Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Meminta Menyembunyikan


__ADS_3

"Makannya hati-hati Rania, pelan-pelan aja," tegur Neneknya khawatir.


Rania mengangguk pelan lalu melirik mbok Nina yang kebetulan duduk di depannya. Lewat tatapannya Ia memberitahu wanita itu untuk tidak cerita lebih, tapi Rania juga tidak tahu apakah mbok Nina itu paham atau tidak.


"Tadi Nenek makan terong balado, aduh sekarang jadi sakit perut."


"Di deket dapur ada kamar mandi, Nenek bisa kesana," ucap Rania memberitahu.


"Sebentar ya, kalian lanjut saja makannya." Nenek Ima pun beranjak dan keluar dari dapur.


Setelah kepergian Neneknya, Rania tanpa sadar menghela nafas lega. Ia lalu melirik mbok Nina, "Mbok hampir saja huft."


"Maaf kenapa ya Nona?" Tadi Nina sempat menerima kode tatapan dari Rania, hanya saja Ia tidak tahu arti maksudnya.


"Mbok aku mohon jangan kasih tahu Nenek soal Kak Livia," ucap Rania.


"Soal Nyonya, memangnya kenapa?"


"Karena Mas Candra memang menyembunyikan rahasia kalau dia punya istri dua, dan aku adalah istri keduanya."


Mbok Nina terdiam beberapa saat, "Jadi Nenek Rania itu tidak tahu kalau Tuan punya istri dua?"


"Enggak," geleng Rania lemah. Sebenarnya Ia merasa tidak enak membohongi Neneknya, tapi kalau Nenek tahu pasti akan semakin sedih dan Rania khawatir mengganggu kesehatannya.


"Ya Tuhan," lirih Nina sambil mengusap wajahnya. Walaupun hanya jadi pelayan di rumah ini, tapi cukup banyak juga yang Ia tahu, menurutnya sangat rumit.


"Jadi aku minta mbok jangan cerita ke Nenek kalau Kak Livia istri Mas Candra juga ya? "


Mbok Nina pun mengangguk, bukan hanya Rania yang meminta, tapi perintah juga dari Tuannya yang harus Ia patuhi, "Nona tenang saja, saya tidak akan cerita pada Nek Ima," ucapnya sambil tersenyum.


"Makasih ya mbok, aku percaya sama mbok."


"Lalu apa Nyonya Livia juga memang setuju merahasiakan ini?" tanya mbok Nina balik.

__ADS_1


"Aku gak tahu," geleng Rania, "Tapi Mas Candra sudah bicara dengan Kak Livia, dan minta Kak Livia untuk merahasiakan ini juga."


"Begitu ya, ya sudah mbok janji tidak akan cerita."


"Iya."


Rania terdiam beberapa saat dengan tatapannya yang kosong, "Mbok, apa aku jahat ya?" tanyanya tiba-tiba.


"Maksud Nona?" Mbok Nina sampai terkejut sendiri mendengar pertanyaan seperti itu.


"Aku seperti meminta kehadiran Kak Livia di sembunyikan dan tidak dianggap sementara. Padahal dia adalah istri pertama Mas Candra, yang paling lebih dulu ada di sini. Hanya karena ada Nenek, jadi harus pura-pura seperti ini," gumam Rania dengan senyuman pedihnya.


"Tapi Nona juga tidak mau begini, kan? Bukan Nona kan yang meminta pada Tuan Candra untuk menyembunyikan Nyonya Livia?" Mbok Nina terlihat tidak langsung memojokan, pikirannya terlihat dewasa sekali.


"Enggak, aku gak akan mungkin minta setega itu."


"Itu berarti ini memang keputusan dari Tuan Candra sendiri, beliau juga yang meminta langsung pada Nyonya untuk merahasiakan." Mbok Nina tidak mau ikut campur, karena sadar diri jika dirinya hanya seorang pembantu. Biarlah urusan rumah tangga mereka, mereka yang jalani dan cari jalan keluarnya.


"Nona jangan banyak pikiran, untuk beberapa hari ini mbok yakin pasti Nona yang paling tertekan. Tapi Nona jangan terlalu dipikirkan ya, kasihan pada bayinya."


