
"Tapi nak Livia yang bilang sendiri kalau dia itu Kakak tirinya nak Candra." Nek Ima masih berusaha membela, toh Ia tidak berbohong.
Gina mendengus, "Mana mungkin anak saya bilang begitu, jangan mengada-ngada kamu!"
Ima terdiam dengan perasaan berkecamuknya, rasanya hatinya sekarang tidak enak sekali. Ima tidak tahu siapa yang benar, semua ini sangat membingungkan. Melihat ekspresi kemarahan dari wanita yang mengaku sebagai Mamanya Livia itu, membuat Ima pun yakin tidak berbohong.
"Nenek, ada apa ini?" tanya Rania menghampiri.
Perempuan itu terbangun mendengar keributan di belakang, merasa khawatir terjadi sesuatu Ia pun memutuskan menghampiri. Perasaan Rania jadi tidak enak saat melihat kehadiran Mamanya Livia, apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu?
"Nah cucu kesayangan kamu sudah datang, ayo tanyakan saja sekarang pada dia," desak Gina sambil menarik sebelah sudut bibirnya.
"Menjelaskan apa?" tanya Rania bingung sendiri.
Gina berdecak kesal, "Dasar perempuan kampung gak tahu diri, beraninya bilang Livia Kakak tirinya Candra. Kamu malu ya jadi istri kedua? Takut dianggap perebut suami orang lain?!" tuduh nya.
Ternyata dugaan Rania benar jika Gina itu menjelaskan semuanya. Perlahan Rania melirik Neneknya, bisa melihat tatapan kebingungan itu. Rania bimbang sekarang, apa yang harus dilakukannya?
"Kenapa diam saja? Haha sayangnya drama kamu itu harus saya hancurkan," ledek Gina sambil tertawa sinis.
Rania lalu mendekati Neneknya, "Nek aku bisa jelaskan," ucapnya.
"Jadi yang dikatakan Bu Gina itu benar?" tanyanya.
Melihat cucunya yang hanya diam menunduk, membuat Ima memegang bahu Rania dan menggoyang-goyangkannya. Walaupun Ima belum mendapatkan penjelasan dari Rania, tapi hanya dari tatapan nya yang seperti ini saja membuatnya gundah.
"Jawab Rania, kenapa kamu diam saja?" desak Neneknya.
"Aku.. Aku minta maaf Nek, aku gak bermaksud bohongin Nenek," cicit Rania.
"Jadi benar kalau kamu ini istri kedua Candra? Ya Tuhan, kenapa kamu merahasiakan ini Rania?" lirih Nenek Ima. Tanpa bisa ditahan kedua matanya berkaca-kaca, merasa sedih dan sesak di dada.
"Kenapa kamu membohongi Nenek Rania?" tanyanya sedih.
__ADS_1
"Aku minta maaf Nek, aku gak mau buat Nenek semakin sedih."
"Tapi kamu yang berbohong begini malah membuat Nenek semakin sedih."
Melihat Neneknya yang mulai menangis, membuat Rania jadi merasa bersalah. Tetapi Rania terkejut saat akan memeluk Neneknya itu, Ia ditolak dan didorong dengan pelan. Neneknya lalu menatapnya kecewa, membuat dada Rania sakit.
"Nek," panggil Rania.
"Nenek kecewa sama kamu Rania."
"Apa?" Rania sampai tersentak mendengar itu.
"Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya dengan jelas? Nenek.." Ima merasa tidak sanggup lagi membuka suara, wanita paruh baya itu pun melenggang pergi dari sana.
Rania terdiam di tempatnya dengan perasaan sesak, tenggorokannya bahkan seperti tercekat karena menahan tangis. Mendengar Neneknya yang berkata langsung kecewa kepadanya adalah hal menyakitkan yang pernah Rania terima.
"Rasakan, makanya jangan bohong dong," ledek Gina. Wanita itu belum pergi, menonton keributan itu membuat hatinya puas sendiri.
Rania lalu berbalik menghadap Gina, "Tapi ini juga bukan kemauan saya Bu," alasannya.
"Bu Gina, anda jangan bicara sembarangan!" Suara Rania terdengar lebih tinggi, merasa sakit hati saat ada yang mengatai Neneknya akan mati.
