
Sebenarnya Rania tidak enak bersikap ketus begitu kepada Leon, tapi mengingat bagaimana tingkah pria itu yang membuat masalah membuat Rania kecewa dan ingin menghindarinya. Rania tidak mau mudah luluh lagi, karena Ia tidak tahu apa kali ini Leon masih mempermainkan nya atau tidak.
"Nona jangan melamun, ayo waktunya makan malam," tegur mbok Nina menepuk pelan bahu Rania.
Rania pun mengangkat kepala, "Kak Livia sudah pulang belum?" tanyanya.
"Mbok kurang tahu, tapi Tuan Leon bilang kan malam ini Nyonya tidak akan pulang."
"Hah berarti aku benar-benar sendirian di rumah," desahnya sedih.
Suasana sunyi ini membuat Rania tidak terlalu nyaman, setidaknya ada satu orang saja yang bersamanya. Memang sih ada mbok Nina, tapi tetap saja suasananya tetap tak sama. Rania pun beranjak ke ruang makan bersama pembantunya itu.
"Mbok makan bareng aku ya?" bujuk Rania.
"Maaf Non, mbok gak bisa," tolak nya.
"Kenapa? Mbok jangan malu, kan aku yang nyuruh mbok. Aku gak suka makan sendirian, jadi temenin aku ya?"
Merasa tidak enak juga terus menolak permintaan bosnya itu, membuat Nina pun akhirnya mengangguk menerima. Sebuah kehormatan tentu baginya bisa makan semeja dengan atasannya sendiri, tapi tetap saja Ia harus menjaga sopan santun.
"Di luar hujan ya mbok?" tanya Rania yang mendengar suaranya.
"Iya hujan, deras juga," sahut mbok Nina.
Di saat seperti ini, Rania jadi memikirkan keadaan Neneknya yang berada di desa. Kira-kira Neneknya itu apa baik-baik saja? Rumah mereka sering bocor, biasanya selalu saling membantu menahan airnya. Rania merasa tidak enak hati karena Ia tinggal di rumah bagus seperti ini, sedang Neneknya di rumah sederhana.
Trak!
"Astaga!" pekik Rania terkejut.
Saat sedang fokus makan, Tiba-tiba lampu mati membuat keadaan menjadi gelap. Mbok Nina pun segera membawa senter untuk menerangi, melihat keluar jendela apakah hanya rumah ini saja yang mati lampu atau yang lain.
"Kayanya ada pemadaman listrik, semua lampu rumah tetangga juga mati," ujar mbok Nina.
__ADS_1
"Ya ampun," gumam Rania.
Melihat makanannya di piring yang tinggal setengah lagi, membuat Rania jadi tidak nafsu makan. Ia pun memutuskan berhenti tidak melanjutkan, mood Ibu hamil memang mudah berubah-ubah.
"Sebenarnya di rumah ini ada dua lampu emergency, di kamar Tuan Candra dan ruang utama," kata mbok Nina.
"Kalau di kamar aku ada gak mbok?"
"Kayanya gak ada, soalnya kan itu dulunya kamar untuk tamu," jawabnya. Mbok Nina juga memang tahu jika Rania itu tidak sekamar dengan Candra.
"Ya sudah aku bawa lilin aja deh buat nemenin, sebenarnya aku gak terlalu suka tidur gelap-gelapan gitu," ucap Rania jujur.
"Kenapa? Takut Non?"
"Hehe iya, terus gimana kalau misal pas lagi tidur lilinya malah mati? Kan jadi gelap."
Sayangnya lagi ponsel milik Rania habis batrai dan baru beberapa menit lalu di charger, itu berarti tidak akan bisa digunakan. Kenapa di saat darurat seperti ini Rania malah sendirian di rumah ya?
"Hah? Em enggak deh mbok, gak enak," tolak Rania cepat.
"Kenapa? Mbok pikir mungkin gak papa, Tuan Candra juga pasti bolehin. Mau mbok telepon Tuannya?"