Diperingati seperti itu membuat Rania pun baru sadar dan langsung mengusap perutnya. Benar Ia jangan banyak pikiran, karena nanti akan dirasakan juga pada bayinya dan perutnya akan tidak nyaman. Tetapi Rania memang perasa dan tidak enakan, jadi setiap ada masalah pasti selalu dipikirkan.


"Sudah Nek?" tanya Rania melihat Neneknya yang duduk kembali di sebelahnya.


"Sudah, tadi Nenek sempat bingung kamar mandinya soalnya terlalu banyak pintu. "


"Haha iya kaya aku pertama kali juga gitu, tapi nanti Nenek juga akan terbiasa kok."


Selesai makan siang mereka berpisah dan sibuk dengan urusan masing-masing. Rania tidur siang di kamarnya merasa ngantuk, sudah terbiasa tidur siang juga. Sedangkan Neneknya berada di halaman belakang, sedang bersantai sambil melihat-lihat kebun.


"Syukurlah Rania hidup dengan baik di Jakarta," ucap Nek Ima sambil menghela nafas lega. Nanti setelah pulang lagi, Ima jadi tidak perlu terlalu cemas dan khawatir.


Merasa haus karena dari tadi jalan-jalan di halaman belakang, Ima kembali masuk ke rumah menuju dapur untuk membawa air minum. Tetapi di sana Ia malah tidak sengaja melihat seorang perempuan cantik yang sedang minum jus di dekat lemari es.

__ADS_1


"Astaga!" pekik Livia terkejut baru menyadari ada orang lain di dapur, berdiri tepat di sebelahnya. Melihat penampilannya yang biasa dan sudah tua, Livia pun bisa langsung menyimpulkan sesuatu.


"Maaf kalau boleh tahu, mbak siapa ya?" tanya Nek Ima. Dari gerak-geriknya seperti orang yang sudah lama tinggal di sini, sebagai penghuni juga.


"Saya Livia, anda Neneknya Rania ya?" tanya Livia balik, perempuan itu berusaha bersikap tenang dan ramah.


"Iya betul, kamu kenal saya?"


"Rania sudah cerita kalau Neneknya katanya akan datang dan di sini beberapa hari." Livia lalu menyalami tangan wanita paruh baya itu, "Perkenalkan saya ini Kakak perempuannya Candra."


"Oh jadi nak Candra punya Kakak perempuan ya? Maaf Nenek baru tahu." Tetapi bukannya tadi Rania sendiri yang cerita jika keluarga satu-satunya Candra hanya Omanya saja yang di Bandung?


"Ah iya gak papa, lagian saya juga bukan Kakak kandung sih," sahut Livia yang menyadari ekspresi kebingungan di wajah Nek Ima, sepertinya tahu tentang keluarga Candra.


"Pantas saja saya sempat bingung karena Rania bilang nak Candra tidak punya keluarga lain, jadi kamu ini Kakak tirinya?"


"Haha iya," jawab Livia sambil tertawa canggung.


Entahlah bagaimana perasaannya saat harus berpura-pura mengaku sebagai orang asing di sini, padahal nyatanya hubungannya dengan Candra lebih dekat. Tetapi kan Livia harus mengikuti alur rencana Candra.


"Kamu cantik sekali Livia, apa sudah menikah?" tanya Nek Ima yang terlihat ingin mengenal lebih.


"Oh em sudah."


"Beruntung sekali suaminya dapat istri yang cantik begini."


Senyuman Livia malah menghilang mendengar itu, sayang sekali suaminya tidak merasakan begitu dan malah mendua tepat di depannya. Livia berusaha tersenyum menyembunyikan perasaan pahit di dadanya.


"Maaf Nek kayanya aku harus ke kamar, capek banget baru pulang kerja," pamit Livia, tidak bohong kalau badannya sangat lelah sekarang.


"Iya silahkan."


Ima menatap kepergian perempuan cantik itu dalam diam, entah kenapa hatinya merasa mengganjal begitu saja. Sepertinya nanti harus Ima tanyakan pada Rania mengenai Livia itu, kenapa tidak cerita tentang Kakak tiri Candra juga kepadanya? Lalu saat pernikahan Candra dan Rania, kenapa Livia tidak hadir?

__ADS_1


__ADS_2