Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Ingin Melihat nya


__ADS_3

"Apa dia sendirian?" tanya Rania pelan.


"Iya Pak Candra sendirian, mungkin sepulang bekerja langsung ke sini untuk mencari kamu," jawab Yoga menduga.


Kenapa hal pertama yang Rania dengar dari Candra malah kabar buruk begini? Sejahat apapun pria itu, tetaplah perasaan Rania kepadanya masih ada. Mereka pernah bersama dalam waktu lumayan lama, banyak kenangan yang telah dilewati juga.


"Rania, kamu gak papa?" tanya Yoga memastikan, hanya khawatir dengan keadaannya setelah mendengar ini.


Rania menggeleng pelan, "Aku gak bisa pura-pura gak peduli sama dia, nyatanya hati aku sakit mendengar dia mengalami kejadian buruk begitu," ucapnya jujur.


"Itu berarti kamu.. Masih mencintai Pak Candra?"


Bukannya Rania menjawab, perempuan itu malah tersenyum kecut. Tentu saja perasaan cinta itu masih ada, Rania ini memang bodoh sekali, padahal Candra sudah sering membuatnya kecewa. Tetapi sikap baik pria itu lah yang membuat Rania sampai saat ini masih selalu mengingatnya.


"Aku tidak tahu," gumam Rania lirih.


Yoga yang mendengarnya hanya tersenyum pedih, untuk apa juga Ia menanyakan hal yang sudah pasti itu pada Rania? Lagi pula Rania dan Candra berpisah belum lama, jadi wajar belum move on.


"Mas Yoga, tolong kabari aku terus ya tentang perkembangan kondisi Mas Candra," pinta Rania.


"Kamu tenang aja, aku akan selalu ngabarin kamu kok," sahut Yoga berbaik hati.


Memang sebenarnya agak nyesek melakukan ini, tapi Yoga berpikir mungkin ini pula dirinya bisa mendekatkan diri lagi dengan Rania. Memperbaiki hubungan mereka yang sempat renggang karena kejadian itu.


"Apa kamu ada rencana untuk menjenguk mantan suami kamu itu?" tanya Yoga tiba-tiba.


Rania tersentak mendengar itu, "E-enggak," geleng nya.


"Besok aku akan ke Jakarta untuk menjenguk Pak Candra, aku juga mau lihat kondisinya langsung bagaimana. Apa kamu mau ikut?" tawar Yoga.

__ADS_1


Sekarang Rania jadi bimbang, apa Ia harus kembali ke Jakarta atau tidak. Rania sudah susah payah melarikan diri waktu itu, Ia juga sampai nekad pindah tempat tinggal hanya tidak mau Candra menemukannya.


Tetapi jika sampai Rania malah ke Jakarta hanya untuk melihat kondisi Candra, bukankah dirinya bodoh? Hanya saja hatinya ini tidak bisa tenang, ingin sekali melihat pria itu langsung memastikan apakah benar baik-baik saja atau tidak.


"Kalau besok kamu mau ikut bisa kabari aku, nanti aku jemput," kata Yoga.


"Iya, makasih."


"Sama-sama." Yoga melihat jam tangannya, "Aku harus ke pabrik sekarang, tadi sempat ninggalin soalnya mau ngasih tahu kamu ini."


Benarkah? Rania jadi merasa tidak enak karena mengganggu pekerjaan Yoga, tapi kan pria itu sendiri yang datang dan memberitahunya. Rania jadi merasa spesial karena lebih diutamakan.


Selepas kepergian Yoga, Rania masuk ke kamarnya dan duduk dengan tatapan kosong ke depan. Hati dan pikirannya terus berkecamuk, apakah besok Rania ikut dengan Yoga menjenguk Candra atau tidak di Jakarta.


"Sayang kamu dari tadi nendang-nendang mulu, kenapa hm?" tanya Rania sambil mengelus perutnya.


Apakah bayinya juga merasakan hal yang sama dengannya? Mungkin bayinya pun merasa khawatir dengan keadaan Papa kandungnya. Ternyata ikatan batin sangat kuat.


Bukankah yang Rania takutkan itu Candra? Tetapi kan pria itu sekarang sedang terbaring lemah tidak berdaya, jadi Candra tidak akan macam-macam dan menahannya. Setelah memikirkan dengan matang, akhirnya Rania pun memutuskan untuk ikut besok.


