
Candra terbangun dari tidurnya karena mendengar suara dari luar kamarnya. Ia sempat melirik Livia, istrinya itu masih terlelap membuatnya dengan pelan menuruni ranjang takut membangunkan. Candra lalu keluar dari kamar, menuju asal suara yang cukup bising itu dari arah dapur.
"Tunggu sebentar ya sayang, Mama mau buat nasi dulu," ucap Rania yang sepertinya sedang kerepotan, terlihat Daffin tidak bisa diam di baby walker nya.
"Butuh bantuan?" tawar Candra.
Rania pun langsung menoleh ke asal suara, "Sudah bangun Mas?"
"Iya, aku juga baru lagi bangun subuh begini," jawab Candra agak malu-malu. Kalau Rania sih sudah tahu dari dulu selalu bangun subuh.
"Pasti tidurnya gak nyenyak ya? Kasurnya keras ya?"
"Enggak kok, aku nyenyak aja tidurnya," bantah Candra.
Pria itu lalu mendekati Daffin, berjongkok untuk menyamakan posisi tubuhnya. Candra memainkan beberapa mainan yang ada di depan baby walker, membuat Daffin pun memfokuskan pandangan dan ikut bermain.
"Kamu pasti kerepotan setiap hari harus jagain dia yang lagi gak bisa diam begini," kata Candra tanpa menoleh, hanya tidak mau Rania melihat tatapan kasihan dan tidak teganya.
"Aku nikmatin waktu begini. Memang sih agak repot, tapi aku selalu berusaha sabar hadapin Daffin. Senakal-nakalnya dia, aku gak akan pernah sampai marahin berlebihan," sahut Rania.
"Kamu beruntung bisa lihat perkembangan dia dari bayi sampai sekarang, dan aku benar-benar rugi dan menyesal. Maaf ya?"
Dada Rania seperti tersentak mendengar itu. Ia bisa mendengar nada suara Candra jadi serak, apakah menahan tangis? Sepertinya Candra merasa bersalah karena membiarkannya hanya merawat Daffin sendirian.
"Gak papa Mas, aku sendiri yang milih untuk pergi. Malahan aku yang minta maaf karena sudah pergi tanpa izin dan menjauh, lalu sampai buat Mas gak bisa ketemu Daffin," ujar Rania dari dalam hati.
Candra lalu berdiri dari duduknya, berbalik menghadapkan pada Rania, "Kamu gak perlu minta maaf, aku ngerti perasaan kamu kenapa sampai memilih untuk pergi."
Siapa juga yang tidak sakit hati sudah di kecewakan berkali-kali, apalagi setelah tahu selama ini hanya mau dimanfaatkan saja. Malahan Candra merasa sedikit lega, karena Rania masih memberikan dirinya kesempatan bertemu Daffin, putranya.
"Kamu Ibu yang hebat bisa menjaga dia sendirian, terima kasih Rania sudah merawat Daffin dengan baik," ucap Candra sambil tersenyum.
"Dia anak aku, jadi sudah seharusnya aku merawat dia dengan baik," kata Rania membalas senyumannya.
__ADS_1
Candra lalu berinisiatif mengajak Daffin keluar rumah, kasihan juga Rania itu akan masak. Untung saja tadi Candra sempat mencuci wajah dan menggosok gigi, kalau mandi nanti saja bisa setelah makan.
Ternyata matahari sudah mau terbit, walau keadaan di sana masih agak gelap. Cuacanya sangat segar dan dingin, sangat berbeda sekali dengan di Jakarta. Candra menikmati pemandangan di depan teras sambil menggendong Daffin.
Tin!
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan halaman rumah. Saat si pengendara turun, senyuman di bibir Candra langsung hilang. Itu Yoga. Kenapa pria itu pagi-pagi sekali kesininya?
"Selamat pagi Pak Candra, senang bisa bertemu anda lagi. Bagaimana kabar anda?" tanya Yoga memulai lebih dulu.
"Saya semakin baik, kamu sendiri?"
"Kalau saya sudah pasti selalu sehat dan baik," jawab Yoga sambil tersenyum lebar.
Sebelah sudut bibir Candra terangkat, "Ya siapa juga yang tidak bahagia punya pacar kaya Rania ya?" sindirnya membuat asistennya itu tertawa.
