Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 62


__ADS_3

Liburan semester ini rencananya Daffin ingin pulang ke Kampung, berkumpul dengan keluarga Mamanya. Saat Ia kabari akan pulang, keluarganya di sana terdengar senang dan tidak sabar katanya.


"Sayang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Daffin.


"Hm ada apa?" tanya Cynthia menunggu.


Bukannya langsung menjelaskan, Daffin malah dibuat salfok melihat noda saus di bibir Cynthia. Pria itu pun membawa selembar tisu di meja, lalu membantu mengelap bibir nya.


"Ada apa Daffin?" Cynthia kan tidak sabar.


"Sebelumnya aku minta maaf karena baru bilang ini sama kamu, tapi rencananya aku akan liburan beberapa hari di Kampung. Apa boleh?"


"Jadi kamu akan pulang Kampung? Berapa lama?" tanya Cynthia balik.


"Mungkin satu mingguan, aku kangen banget sama keluarga aku di sana. Mereka juga sudah tahu aku akan pulang, dan gak sabar katanya. Papa Candra juga sudah izinin aku," jawab Daffin.


"Ya sudah pergi, kenapa minta izin aku?" Cynthia jadi bingung, sudah pasti Ia izinkan kok.


Melihat ekspresi santai perempuan itu, membuat Daffin menghela nafas karena sepertinya Cynthia tidak paham. Ia tahu pacarnya ini tidak suka mengekang, apalagi kalau tentang keluarga. Membiarkannya bahagia juga.


"Sayang kamu lupa ya di sana ada Elisa? Sudah pasti aku akan ketemu dia di sana," ucap Daffin memberitahu.


Cynthia yang dari tadi asik makan pun langsung tersedak, Daffin segera memberikan airnya dan Cynthia meminumnya rakus. Setelah merasa lebih baik, langsung menatap pacarnya itu.


"Sebenarnya aku cuman gak mau buat kamu kepikiran di sini dan mengira aku aneh-aneh di sana sama Elisa," lanjut Daffin pelan. Katanya perempuan kan selalu overthinking kan?


"Tapi kayanya kamu gak akan begitu kan Daffin? Aku tahu kamu, kamu pasti akan jaga perasaan kamu untuk aku." Tidak menyangka, itulah yang Cynthia katakan.


Tanpa bisa ditahan Daffin pun tersenyum tipis, Ia lalu membawa tangan Cynthia dan mengecup punggungnya beberapa kali. Perasaan khawatir pun perlahan menguap dari dadanya.


"Jadi kamu izinin aku pulang kampung?" tanya Daffin berbinar.

__ADS_1


"Iya aku izinin, tapi boleh gak aku minta sesuatu?"


"Apa sayang, bilang aja." Cynthia ini jarang sekali meminta, jadi sudah pasti akan Daffin usahakan kalaupun permintaannya sulit.


"Aku cuman minta kamu untuk jaga batasan sama Elisa, kamu kan sekarang pacar aku," jawab Cynthia dengan tatapan dalam.


"Ya ampun aku kira kamu minta apa, kalau soal itu sudah pasti akan aku lakukan tanpa kamu minta sekalipun. Walaupun kita berjauhan, aku akan tetap hormati kamu sebagai pasangan aku," kata Daffin romantis.


"Kamu bisa saja," ucap Cynthia sambil tersenyum malu-malu.


Mereka pun kembali melanjutkan makan, setelah habis langsung pulang. Tadi adalah hari terakhir kuliah, jadi besok sudah masuk liburan dan waktunya semua beristirahat. Tentu saja ini waktu yang ditunggu-tunggu.


Sekarang Daffin sedang mengantar Cynthia pulang, pria itu merasa dari tadi diperhatikan. Terkadang Daffin menoleh membalas tatapannya, tapi tidak bisa lama karena harus fokus menyetir.


"Memangnya kapan kamu berangkat?" tanya Cynthia kembali membuka obrolan.


"Karena kamu sudah izinin aku, jadi besok aku akan langsung pulang. Aku benar-benar kangen Kampung, suasana di sana itu nyaman banget," jawab Daffin tanpa ragu.


Daffin lalu terpikirkan sesuatu, "Gimana kalau kamu juga ikut aku liburan ke sana?" usulnya.


