Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 29


__ADS_3

"Hei sudah siap?" tanya Daffin pada Cynthia yang ternyata sudah stanby di depan teras.


"Iya sudah, kita berangkat sekarang?"


"Iya sekarang, apa Mama kamu mau ikut? " tanya Daffin sambil memperhatikan sekitar, tapi tidak menemukan wanita paruh baya itu.


"Enggak, dia ada urusan katanya," jawab Cynthia. Tetapi Mamanya itu memang cuek, mentang-mentang ada Daffin yang mengurusnya.


Daffin lalu mendorong kursi roda Cynthia menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh di depan. Hanya saja Cynthia agak bingung kenapa di dudukan di bagian belakang, saat melihat ke depan ternyata ada orang.


"Hallo Cynthia, aku ikut ya," kata Elisa sok akrab, padahal senyumannya terlihat tidak ikhlas.


"Ngapain ikut? Kalau mau ikut, jangan cerewet dan repotin Daffin," sahut Cynthia ketus.


Elisa terlihat memutar bola matanya malas. Baru saja akan membalas perkataan Cynthia, jika perempuan itu lah yang selalu merepotkan Daffin. Tetapi Elisa terdiam karena Daffin keburu masuk.


Pria itu pun segera menjalankan mobilnya dan mereka pergi dari sana. Sebenarnya tadi Elisa sudah diminta duduk di belakang, tapi Elisa tidak mau dan memaksa ingin di depan. Daffin pun pasrah saja.


"Kalau terapi gitu emang ngapain aja sih?" tanya Elisa penasaran.


"Ya Cynthia yang belajar jalan lagi aja, nanti juga ditemenin suster kok," jawab Daffin sambil tetap fokus menyetir.


"Apa lama?"


"Iya lama, lo kan orangnya bosenan mending jangan ikut. Nanti di sana malah ngerengek minta pulang lagi," kata Cynthia di belakang.


"Ck apaan sih? Aku kan nanyanya sama Daffin," kesal Elisa menggerutu. Si Cynthia itu memang julid sekali, pikirnya.


Daffin hanya menghela nafas melihat dua perempuan itu mulai berdebat lagi. Tadinya Ia tidak mau membawa Elisa karena pasti akan seperti ini, tapi Daffin juga tidak enak hati dan takut malah menyinggung perasaannya.


Sesampainya di rumah sakit itu, mereka langsung turun. Seperti biasa Daffin selalu mendorong kan kursi roda Cynthia. Mereka langsung disambut salah seorang suster dan ditunjukan jalan dimana mereka akan terapi.


"Apa teman-teman nya mau ikut menemani pasien terapi?" tanya suster itu ramah.

__ADS_1


"Iya suster, sekarang berarti yang ke berapa kali ya Cynthia terapi?" tanya Daffin balik.


"Baru ke tiga kali, harus rutin biar dokter juga lihat perkembangan pasien dan ada kemajuan," jawab suster itu.


"Iya semoga saja Cynthia bisa cepat jalan normal lagi," angguk Daffin setuju.


Sepertinya jika Cynthia bisa berjalan normal seperti dulu lagi, Daffin pun akan ikut senang dan terharu. Ia memang yang sudah membuat perempuan itu seperti ini, tapi Daffin juga kan bertanggung jawab dengan menemaninya berobat.


"Biar aku bantu," tawar Daffin sambil mengulurkan tangannya.


Cynthia pun menerima tangan pria itu sambil tersenyum. Dari awal Daffin lah yang memegangnya untuk belajar berjalan, pria itu tidak pernah mengeluh kelelahan karena memeganginya terus.


Dengan perlahan kakinya yang masih terasa lemah itu, Cynthia ayunkan menapaki lantai. Sesekali wajahnya mengernyit merasakan berat yang sangat untuk menggerakan kakinya itu.


"Semangat, kamu bisa," bisik Daffin di depannya.


Cynthia tersenyum lalu mengangguk. Ya pria itu selain membantunya juga selalu menyemangatinya. Jujur saja hal manis itulah yang membuat Cynthia merasa semakin semangat untuk sembuh.


Dug!


Tetapi untungnya Daffin dengan sigap menangkap tubuhnya dan memeluk pinggangnya. Kedua orang itu pun saling bertatapan dalam, dan tanpa bisa ditahan detak jantung perlahan menjadi cepat.