Malamnya tidak lupa Rania mengabari Yoga, Ia juga membawa beberapa setelan baju khawatir dibutuhkan. Malam itu pun Rania tidak bisa tidur, terus berpikir apakah keputusannya tepat atau tidak. Di esok paginya Ia malah sudah bersiap, itu berarti Rania sudah yakin.


"Aku kira kamu gak akan ikut, pas malem kaget kamu ngabarin bakalan ikut," ucap Yoga saat perempuan itu duduk di kursi sebelahnya.


Rania menoleh sekilas sambil tersenyum tipis, "Aku penasaran, aku juga gak bisa tenang kalau gak lihat keadaan Mas Candra langsung," katanya.


"Hm kamu ini memang perhatian banget ya." Dan Yoga merasa iri karena Candra di khawatirkan seperti itu oleh Rania.


Perjalanan dari desa ke Jakarta lumayan jauh, dan Yoga mengendarai mobilnya sendiri. Tadinya akan di antar supir, tapi saat mendengar Rania akan ikut, Yoga pun memutuskan menyetir sendiri. Membayangkan berduaan dengan Rania itu selalu menyenangkan baginya.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, Pak Candra pasti baik-baik saja. Dia punya keluarga yang mendukung, semua orang tidak akan membiarkan Pak Candra kenapa-napa. Mereka pasti akan melakukan apapun supaya dia tidak kenapa-napa," ucap Yoga yang tahu ke khawatiran Rania.


"Iya," gumam Rania sambil tersenyum.


Baru kali itu juga Rania tidak tidur di perjalanan jauh, padahal semalam kurang tidur. Mau tidur bagaimana jika hatinya terus dihinggapi perasaan tidak enak dan kepalanya terus memikirkan Candra.


Sesampainya di rumah sakit itu, keduanya turun dan masuk bersama. Yoga sudah tahu ruang rawat Candra, ada di kamar VVIP lantai empat. Sepanjang perjalanan Yoga selalu melirik Rania, bisa membaca ekspresi wajahnya yang gugup itu.


"Di sini kamarnya," ucap Yoga berhenti di depan sebuah pintu.


Rania terlihat menghela nafasnya berat, "Mas Yoga aja yang masuk, aku gak papa di luar aja."


"Kenapa? Bukannya kamu jauh-jauh kesini untuk melihat keadaan mantan suami kamu itu?"


Rania merasa tertohok mendengar itu, "Aku takut membuat keributan di dalam, pasti di dalam ada Kak Livia atau keluarga Mas Candra," gumamnya pelan.


Dengan memberanikan diri Yoga membawa kedua tangan Rania, membuat perempuan itu yang tadinya menunduk kembali mengangkat kepala dan balas menatapnya.


"Kenapa kamu berpikir sejauh ini? Kamu bukan sumber masalah, kalau mereka berpikir begitu itu berarti mereka yang jahat," ujar Yoga.


Tanpa bisa ditahan kedua mata Rania berkaca-kaca, "Tapi semenjak aku datang ke keluarga mereka, mereka pasti tidak sebahagia dulu lagi."


"Rania bukan kamu yang salah, kamu di sini korban. Jangan selalu menyalahkan diri kamu sendiri, kamu harus percaya diri."


Melihat perempuan itu yang terlalu cemas sampai menangis, tidak bohong rasanya dada Yoga sakit sekali. Ingin Ia peluk, tapi sikap beraninya itu pasti akan membuat Rania tidak nyaman. Yoga harus menahan diri, apalagi Ia baru berbaikan dengan Rania.


"Aku yakin Pak Candra juga pasti ingin sekali bertemu kamu dan bayinya. Walaupun dia gak sadar, tapi mungkin dia tetap merasa kalau kamu hadir di sana melihat dia." Yoga terus membujuk agar Rania tidak ragu lagi.


Setelah menangkan diri, akhirnya Rania pun mau ikut masuk. Terlebih dahulu Yoga mengetuk pintu kamar rawat itu, tidak lama pintu pun terbuka dari dalam oleh seorang perempuan cantik. Saat perempuan itu bertatapan dengan Rania, terlihat bola matanya menjadi besar.

__ADS_1


"Rania, kamu--" panggilnya tertahan tidak bisa berkata-kata.


__ADS_2