
Siang itu Rania dan Neneknya sedang berkemas dan membereskan pakaian untuk calon bayinya. Memang tidak banyak, tapi Rania pikir cukup. Ia kan harus hemat, berharap tabungannya tetap cukup sampai Rania siap untuk bekerja.
"Rania, Nenek harus ke rumah dulu untuk ambil beberapa baju yang ketinggalan. Gak papa?" izin Neneknya.
"Iya gak papa, Nenek sih terlalu buru-buru jadinya ada yang ketinggalan," jawab Rania.
Ima lalu berdiri dari duduknya, "Nenek gak akan lama kok, sebentar ya."
Sebenarnya Rania sudah merasakan perutnya mulai tidak nyaman dari saat bangun tidur, dan perasaan mulas ini semakin bertambah di siang hari. Mungkin nanti setelah Neneknya kembali, mereka akan langsung ke puskesmas.
Setelah Rania menyimpan tas berisi kebutuhan bayinya untuk dibawa ke puskesmas di ranjang, perempuan itu beranjak keluar mendengar pintu rumah di ketuk. Apa itu Neneknya yang sudah kembali? Tetapi setelah Rania buka ternyata itu Yoga, membuatnya langsung mempersilahkan masuk.
"Mas Yoga emangnya gak kerja?" tanya Rania karena waktu masih siang.
"Aku lagi istirahat, mampir sebentar kesini," jawab Yoga.
"Kenapa? Padahal jauh loh dari pabrik ke rumah aku."
Yoga terlihat mengusap dagunya, "Gak tahu, Tiba-tiba pengen kesini aja. Kamu bilang tadi pagi perut kamu sudah kerasa ya, apa mau melahirkan sekarang?" tanyanya.
"Iya kayanya, sekarang agak mules. Nenek bilang aku harus jalan-jalan untuk ngurangin rasa sakitnya."
Melihat bulir keringat di kening perempuan itu, membuat Yoga dengan perhatiannya mengusap langsung dengan telapak tangannya. Wajah Rania juga agak pucat, seperti sedang menahan sesuatu.
"Ya sudah kalau gitu, mending kita ke rumah sakit sekarang aja," ajak Yoga, kalau dinanti-nanti khawatir malah melahirkan di sini.
"Kita tunggu Nenek ya, soalnya Nenek lagi ke rumahnya ambil baju," ucap Rania.
"Nenek nanti saja aku jemput setelah anterin kamu ke puskesmas, aku gak tega lihat kamu begini."
Akhirnya Rania pun mengangguk setuju, lagi pula perutnya memang sudah terasa sangat mulas dan sepertinya sebentar lagi Ia akan melahirkan. Yoga lalu nembawa tas bayi Rania, juga menggandeng tangan perempuan itu menuju mobil di luar.
"Neng Rania mau kemana dengan Pak Yoga?" tanya salah seorang tetangga yang kebetulan lewat.
Yoga pun menjawab, "Rania akan melahirkan, saya akan antar dia ke puskesmas."
__ADS_1
"Semoga lancar ya neng Rania lahirannya, nanti saya kabari warga yang lain."
"Iya Pak, makasih," ucap Rania sambil tersenyum tipis.
Yoga pun segera memasukan Rania ke dalam mobil, duduk dengan benar dan nyaman. Melihat perempuan itu yang sesekali meringis sambil mengusap perutnya, membuat Yoga dilanda cemas. Yoga pun segera mengendarai mobilnya pergi dari sana.
"Apa di desa ini gak ada rumah sakit?" tanya Yoga.
"Gak ada kalau rumah sakit, adanya puskesmas aja," jawab Rania.
"Aku ngerasa gak terlalu tenang kalau kamu lahiran di puskesmas, aku rasa di rumah sakit akan lebih baik. Sayang banget," ucap Yoga, jadi overthinking memikirkan ini itu.
"Kamu tenang saja, aku akan baik-baik aja kok," ujar Rania sambil tersenyum tipis.
Yoga pun sempat mengecup punggung tangan perempuan itu, berusaha memberikan kekuatan. Ya semoga saja para bidan dan perawat di sana bisa mengatasi dan membantu Rania melahirkan, sampai bayinya pun lahir dengan baik.
