
"Dokter bilang besok gue bisa pulang, tapi terapi tetap jalan dan setiap jadwal gue harus datang," ucap Cynthia kembali membuka suara.
"Syukurlah itu berarti keadaan kamu makin baik, aku ikut senang," kata Daffin dari dalam hati.
Cynthia lalu memfokuskan pandangannya pada pria itu, "Dulu pas tahu lo nabrak gue, gimana perasaan lo?"
"Hah jangan tanya, udah pasti takut banget sih. Selain itu aku juga ngerasa malu sama Papa karena pasti sudah repotin dan buat dia kecewa," jawab Daffin.
"Dasar anak Papa, pasti keluarga lo itu keluarga baik-baik ya?"
"Maksudnya?"
"Ya maksudnya keluarga kaya raya yang hidupnya selalu damai, punya orang tua yang akur dan tentram. Ya pokoknya hidup lo itu bahagia banget lah, pasti banyak yang iri," ujar Cynthia setengah meledek, padahal di dalam hati merasa iri.
Daffin hanya tersenyum kecil mendengar itu, banyak sekali yang mengatakan seperti itu padahal nyatanya kehidupannya tidaklah se lurus itu juga. Menurutnya kekayaan tidak bisa membuat hidup selalu bahagia.
"Orang tua aku sudah pisah dari saat aku bayi," ucap Daffin yang entah kenapa malah cerita.
"Masa? Serius lo?" tanya Cynthia sedikit terkejut, ternyata dugaannya salah.
"Iya, aku gak tahu pasti sih kenapa mereka pisah. Tapi hubungan Mama sama Papa baik-baik aja, mereka juga sering tukar kabar. Sekarang mereka sudah bahagia dengan pasangannya masing-masing, dan bisa menerima aku," jawab Daffin.
Inilah hal yang membuat Daffin sangat bersyukur, orang tua tirinya yang bisa menerima dan menyayangi dirinya dengan tulus. Papa Yoga dan Mama Livia seperti sudah menganggapnya anak kandung sendiri.
Mungkin orang tua kandungnya memang sudah di takdirkan berpisah, karena mereka bisa bahagia dengan pasangannya masing-masing. Daffin tidak masalah, lagi pula Ia mendapatkan cinta yang cukup.
"Kalau gitu lo tetap beruntung, beda banget sama gue," celetuk Cynthia.
"Emangnya kamu kenapa?" tanya Daffin penasaran.
Baru saja Cynthia akan membuka mulut untuk cerita, Ia kembali mengatup kan dan memutuskan tidak jadi cerita. Tidak terbayang orang asing seperti Daffin tahu bagaimana kehidupannya, pasti dirinya akan dianggap sangat menyedihkan.
"Kenapa juga gue harus cerita sama lo?" tanya Cynthia agak sinis.
__ADS_1
"Hah ya sudah deh kalau gak mau cerita juga, tapi aku siap aja sih kalau dijadiin tempat curhat," ucap Daffin sabar.
Merasa angin malam semakin dingin membuat Daffin merinding sendiri. Ia lalu memperhatikan Cynthia yang hanya memakai baju pasien yang pasti tipis. Daffin pun membuka jaketnya dan menyampirkan begitu saja di bahu Cynthia.
"Eh lo mau apa?!" pekik Cynthia terkejut.
"Kita masuk aja yuk, gak baik angin malam buat kamu," ajak Daffin sambil berdiri.
"Tapi gue gak ngantuk, di luar juga pemandangannya lagi indah. Lihat tuh bulannya bagus banget, bulan sabit," ucap Cynthia sambil menunjuk ke langit.
Daffin pun ikut melihat dan mengangguk setuju. Memang sih asik sekali melihat bulan sebagus itu, tapi Daffin juga merasa tidak tega membiarkan perempuan itu kedinginan di luar, kan sedang sakit.
"Sudah ah ayo kita ke kamar, lagian kamu juga belum makan dan pasti suster nyariin kamu. Sudah waktunya makan obat juga, terus istirahat," ujar Daffin kekeuh dengan pendiriannya.
Saat Ia dorong kursi roda yang diduduki Cynthia pergi dari sana, perempuan itu sempat merengek protes, tapi Daffin tidak mau luluh dan terus melangkah pergi. Setelah kembali ke ruang rawat akhirnya Cynthia pun tidak bawel lagi.
