Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Sepertinya Cukup Penting


__ADS_3

Di kamar Rania terus melihat surat itu, membacanya berulang kali sampai bosan dan mengerti penuh. Entah kenapa Rania merasa surat ini sungguhan, jika hanya pura-pura tidak mungkin sampai ada tanda tangan di atas materai dan perjanjian ini itu.


Tok tok!


"Astaga!" pekik Rania terkejut mendengar pintu kamarnya diketuk.


Belum juga Ia persilahkan masuk, seseorang itu sudah masuk ke dalam. Rania semakin panik karena itu adalah Candra, segera Ia pun menyimpan kertas itu di bawah bantal nya. Rania berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apapun.


"Mas Candra, sudah pulang?" tanyanya sekedar basa basi.


"Iya pekerjaan aku di sana selesai lebih cepat, jadi mutusin langsung pulang." Candra lalu menundukan kepala, "Apa dia rewel?" tanyanya.


"Hah?"


"Bayi kita, dia gak manja kan pas aku gak ada?"


"Oh e-enggak kok, biasa aja," jawab Rania gagap.


"Kamu baik-baik aja kan selama aku tinggal? Gak ada kejadian kan?" tanya Candra memastikan.


"Kejadian apa?" tanya Rania bingung.


"Ya misal aja ada drama kamu jatuh atau kenapa gitu? Yang sampai buat bayinya kenapa-napa."


Ternyata itu yang Candra khawatirkan, pasti di sana pun selalu memikirkan keadaan bayi di perutnya. Mana mungkin Rania menyakiti bayinya sendiri, karena dirinya juga akan ikut tersakiti. Lagi-lagi yang Candra khawatirkan itu ya bayinya.


"Gak ada kok," ucap Rania.


"Hm baguslah, aku cuman khawatir."


"Iya khawatir, tapi khawatir pada bayinya, bukan dirinya." Batin Rania menggerutu.


Bukannya pergi keluar, Candra malah mendudukan dirinya di sisi ranjang. Menyadari posisi duduk pria itu sangat dekat dengan kertas yang Ia sembunyikan di bawah bantal, membuat Rania merasa cemas.


"Aku dengar kemarin Leon datang ya?" tanya Candra, kini ekspresi wajahnya mulai serius.

__ADS_1


Rania terdiam beberapa saat, dari mana suaminya itu tahu?


"Iya," jawabnya pelan.


"Ngapain dia kesini? Dia gak nyakitin kamu kan?"


"Enggak, dia malah minta maaf sama aku." Rania memutuskan jujur untuk hal ini, takut menjadi salah paham.


Sebelah alis Candra terangkat, "Serius dia minta maaf sama kamu?"


"Iya, dia bilang seharusnya gak perlu terlalu ikut campur pada masalah rumah tangga ini," lanjut Rania menceritakan.


Sebelah sudut bibir Candra terangkat, memang seharusnya adik iparnya itu tidak perlu ikut campur masalah rumah tangganya. Lagi pula mereka tidak tahu bagaimana kejadiannya, ini hanyalah rahasia dari Livia dan Candra.


"Aku kira dia apa-apa in kamu, kalau bayi kita sampai kenapa-napa aku gak akan maafin dia dan masukin dia ke penjara," desis Candra.


Kedua mata Rania terbelak mendengar itu, seserius itu kah Candra? "Kenapa sampai mau dilaporik ke polisi? Leon itu kan adik Ipar Mas."


"Karena dia sudah menyakiti bayi itu, aku tidak mau dia kenapa-napa."


Lagi-lagi bayi dan bayi, membuat Rania semakin yakin jika Candra hanya membutuhkan bayi darinya. Jadi surat itu sungguhan? Rania menghela nafasnya berat, dadanya kembali merasa sesak.


"Nona ini kenapa dari tadi pagi cemberut terus?" tanya mbok Nina.


Kebetulan Rania memang sedang memperhatikan pembantunya itu yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. Ternyata mbok Nina dari tadi memperhatikannya, membuat Rania pun berhenti cemberut.


"Gak papa kok mbok," jawabnya.