"Memang benar kok yang saya bilang, bukannya saya baik ya jelasin yang sebenarnya?" tanya Gina sinis, terlihat tidak mau kalah sama sekali.
"Tapi saya sudah bilang ini bukan kemauan saya sendiri."
"Lalu siapa yang buat skenarionya hah?"
"Mas Candra yang suruh saya untuk menyembunyikan rahasia ini. Bukan hanya itu, Kak Livia juga setuju-setuju saja. Saya juga hanya bisa patuh dengan perintah Mas Candra. Jadi ini bukan salah saya sepenuhnya, tapi Mas Candra." Nafas Rania sampai naik turun setelah menjelaskan itu.
"Haha mana mungkin Candra yang suruh, apalagi sampai minta Livia untuk pura-pura begitu. Jangan ngaku-ngaku kamu!"
"Kalau Bu Gina tidak percaya, nanti tanyakan saja pada Mas Candra dan Kak Livia langsung."
__ADS_1
Rania juga bodoh sekali harus membela diri di depan wanita yang membencinya itu, sudah pasti tidak akan percaya dengan alasannya. Merasa sedikit sakit di perutnya, Rania pun memutuskan pergi dari sana. Ia lupa jangan tertekan karena baginya tidak akan nyaman.
Tok tok!
"Nek aku boleh masuk ya? Aku mau bicara sama Nenek," pinta Rania memohon di depan kamar Neneknya. Tetapi tidak ada tanggapan, walau begitu Rania yakin Neneknya ada di dalam.
"Nek aku terpaksa bohong sama Nenek, aku gak mau buat Nenek makin sedih dan mikirin nasib buruk yang terus aku dapatin ini. Aku gak mau Nenek kepikiran dan jadi sakit. Aku gak papa kok, aku bisa lewati ini," ucap Rania. Tidak tahu apa Neneknya mendengar atau tidak.
Ceklek!
Tanpa diduga pintu kamar terbuka dari dalam, munculah Neneknya. Terlihat mata wanita paruh baya itu merah seperti habis menangis. Rania pun perlahan mendekat dan memeluk Neneknya, bersyukur karena kali ini tidak mendapat penolakan.
"Hiks Nek maafin Rania," ucapnya. Rania sampai tidak bisa menahan tangisannya lagi.
"Kenapa kamu harus memendam selama ini sendirian Rania? Malangnya cucu Nenek ini," ucapnya lirih sambil mengusapi punggung ringkih Rania.
Saat mendengar Rania yang mengatakan baik-baik saja, membuat Ima menangis dan merasa kasihan sampai tidak tega membiarkannya. Begitu banyak cobaan yang dihadapi cucunya ini. Padahal Ima sempat menduga jika cucunya dapat hidup dengan baik dan bahagia di sini, tapi sepertinya tidak begitu.
"Seharusnya kamu cerita sama Nenek Rania, kenapa kamu gak bilang kalau sebenarnya Candra itu sudah pernah menikah sebelumnya?" tanya Neneknya serius. Mereka pindah mengobrol ke dalam agar lebih tenang.
Rania menundukan kepala sambil memainkan jari tangannya, "Sebenarnya aku juga baru tahu saat pindah ke Jakarta kalau Mas Candra itu punya istri sebelumnya."
"Jadi bukan tahu dari sebelum kalian menikah?"
"Tidak, dia benar-benar menyembunyikannya. Kalau aku tahu Mas Candra punya istri, aku juga gak mungkin akan menerima lamaran dia Nek," ucap Rania lirih.
Neneknya kembali membawa tangan cucunya itu, menatapnya dengan lembut, "Pasti kamu selama ini tertekan ya harus berada dalam hubungan yang rumit begini?"
"Hm, awalnya aku pikir begitu, tapi ternyata semua berjalan dengan baik. "
"Maksudnya?"
Rania pun menjelaskan jika hubungannya dengan Livia baik-baik saja, tidak buruk seperti yang dibayangkan orang lain yang istri sama-sama tidak mau kalah. Sikap Candra pun baik dan perhatian, entah kepadanya mau pun Livia.
__ADS_1
"Tapi Nenek merasa tidak terima nak Candra memperlakukan kamu begini," ucap Neneknya, "Kenapa kamu tidak meminta cerai pada dia?"
"Hah?"