Tetapi Cynthia malah tertawa mendapat usulan itu, merasa Daffin ini kemana-mana ingin dengannya terus. Sebenarnya sih bisa saja Ia ikut pergi, tapi Cynthia akan pikirkan lagi nanti.


"Enggak ah, aku gak mau ganggu kamu. Lagian kamu waktunya habisin bareng keluarga kamu, kamu pasti kangen banget sama mereka. Kita kan setiap hari selalu ketemu," kata Cynthia dewasa.


"Tapi aku pengen ajak kamu ke tempat tinggal aku di Kampung, kita mungkin bisa jalan-jalan di sana, banyak banget tempat indah," kata Daffin.


Tetapi Cynthia hanya diam tidak menanggapi, tapi bibirnya terlihat tersenyum seperti sedang merencanakan sesuatu. Sesampainya di rumah, Ia pun pamitan dan turun dari mobilnya.


Daffin pun kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumahnya. Selesai mandi, pria itu segera mengemasi baju dan barangnya ke sebuah tas ransel berukuran lumayan besar. Untuk baju Ia tidak bawa terlalu banyak, karena di Kampung juga masih ada sisa.


"Hei lagi ngapain nih?" tanya Livia di ambang pintu.

__ADS_1


Daffin pun menghentikan sejenak kegiatannya, "Lagi siap-siap Mah, besok jadi pulang ke Kampung," jawabnya terlihat ceria.


Livia pun mendekat lalu duduk di sisi ranjang, memperhatikan Daffin yang kembali memilih baju-baju yang akan dibawanya. Sempat Ia menawarkan diri untuk membantu, tapi langsung Daffin tolak. Putranya itu memang selalu tidak mau merepotkan nya.


"Mama kira bukan besok, kamu sudah kangen keluarga kamu di sana ya?" tanya Livia di belakangnya.


"Hehe iya Mah, sebenarnya aku cuman nunggu izin dari Cynthia. Tadi aku sempat bicara sama dia, ternyata dia langsung izinin," kata Daffin menceritakan.


"Apa Cynthia juga akan ikut?"


"Sempat aku tawarin, tapi dia bilang aku waktunya habisin sama keluarga."


Livia mengangguk setuju, "Bener yang dia bilang, memang liburan waktunya dihabiskan dengan keluarga. Pacar kamu itu sangat pengertian," ucapnya.


Untuk berkemas tidak butuh waktu lama yang Daffin butuhkan. Setelah merasa selesai Ia pun menyimpan tas nya di dekat ranjang. Saat menoleh ke belakang, terkejut melihat Livia masih ada di kamarnya.


"Mama nemenin aku dari tadi?" tanya Daffin.


"Hehe iya, seru juga lihat kamu kemas-kemas gitu. Jarang loh laki-laki mau ngerjain gituan sendiri, kamu orangnya emang rapih ya," kata Livia.


"Kayanya sudah jadi kebiasaan Mah, apalagi sekarang sudah besar jadi harus mandiri," jawab Daffin.


Livia lalu berdiri berhadapan dengan Daffin, "Mama bakalan kangen sama kamu nanti, tapi kamu juga di sana gak akan lama kan? Langsung kesini lagi ya," ucapnya.


"Haha iya Mah, paling cuman semingguan kok liburannya. Mama pasti bakalan kesepian pas siang, soalnya kan biasanya yang ngajak ngobrol selalu aku." Daffin tidak kepedean, tapi memang begitu.


"Iya bener Mama bakal kesepian, apalagi sekarang Mama sudah berhenti kerja." Livia lalu menepuk bahu Daffin, "Titip salam untuk semuanya di sana, bilang nanti mungkin kita giliran liburan ke Kampung."


"Oke siap."


Livia lalu keluar kamar, tapi sebelum itu sempat memberitahu Daffin untuk turun ke bawah makan malam sebentar lagi. Daffin mengiyakan saja, sambil menunggu jam makan akan bersantai dulu sambil memastikan tidak ada barang yang tertinggal.

__ADS_1


"Hah gak sabar banget besok pulang ke Kampung," gumam Daffin sambil tersenyum lebar.


__ADS_2