Rania memgangguk memberikan pembantunya itu untuk menghubungi Candra, tapi sayangnya kouta dan pulsanya habis. Sekarang mereka benar-benar bernasib sama. Tidak menyangka juga akan mati lampu begini, ini kan di Ibu kota.
"Jadi gimana Nona? Kalau menurut mbok mending tidur di kamar atas aja yang terang. Dari pada di bawah Non gak bisa tidur." Mbok Nina terus membujuk, karena menurutnya inilah pilihan terbaik.
Setelah Rania pikirkan lagi, sepertinya tawaran itu tidak buruk. Benar kata mbok Nina, Candra juga mungkin akan memberikan izin. Pria itu kan selama ini selalu khawatir kepada bayinya dan terus mengutamakan, jadi Rania beranggapan Candra pun tidak akan curiga.
"Ya sudah deh mbok, aku mau tidur di kamar atas aja. Kak Livia beneran gak akan pulang, kan?" tanya Rania memastikan, khawatir saja tiba-tiba pulang lalu malah menemukannya di kamarnya.
"Mbok rasa tidak akan, jadi Nona tenang saja. "
Keduanya pun beranjak langsung naik ke lantai dua. Mbok Nina terus mengarahkan senter menunjukan jalan. Rumah yang besar dan sunyi ini terasa semakin dingin karena gelap gulita. Saat membuka pintu kamar itu, ternyata benar di sana terang.
__ADS_1
"Nona mau pinjam senter nya?" tanya mbok Nina.
"Enggak usah, mbok bawa aja. Di sini kan terang, jadi aku baik-baik aja," jawab Rania sambil tersenyum.
"Ya sudah Non langsung tidur ya, selamat malam."
"Malam juga mbok."
Setelah kepergian pembantunya itu, Rania pun masuk ke kamarnua dan menutup pintu. Mungkin ini adalah kedua kalinya Rania masuk ke kamar Candra dan Livia, rasanya sangat campur aduk baginya.
Saat melihat pigura besar potret pernikahan dua orang itu, membuat Rania hanya tersenyum tipis, tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya. Bukannya langsung tidur, Rania malah memperhatikan kamar itu baik-baik. Kapan lagi, kan?
"Kenapa buku-bukunya berjatuhan begini?" tanyanya seorang diri.
Merasa tidak enak dipandang, Rania pun memunguti beberapa buku dan kertas di lantai lalu menatanya di rak buku. Tetapi ada salah satu kertas yang menarik perhatiannya, dengan judul besar di atas bertuliskan kontrak pernikahan.
"Loh kok nama aku?" tanya Rania bingung sendiri.
Perlahan perempuan itu pun membacanya, semakin bawah detak jantungnya terasa semakin cepat dengan kepalanya yang pening. Nafasnya pun mulai tidak teratur, membuat Rania sampai harus kuat berdiri sampai membacanya hingga akhir.
"Ini beneran?" gumamnya speechless sendiri.
Inti dari surat itu adalah Candra menikahi nya hanya karena menginginkan bayi di kandungannya saja. Sampai bayi itu lahir, maka Candra akan menceraikannya dan hak asuh si anak pun jatuh pada Candra dan Livia.
"Ya Tuhan, aku tidak menyangka," lirih Rania.
Tanpa bisa ditahan kedua matanya berkaca-kaca, dadanya merasa sesak karena Rania merasa hanya dimanfaatkan. Kenapa Candra tidak mengatakan ini kepadanya? Tentu saja tidak akan, karena Rania pasti tidak akan setuju.
"Hiks aku pikir Mas Candra mulai ada perasaan ke aku, tapi.. Tapi dia hanya mau kamu nak. Dia mau ambil kamu dari Mama nanti!" isak Rania.
Membayangkan setelah bayinya lahir lalu Rania yang langsung diceraikan, membuatnya patah hati saat ini juga karena jika itu terjadi pasti sangat berat baginya untuk dijalani. Rania juga tidak bisa membayangkan bayinya di ambil, sudah pasti Ia pun tidak akan bertemu darah daginya lagi.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" tanya Rania sambil menengadahkan kepalanya.
__ADS_1