Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 46


__ADS_3

Candra dan Livia saling bertatapan, lewat sorot mata mereka bisa menjelaskan jika keduanya sedang bingung dengan Daffin. Dari tadi pemuda itu terus tersenyum-senyum, seperti sedang merasa senang.


"Papa lihat kamu hari ini kelihatan ceria, apa Papa boleh tahu alasannya?" tanya Candra memberanikan diri.


Daffin pun mengangkat kepalanya, "Hah? Em aku.. Aku biasa aja," jawabnya.


"Kamu dari pas pulang senyum-senyum terus loh Daffin, apa ada hal menyenangkan yang kami tidak tahu?" Kini giliran Livia yang bertanya, terlihat kepo sekali.


Daffin mengusap tengkuknya, merasa malu karena gerak-geriknya terlalu kelihatan. Ya siapa juga yang tidak senang karena perempuan yang Ia sukai, ternyata diam-diam juga menyukainya.


"Menurut Papa sama Mama, bagaimana Cynthia itu?" tanya Daffin meminta pendapat. Kedua orang tuanya juga harus tahu dulu sifatnya.


"Cynthia cantik, tapi dia kelihatan gak banyak bicara ya orangnya," jawab Livia. Memang pernah satu kali bertemu waktu itu.


"Kenapa Daffin, apa kamu ada sesuatu dengan Cynthia?" tanya Candra langsung bisa menyimpulkan.


"Sebenarnya aku suka sama Cynthia, kalau misal kita pacaran apa Papa sama Mama akan ngasih aku izin?" Setelah mengatakan itu, terlihat wajah Daffin memerah salah tingkah.


Kedua mata Livia terlihat berbinar, "Wah serius Daffin kamu mau pacaran sama Cynthia? Terus bagaimana dengan Elisa?"


Daffin pun segera menjelaskan jika dirinya dan Elisa hanya sebatas teman, sedangkan pandangannya ke Cynthia adalah seseorang yang sedang jatuh hati. Daffin sudah yakin dengan perasaannya sendiri.


"Kenapa kamu suka sama Cynthia? Papa pikir Elisa lebih cocok dengan kamu," celetuk Candra.


Mendengar itu membuat senyuman di bibir Daffin menghilang. Ekspresi wajah Papanya terlihat datar. Apakah Candra tidak terlalu setuju jika dirinya bersama dengan Cynthia?


"Kamu ini gimana sih? Kaya gak pernah ngerasain masa muda aja. Perasaan seseorang itu gak bisa dipaksakan, kalau sudah jatuh cinta ya gak pandang apapun dong," bela Livia.


"Mungkin karena kalian sering bersama, dan rasa nyaman itu muncul gitu aja. Tapi sebenarnya Papa gak terlalu setuju kalau kamu dengan Cynthia," ucap Candra serius.


"Kenapa?" tanya Daffin pelan.


"Cynthia anaknya baik, dia juga sopan sama Papa. Tapi Papa gak terlalu suka sama Mamanya itu, Papa takut dia memanfaatkan kamu seperti dulu. Mamanya mata duitan, bagaimana kalau Cynthia juga--"


"Aku pikir Cynthia dan Mamanya berbeda. Kalau Papa takut aku hanya dimanfaatkan Cynthia, aku yakin kalau dia benar cinta tidak akan begitu," sela Daffin membela.

__ADS_1


Ternyata ini yang di khawatirkan Papanya, pria itu hanya tidak mau Ia kenapa-napa. Tetapi Daffin juga mengakui Mama Cynthia agak matre, saat mendengar percakapan mereka saja kan katanya ingin memanfaatkannya.


"Apa Papa ngizinin aku untuk jalani ini dulu dengan Cynthia?"


Melihat tatapan memohon putranya itu, membuat dada Candra bergetar tidak tega. Daffin terlihat serius dan bersungguh-sungguh dengan perasaannya, sebegitu cintanya kah dengan gadis itu?


"Jalani saja Daffin, perasaan itu milik kamu. Mama yakin kamu laki-laki yang baik dan serius, perempuan yang bisa membuat kamu jatuh cinta itu adalah orang yang beruntung," kata Livia memberikan dukungan.


Daffin kembali dibuat tersenyum mendengar itu, "Terima kasih Mah," ucapnya.


Mereka pun kembali melanjutkan makan malam. Orang tua Daffin bisa melihat jika pemuda itu malam ini memang agak berbeda, semua karena cinta. Membuat mereka jadi nostalgia saja pada masa lalu.


