatir begitu, bukannya membuatnya terharu, tapi Livia malah merasa sedih. Kenapa sedih? Karena lagi-lagi dihadapkan pada kenyataan jika pria itu bukanlah lagi miliknya seorang.


"Makanya nanti jangan minum terlalu banyak, apalagi pergi sendirian ke kelab, bahaya," tegur Candra yang terus mengingatkan, Livia ini memang ceroboh sekali.


"Aku tidak janji, mungkin nanti kalau misal aku stress lagi sepertinya aku akan minum."


"Kenapa harus melampiaskan nya dengan minum?"


"Karena aku bisa melupakan masalah itu," jawab Livia pelan dengan tatapan kosongnya.


"Tapi hanya sementara, kenapa kamu gak cerita aja sama aku?"

__ADS_1


Livia lalu mulai menatap Candra, "Cerita apa? Toh sumber masalahnya juga adalah kamu," celetuknya tajam.


__ADS_2