Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 18


__ADS_3

"Lama!"


Itulah hal pertama yang Elisa katakan saat Daffin sampai di rumah, Daffin lalu meminta maaf karena di jalan juga cukup macet. Tetapi ternyata hanya itu saja tidak membuat Elisa dengan mudah luluh.


"Gak ada barang yang ketinggalan kan?" tanya Daffin.


"Enggak ada, sudah di cek lagi," jawab Elisa tanpa menatap.


"Kamu juga tadi pagi sudah pamitan ya sama Papa dan Mama, ya sudah sekarang kita berangkat aja," ajak Daffin.


Pria itu membawakan beberapa tas berisi barang milik Elisa keluar rumah. Sesekali Daffin melirik sahabat perempuannya itu yang masih cemberut, sepertinya belum luluh.


"Kamu kenapa sih? Padahal aku juga sudah secepat mungkin pulang, di rumah Cynthia juga cuman sebentar," kata Daffin berusaha bersabar.


"Oh jadi kamu belum puas berduaan sama dia? Aku ganggu ya?" tanya Elisa sambil tersenyum kecut, Pura-pura kecewa.


"Kamu tahu sendiri aku harus jaga dan rawat Cynthia, makanya aku minta kamu mengerti. Kalau aku telat, seharusnya kamu bisa mengerti posisi aku," ucap Daffin.


Elisa terdengar berdecak pelan seperti merasa kesal dan tidak mau di salahkan. Perempuan itu lalu melenggang masuk duluan ke dalam mobil, bahkan menutup pintunya kasar.


Daffin hanya menggelengkan kepala melihat itu, lalu ikut masuk ke dalam mobil. Semua barang sudah disimpan di bagasi. Daffin pun mulai menjalankan kendaraannya itu pergi dari sana.


"Besok Cynthia mulai masuk Kuliah lagi, kamu mau bareng ikut berangkat sama dia?" tanya Daffin memulai lagi obrolan.


"Jadi maksudnya kamu juga bakal jemput dia?" tanya Elisa.


"Iya, aku harus jemput dan anterin dia pulang. Di sana juga aku harus sama dia terus, kasihan kalau dorong kursi roda sendiri."


Elisa melipat kedua tangannya di dada, "Ck dia itu benar-benar ngerepotin kamu!" dengusnya.


"Bukan gitu, tapi--"


"Yaya aku tahu kamu cuman mau tanggung jawab, tapi kan kamu juga harusnya gak usah lah kemana-mana jagain dia terus. Apalagi sampai di Kampus, nanti gimana kalau ganggu belajar kamu?" sela Elisa.


"Enggak lah, dia juga gak akan sampai begitu," elak Daffin, Cynthia juga pasti bisa mengerti waktunya.


"Terserah kamu saja deh Daffin!" ketus Elisa kembali badmood.

__ADS_1


Dan setelah itu hening, hanya suara musik di mobil. Daffin juga merasa malas memulai lagi obrolan, lelah saja jika sampai ribut lagi. Elisa itu kalau sudah badmood jadi menyebalkan.


Sesampainya di kawasan kontrakan Elisa, keduanya langsung turun dari mobil. Daffin pun kembali membawakan barang-barang, Elisa berjalan lebih dulu di depannya.


"Selamat sore neng Elisa, akhirnya datang juga ya," sapa si Ibu kost.


"Iya Bu, kan kemarin sudah bilang mau pindahan hari ini. Oh iya Bu, kamar aku sudah dibersihin dan dicek lagi kan?" tanya Elisa.


"Sudah kok, tenang saja."


Elisa mengangguk lalu memberikan amplop berisi uang, "Ini saya bayar langsung untuk tiga bulan ya Bu," ucapnya.


"Wah siap-siap, Ibu paling seneng kalau anak-anak bayar kost an tepat waktu. Semoga betah ya neng Elisa. Ayo mari Ibu antar ke kamar kamu," ajaknya menunjukan arah.


Kost an ini memang khusus untuk perempuan. Karena Elisa baru pindahan, jadi Daffin pun masih di perbolehkan untuk ikut masuk dan naik ke lantai dua. Kamar Elisa terbilang cukup nyaman, sudah ada kasur, lemari dan televisi.


"Kamu yakin bakalan tinggal di sini?" tanya Daffin sambil menyimpan tas di lantai.