Namanya juga di desa, sudah pasti kelengkapan dalam hal apapun tidak akan selengkap di kota. Padahal Yoga selama ini selalu tidak mempernasalahkan, tapi untuk yang satu ini menjadi repot sendiri karena tahu melahirkan itu adalah hal berat.
"Suster tolong saya," teriak Yoga.
"Saya sudah cek pasien, pembukaannya masih ke empat," ucap bidan itu sambil membuka maskernya.
"Apa masih lama melahirkannya?" tanya Yoga, Ia kan tidak tahu.
"Masih lumayan lama, harus menunggu beberapa pembukaan lagi."
Yoga terlihat menghela nafasnya berat, "Tapi Rania kelihatan sudah menahan sakit begitu, dia akan baik-baik saja kan?"
"Tenang ya Pak Yoga, Bu Rania akan baik-baik saja, namanya juga mau melahirkan. Apa nanti anda mau menemani dia di dalam?"
Mendapat tawaran seperti itu membuat Yoga terdiam memikirkan. Tentu saja Ia harus memanfaatkan kesempatan ini agar hubungannya dengan Rania semakin dekat. Melahirkan sendiri pasti sangat berat, Yoga akan menjadi pengganti Candra dan menemani nya melahirkan.
"Saya bisa keluar sebentar untuk jemput Nenek Rania?" tanya Yoga.
"Bisa Pak, anda tenang saja."
__ADS_1
"Baik, kalau begitu saya titip Rania dulu ya, tolong setidaknya ada suster yang jaga di dalam," pinta Yoga yang jgawatiean.
"Baik Pak Yoga."
Yoga pun berlari kecil keluar dari puskesmas itu dan segera masuk ke mobilnya, Ia akan menjemput dahulu Nenek Ima. Mungkin saja Nenek Ima sudah di rumah Rania, jadi Yoga memutuskan ke sana langsung.
Ternyata benar Nenek Ima sudah kembali, wanita paruh baya itu terlihat kebingungan karena rumah yang terkunci. Yoga pun langsung memberitahu jika dirinya sudah membawa Rania ke puskesmas karena terlihat sudah merasa akan melahirkan.
"Nak Yoga kelihatan gelisah begitu," ucap Nek Ima memperhatikan pria yang sedang menyetir itu.
Yoga meboleh sekilas sambil tersenyum kecil, "Iya Nek, saya lagi khawatir dan mikirin Rania. Ini kehamilan pertama dia, semoga lahirannya lancar."
"Iya aamiin, Nenek juga sih sedikit khawatir, tapi Rania perempuan kuat."
Yoga mengangguk setuju, Rania itu memang perempuan kuat. Tidak bisa bayangkan betapa sedihnya perempuan itu saat ini yang akan melahirkan tanpa ditemani suaminya. Tetapi tidak apa, Yoga yang akan menggantikan peran itu untuk Rania.
"Nenek, sakit," ucap Rania lirih sambil menggenggam erat tangan keriput itu.
Ima mengusap kepala Rania, "Sabar ya nak, kamu kuat. Mau minum?"
"Enggak," geleng Rania.
Rasanya Rania ingin menangis merasakan mulas yang sangat di perutnya, tapi bidan bilang belum waktunya untuk melahirkan. Merasakan sebelah tangannya lagi digenggam, membuat kedua mata Rania terbuka untuk melihat.
"Aku di sini Rania," ucap Yoga sambil tersenyum tipis.
Rania membalas senyumannya, "Kamu gak kembali ke pabrik?" tanyanya.
"Enggak aku gak akan ke sana, aku di sini aja sama kamu." Kata Yoga. Berpikir saat ini Rania lebih penting, lagi di pula di pabrik juga ada yang mengurus.
"Nak Yoga mau temani Rania di dalam?" tanya Nek Ima.
"Hah? Em lalu Nenek bagaimana?" tanya Yoga balik.
"Gak papa, nak Yoga saja ya yang temenin Rania. Nenek takut gak kuat lihat Rania melahirkan." Kedua matanya saja dari tadi berkaca-kaca ingin menangis.
__ADS_1
Yoga lalu mengangguk mengiyakan, memang dirinya pun ingin menemani Rania saat proses melahirkan. Melihat Bidan yang masuk dan mengatakan akan dimulai, Nek Ima pun segera keluar sedangkan Yoga tinggal di dalam.