Elisa yang dari tadi hanya diam kali ini sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dadanya panas saja melihat Daffin yang sedekat itu dengan Cynthia, dan menurutnya kali ini sudah keterlaluan.


"Ekhem!" dehemnya keras setelah dekat.


Kesadaran Daffin pun langsung kembali, pria itu lalu dengan cepat mendudukan Cynthia di kursi rodanya. Terlihat wajahnya yang sedikit merah, seperti sedang salah tingkah.


"Baiklah kita istirahat dulu ya, jangan terlalu dipaksakan juga karena mental pasien akan tertekan," kata suster itu sambil tersenyum.


"Iya suster, kalau jadwal terapinya kira-kira kapan lagi?" tanya Daffin.


"Tiga hari lagi ya Kak, sekarang saya akan laporkan dulu hasilnya pada dokter agar beliau melihat perkembangan pasien." Setelah mengatakan itu, suster itu pun pergi.

__ADS_1


Daffin kembali menatap Cynthia, "Kayanya kamu makin hebat aja, aku yakin sebentar lagi kamu bisa jalan," ucapnya.


"Iya tapi masih ngerasa berat buat gerakin kaki," kata Cynthia.


Elisa lalu menyahut dengan nada sinisnya, "Jangan pura-pura lemah gitu deh, kalau misal udah baikkan ya jujur aja."


"Maksudnya apa ya?" tanya Cynthia.


"Awas aja ya kamu kalau manfaatin kesempatan ini, cuman karena mau bergantung terus sama Daffin, aku gak akan biarin!" desis Elisa.


Daffin menahan tangan Elisa, "Elisa kamu ngomong apa sih?" tanyanya ikut campur.


"Aku cuman takut aja dia manfaatin kamu dengan fisiknya itu. Aku yakin kondisinya sudah baikkan, tapi mungkin dia mau pura-pura supaya makin lama sama kamu terus," kata Elisa.


Daffin hanya menggelengkan kepala mendengar itu, Lagi-lagi Elisa ini melantur tidak jelas dengan dugaannya sendiri. Sebenarnya Elisa ini kenapa? Sekarang jadi penuh drama begini.


"Kenapa emangnya kalau gue kaya gitu? Lo cemburu ya lihat Daffin perhatian gitu sama gue?" tanya Cynthia sambil menarik sebelah sudut bibirnya, seolah menantang.


Wajah Elisa terlihat salah tingkah saat ditanyai seperti itu, "Haha ngomong apaan sih? Aku bukan cemburu, tapi aku gak mau aja Daffin di bodoh-bodohin. Kamu itu sudah terlalu merepotkan dia!" balasnya.


"Sudah Elisa, jangan bicara begitu," tegur Daffin mulai geram sendiri.


"Kamu belain dia dari pada aku? Aku itu sahabat kamu Daffin!" kesal Elisa.


"Astaga bukan begitu Elisa, tapi kamu itu selalu saja menuduh Cynthia ini-itu. Kamu gak suka sama dia?"


Dan akhirnya Elisa pun memilih menjawab jujur, "Iya aku emang gak suka sama dia, karena kita jadi jarang ada waktu bareng-bareng lagi. Dia mau rebut kamu dari aku!"


Hening beberapa saat, tapi Elisa dan Daffin terkejut mendengar Cynthia yang duduk di kursi roda tertawa dengan keras sampai bertepuk tangan. Elisa pun berkacak pinggang, merasa tersinggung.


"Kenapa ketawa?!" tanya Elisa galak.


"Haha ya gimana gak ketawa, bicara lo itu udah berlebihan banget. Lo udah kaya siapanya Daffin aja, sampai batasin dia sama siapapun," jawab Cynthia masih berusaha menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Dia sahabat aku, dan kami sudah bersama dari kecil. Kamu gak akan pernah ngerasain, karena kamu kan emang gak punya teman," ucap Elisa menohok.


Kini tawa Cynthia pun terhenti, tatapannya menjadi dingin pada Elisa, "Soalnya gue pilih-pilih, takut aja ketemu temen yang sifatnya gak tahu diri kaya lo!"


__ADS_2