***


Rencananya sepulang kuliah, Daffin ingin mengajak Cynthia ke suatu tempat. Terlebih dahulu Ia akan mengantar Elisa pulang dahulu, dan berbohong jika dirinya pun akan langsung pulang.


Setelah mengantar Elisa, Daffin ke rumah Cynthia untuk menjemputnya. Melihat perempuan itu berdandan cantik dengan dress bunga-bunga dan make up tipis, membuat Daffin dibuat terpesona.


"Sebenarnya kita mau kemana sih? Kok nyuruh gue dandan?" tanya Cynthia yang duduk di sebelahnya.


Cynthia sih menurut-nurut saja, karena Ia senang jika berduaan dengan Daffin. Cukup lama mereka di perjalanan, dan ternyata Daffin membawanya ke sebuah danau. Tempatnya agak terpencil, di danau sana pun sepi sekali.


"Gue baru tahu di sekitar sini ada danau, tapi danaunya bersih juga," gumam Cynthia terlihat terpukau melihat sekitar.


Daffin hanya tersenyum ikut senang mendengarnya. Ia terus mendorong kursi roda Cynthia ke suatu tempat yang sudah disiapkan nya. Ada rumah pohon di atas, di bawahnya sudah ada meja dan dua kursi. Kue-kue dan secangkir teh pun terhidang dengan cantik.


"Loh apa ini? Ini siapa yang nyiapin?" tanya Cynthia terkejut sendiri.


"Hehe aku lah, tapi dibantu juga sih sama asisten Papa," jawab Daffin jujur.


Saat Cynthia di duduk kan di kursi putih itu, Ia terlihat masih bengong terlalu speechless dengan suasana yang terlihat romantis ini. Piknik di alam terbuka, tapi vibesnya tetap mewah.


"Kenapa buat ini?" tanya Cynthia.


"Kejutan aja, kamu suka?"

__ADS_1


Ditanyai seperti itu, membuat Cynthia terdiam, "Lo nyiapin ini buat gue?"


"Iya," angguk Daffin.


"Ke-kenapa?"


Daffin terlihat meminum teh nya sedikit, lalu menatap mata Cynthia dalam. Ia terlihat gugup untuk mengatakannya, tapi Daffin harus berani karena Ia juga sudah mempersiapkan ini.


"Katanya kalau buat orang yang kita suka senang, kita juga bakalan ikut senang," jawab Daffin sambil tersenyum.


"Maksudnya?" Cynthia terlihat lemot sekali, percayalah Ia sedang gugup.


Daffin lalu membawa kedua tangan Cynthia yang berada di atas meja, "Aku mau langsung bilang aja, kayanya aku suka sama kamu."


Cynthia sampai tersedak oleh ludahnya sendiri mendengar itu, telinganya pun bisa mendengar jelas detak jantungnya menjadi lebih cepat. Antara senang dan terharu Ia rasakan sekarang, membuat kedua matanya jadi berkaca-kaca.


"Daffin, lo lagi bercanda ya?" tanyanya konyol.


Daffin lalu terkekeh kecil, "Terus kalau aku bercanda, kenapa sampai seniat ini buat hias tempat ini juga? Susah loh bawa dekor ini ke danau, malahan aku yang mangku mejanya," katanya.


"Tapi gimana bisa?"


"Hm?"


"Gue.. Gue kan orangnya nyebelin, terus gue juga suka nyusahin lo. Selain itu gue lumpuh Daffin, gue gak normal!" Cynthia terlihat emosional sekali saat mengatakan itu, Ia merasa sadar diri saja.


"Hei jangan bilang gitu, alasan aku bisa suka sama kamu itu karena hal lain. Ada banyak kelebihan kamu yang buat aku suka, jangan merendah begitu," ucap Daffin sambil mengusap tangannya.


Daffin lalu terkejut melihat Cynthia yang malah menangis terisak, membuatnya jadi bingung sendiri. Daffin pun beranjak mendekat, lalu memeluk Cynthia dari samping.


"Kenapa nangis? Apa kamu gak suka sama aku? Aku minta maaf kalau malah bebanin kamu. Gak papa kok Cynthia kalau kamu gak suka aku," ujar Daffin.


"Hiks bukan itu!" bantah Cynthia kesal di sela tangisannya.


"Terus kenapa nangis?"

__ADS_1


__ADS_2