Yoga lalu merendahkan tubuhnya untuk menyapa Daffin. Terlihat anak balita itu langsung tidak bisa diam seolah meminta digendong Yoga. Melihat reaksinya yang se semangat itu, membuat Candra merasa cemburu. Daffin terlihat sudah kenal dan dekat dengan Yoga.
"Pak boleh gak saya yang gendong Daffin?" tanya Yoga malu-malu.
"I-iya Pak." Yoga jadi agak canggung sendiri mendapat penolakan mentah-mentah begitu.
"Kamu setiap hari suka kesini ya?" tanya Candra.
"Bisa dibilang begitu, biasanya kalau selesai kerja pasti nyempatin waktu dulu kesini," jawab Yoga.
"Ngapain aja kamu di sini?" Candra terlihat kepo sekali, banyak bertanya.
Yoga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, agak bingung harus menjawab apa. Ia jadi merasa sedang di interogasi, sayangnya tidak bisa menolak karena Candra itu adalah bosnya. Padahal ini masalah pribadinya.
"Ya main aja," jawab Yoga agak ambigu.
"Inget ya kamu sama Rania itu belum sah jadi suami istri, jadi jaga batasan kamu dan jangan sampai buat orang lain salah paham. Mengerti?" omel Candra emosi sendiri.
__ADS_1
"Iya Pak, saya juga tidak suka bersikap di luar batas kok," sahut Yoga.
Ya Candra juga berharapnya begitu, tapi Ia percaya karena Rania adalah perempuan baik-baik dan tidak suka aneh-aneh. Hanya masih tidak menyangka saja dalam waktu cepat bisa move on darinya, apalagi sudah mau ke tahap serius.
Jadi Candra sakit hati merasa sudah di khianati, begitu?
"Terus ngapain kamu pagi-pagi begini kesini?" tanya Candra bertanya lagi.
"Semalam Rania telepon saya katanya Bapak dan Bu Livia kesini, jadi saya nyusul aja buat mastiin, sekalian sapa kalian juga," jawab Yoga.
"Kamu pasti khawatir ya Rania kenapa-napa?"
"Haha tidak juga, anda kan orang baik." Yoga tersenyum penuh arti, dengan tatapan tidak meyakinkannya.
Keduanya lalu masuk ke dalam rumah saat mendengar panggilan Rania, sepertinya perempuan itu pun sudah selesai masaknya. Candra memperhatikan Rania dan Yoga, interaksi di antara mereka terlihat sangat dekat. Anehnya dadanya merasa panas.
"Ayo sayang kita mandi dulu," ajak Rania sambil menghampiri Candra.
Candra jadi gelagapan sendiri mendengar itu, padahal Ia tahu Rania sedang mengajak Daffin, tapi merasa kepadanya, "Memangnya Daffin gak akan kedinginan mandi jam segini?" tanyanya.
"Enggak akan, pakai air hangat kok, biar kelihatan segar," jawab Rania sambil tersenyum.
Perempuan itu lalu meminta Candra dan Yoga untuk makan lebih dahulu, tapi mereka bilang akan nanti saja bersama-sama. Kedua pria itu pun memutuskan membuat kopi dahulu, menikmatinya ditemani kue kering yang ada di meja ruang tamu.
"Apa kamu juga suka bantuin Rania menjaga Daffin?" tanya Candra.
"Iya terkadang, makanya Daffin kelihatan sudah kenal dengan saya."
"Kamu gak ajarin dia manggil kamu Papa kan?"
"Hah? Ti-tidak kok, lagian Daffin kan belum bisa bicara Pak," bantah Yoga sambil tertawa canggung. Padahal sebenarnya Ia punya rencana, karena ingin Daffin memanggilnya Papa.
"Pokoknya yang harus Daffin panggil Papa pertama itu saya. Walaupun nanti kamu juga akan menikah dengan Rania, tapi dia kan tetap anak kandung saya."
__ADS_1
Yoga mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia tidak merasa sikap bosnya itu sangat kekanakan, toh memang berhak. Sikap Candra itu seperti layaknya orang tua saja, akan cemburu jika anaknya lebih dekat dengan orang lain.