"Iya, emang kenapa?"


"Gak papa sih, semoga betah ya."


Jarak dari kost an ini ke rumah Daffin juga tidak terlalu jauh dan se arah menuju Kampus, jadi bisa sekalian. Daffin tidak usah menawarkan, toh sudah pasti Elisa setiap hari mau pulang pergi bersamanya.


"Tadi kamu kan pulang bareng Satria, kalian jalan kemana dulu?" tanya Daffin penasaran.


"Gak ke mana-mana, padahal aku sudah ajak Satria kemana dulu, tapi dia bilang sibuk," Jawab Elisa sambil mengerucutkan bibir.


"Terus besok kalian jadi jalan?"


"Gak tahu, tapi semoga aja jadi. Aku pengen banget jalan berdua sama Satria, biar kita jadi makin deket gitu hehe."


Seharusnya jika melihat orang yang kita sukai bahagia, kan harusnya juga ikut bahagia. Tetapi Daffin tidak bohong dadanya cukup sesak, Ia masih merasa cemburu Elisa menyukai Satria, teman baiknya di Kampus.


"Semoga nge date nya lancar ya," celetuk Daffin.


Elisa pun langsung tersenyum malu-malu mendengar itu, "Ah Daffin kamu bisa aja deh," ucapnya lalu memukul tangan Daffin pelan salah tingkah.

__ADS_1


***


Besok paginya Daffin sudah bersiap berangkat Kuliah, pria itu turun dari lantai dua menuju ruang makan. Daffin bukan untuk sarapan, melainkan berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Duduk dulu Daffin, sarapan," perintah Candra.


"Enggak bisa Pah, aku takut telat," tolak Daffin.


"Ya sudah tapi nanti kalau kelas pertama selesai langsung ke kantin makan ya."


"Iya Pah, aku berangkat dulu ya."


Sebenarnya sih ada waktu, tapi kan Daffin harus menjemput Elisa dan Cynthia. Entah kenapa di bayangannya terasa sibuk, padahal tidak terlalu karena jalannya satu arah.


"Ayo masuk, kita harus ke rumah Cynthia sekarang," ucap Daffin pada Elisa yang berdiri di sisi jalan.


Elisa pun masuk dan duduk di sebelahnya, perempuan itu tidak menyapa atau mengajaknya bicara. Daffin menduga jika Elisa masih ngambek, apa karena cekcok dengannya kemarin?


Sesampainya di rumah Cynthia, Daffin segera turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah. Terlihat Cynthia melambaikan tangan padanya, Daffin pun tersenyum lalu mendorong kursi rodanya.


Daffin lalu menggendong Cynthia untuk duduk di kursi belakang, sedang kursi rodanya Ia lipat dan dimasukan ke dalam bagasi. Daffin pun segera masuk lagi ke dalam dan mengemudikan mobilnya itu pergi.


"Lo udah sarapan?" tanya Cynthia di belakang.


Daffin melirik nya lewat kaca kecil di atas, "Hehe belum sempat, kalau kamu?"


"Gue udah duga lo belum sarapan, soalnya lo nge jemputnya pagi banget." Cynthia lalu memberikan sebungkus roti, "Nih buat lo."


"Eh serius nih buat aku?" tanya Daffin terkejut sendiri.


"Ck iya udah ambil, jangan malu-malu," dorong Cynthia sambil menyodor-nyodor roti itu.


Daffin pun mengambilnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Karena merasa lapar, Ia pun memakan roti itu sambil tetap menyetir. Saat sedang asik makan, Daffin melirik ke samping.


Senyuman di bibirnya langsung menghilang melihat wajah masam Elisa, dengan lirikan sinis padanya. Ada apalagi? Apa Daffin salah? Daffin pun berusaha tetap fokus menyetir dan melanjutkan makannya.


"Lain kali gak usah buru-buru berangkatnya, santai aja," ucap Cynthia di belakang.

__ADS_1


"Hehe iya tadi takut telat, tapi ternyata masih ada waktu. Kayanya nanti juga bisa sarapan dulu," sahut Daffin dari depan.


Elisa hanya memutar bola mata malas mendengar dua orang itu mengobrol, sedang dirinya serasa di acuhkan. Elisa lalu mengejek Cynthia di dalam hati, jika perempuan itu sok perhatian sekali pada Daffin.


__ADS_2