Sepertinya suster yang mengantar makanan pun sudah pergi, terlihat nampan nya di meja sisi ranjang. Tidak apa, Daffin yang akan menyuapi. Tetapi sebelum itu, Daffin memindahkan dahulu Cynthia ke atas ranjang.
"Makan dulu terus nanti minum obat," ucap Daffin sambil membawa mangkuk buburnya.
"Iya, kamu juga kan tidur."
"Tapi gue gak ngantuk, gak papa ya kalau gue bergadang?" bujuk Cynthia.
"Ck enggak lah, mana ada orang sakit bergadang, jangan aneh-aneh deh. Besok juga kan kamu pulang."
"Ya udah lo jangan dulu pulang sebelum gue tidur ya?" Kalau boleh jujur, Cynthia merasa senang ditemani Daffin karena obrolan mereka sangat nyambung.
"Lihat aja nanti ya," gumam Daffin.
Pria itu mulai menyuapi Cynthia, terkadang perempuan itu protes kepanasan lah atau buburnya terlalu banyak. Daffin menyadari sedingin apapun Cynthia, perempuan itu padanya cukup cerewet juga.
"Hweekk gak enak ih, untung aja besok pulang dan gak makan lagi makanan gak ada rasa kaya gini," ucap Cynthia menahan mual.
__ADS_1
Daffin dibuat terkekeh kecil, "Makanya jangan sakit, biar nanti gak nyobain lagi makanan rumah sakit."
Plak!
"Lo lah yang udah buat gue masuk rumah sakit, jadinya gue terpaksa juga makan-makanan hambar kaya gini. Harusnya lo bawain gue KFC ke atau McDonald," omel Cynthia.
Daffin langsung mengusap-usap pahanya yang di tepuk dengan kasar, membuatnya perih sendiri, "Iya-iya maaf, aku ngaku salah. Tapi kamu juga gak bisa lah makan sembarangan gitu, kapan sembuhnya?"
"Emang dasar lo nya aja gak pengertian, " dengus Cynthia.
Tadinya Cynthia tidak mau menghabiskan bubur itu, tapi karena Daffin terus paksa dengan dalih akan di sini sampai perempuan itu tidur, akhirnya semangkuk bubur tanpa topping itu habis juga.
Cynthia lalu meminta tolong ingin ke kamar mandi, dan Daffin kembali menggendongnya mengantarkan. Daffin benar-benar terlihat perhatian sekali merawat, tidak pernah protes karena ikhlas melakukan dari hati.
"Besok masih ada kelas?" tanya Cynthia.
"Enggak ada, jadi libur," jawab Daffin. Jadi besok Ia pun bisa bantu mengantar pulang Cynthia ke rumahnya.
"Terus kenapa dari tadi lihat jam tangan terus? Gak betah ya pengen pulang?" tanya Cynthia menduga.
"Hah? Bukan itu," bantah Daffin.
Sebelah sudut bibir Cynthia terangkat, "Oh gue tahu, lo pasti kangen kan sama si centil? Ya udah sana pulang aja, kayanya kalian bener-bener gak bisa di pisahin," ledek nya.
"Bukan, tapi--"
"Gue juga udah ngantuk sekarang, sebentar lagi mau tidur. Ya sudah sana kalau mau pulang," ucap Cynthia berbohong.
Entah kenapa Cynthia merasa sedikit kesal merasa Daffin itu tidak betahan dengannya, mungkin benar merindukan si Elisa itu. Cynthia tidak mau menduga jika dirinya cemburu, tidak mungkin sekali.
"Beneran gak papa nih aku pulang sekarang?" tanya Daffin tidak enak.
"Iya udah sana pulang, nanti kalau pulang terlalu malam dimarahin Bokap lo lagi."
__ADS_1
Sebenarnya Papanya tidak akan marah karena tahu Ia pun pulang dari rumah sakit, tapi jujur saja Daffin pun memang ingin pulang. Selain sudah malam juga tubuhnya lelah ingin istirahat, satu lagi karena Elisa. Hanya ingin memastikan saja sahabatnya itu di rumah atau tidak.
"Ya sudah deh aku pulang dulu ya Cynthia, besok aku akan kesini lagi untuk anterin kamu pulang," ucap Daffin. Ia melambaikan tangan sebentar lalu keluar dari ruangan itu.