"Bohong, pasti ada sesuatu yang Nona pikirin, kan? Apa ada masalah? Mungkin bisa cerita sama mbok biar lebih tenang." Mbok Nina sangat perhatian sampai mau dijadikan tempat curhat.


Rania menghela nafasnya berat, "Mbok, sekarang aku lagi ngerasa gak enak perasaan," ungkapnya.


"Kenapa memangnya?"


"Aku gak sengaja tahu sesuatu yang seharusnya aku gak tahu," gumam Rania.

__ADS_1


Terlihat kernyitan di kening mbok Nina, tanda jika wanita paruh baya itu tidak mengerti dengan maksud perkataan Nona nya itu. Tetapi melihat ekspresi sedih Rania, membuat Nina yakin ada masalah besar.


"Kalau misal masalahnya berat dan gak bisa di selesaikan sendiri, lebih baik cerita sama Tuan Candra. Mungkin beliau bisa bantu," usul Nina.


Mendengar itu malah membuat Rania terkekeh miris. Mana ada meminta bantuan pada Candra, toh pria itu lah sumber masalahnya. Setelah Rania pikir-pikir lagi, dirinya terlalu bodoh dan terlalu baik.


Entah sudah ke berapa kalinya Rania dibuat kecewa oleh Candra, pria itu terus membohonginya dan tidak menepati janji. Rania juga lebih bodoh, karena masih saja bertahan. Mau bagaimana lagi, Rania merasa tidak berdaya untuk membantah.


"Makan malamnya sudah siap, Nona mau makan lebih dulu?" tanya mbok Nina.


"Sebentar deh aku mau ambil ponsel dulu." Rania lalu beranjak pergi dari sana.


Tetapi saat melewati tangga, telinganya yang memang cukup peka tidak sengaja mendengar suara keributan dari lantai atas. Dan entah kenapa, Rania malah merasa penasaran sampai naik untuk mengeceknya. Kamar Candra dan Livia memang di dekat tangga, jadi sampai ke bawah akan terdengar.


"Kenapa bisa hilang sih? Kamu simpan dimana terakhir kali?" Itu suara Candra yang terdengar panik.


"Kok malah tanyain aku sih? Kan kamu yang selalu baca surat kontrak itu, kamu lah yang tanggung jawab!" balas Livia.


"Tapi bener kok aku ngerasa nyimpen di rak sini, deket kamus bahasa Spanyol aku," sahut Candra dengan suara agak melemah.


Rania menelan ludahnya susah payah, entah kenapa merasa bisa langsung menyimpulkan kalau keributan yang terjadi di antara pasangan suami itu karena dirinya. Surat kontrak itu pasti surat yang Rania bawa, berisi perjanjian itu.


"Kamu sih nyimpen nya dimana aja, dari dulu selalu teledor!" kesal Livia.


Untuk beberapa saat pun hening, dan Rania merasa dirinya sudah terlalu lama menguping di dekat pintu kamar itu. Tetapi baru saja berbalik akan pergi, suara Livia yang menyebut namanya membuat langkahnya terhenti.


"Oh iya aku hampir lupa, tadi pagi mbok Nina ngasih tahu kalau kemarin malam Rania tidur di sini. Kemarin kan mati lampu, dan di sini ada lampu emergency."


"Tunggu, apa jangan-jangan Rania--"


Merasa sudah tidak aman dan tidak mau mendengar lagi, Rania pun segera turun dari sana. Ia terus menoleh ke belakang khawatir dua orang itu keluar lalu menyadari kehadirannya yang menguping. Rania masuk ke kamarnya sambil mengatur nafasnya yang memburu.


"Hah-hah, aduh bagaimana ini?" tanyanya panik.


Rania terus mondar-mandir di depan pintu, berpikir dengan keras cara supaya mereka tidak curiga kepadanya. Tetapi sepertinya mereka akan langsung menuduhnya, karena kemarin malam kan Rania memang sempat di kamar atas.

__ADS_1


Tok tok!


"Rania, kamu di dalam?" tanya Candra dari luar kamar.


__ADS_2