Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 23


__ADS_3

Candra pulang agak malam, lebih dari jam biasanya Ia pulang. Tubuhnya terasa lelah sekali dan ingin langsung istirahat. Tetapi karena merasa haus, Candra memutuskan ke dapur terlebih dahulu.


Langkah Candra lalu terhenti saat melihat seorang perempuan sedang melihat isi kulkas. Dari perawakannya sepertinya bukan Livia, lalu siapa? Candra lalu bergeser berdiri menjadi agak ke sebelah.


"Kamu siapa ya?" tanyanya.


Saat perempuan itu menoleh dan mereka bertatapan, Candra repleks tersentak melihat wajah yang terlihat familiar itu. Kedua matanya sampai berkedip pelan merasa speechless.


"Rania?" panggilnya.


"Em maaf Om, aku Devina. Senang bertemu dengan Om Candra," katanya sambil menggaruk belakang kepala.


Kesadaran Candra langsung kembali mendengar itu, kepalanya langsung menggeleng mengenyahkan pikiran itu. Bodoh sekali Ia sempat menduga Rania kembali muda, ternyata itu anaknya Rania bernama Devina.


"Kamu mirip sekali dengan Mama kamu pas masih muda, jadi tadi Om kira kamu itu Rania," ujar Candra ikut canggung.


"Hehe iya gak papa Om, bukan kali ini orang bilang begitu," sahut Devina ikut membalas senyuman.


Apalagi kan hubungan Mamanya dengan Om Candra ini dulu pernah jadi suami istri, jadi pasti mereka pernah bersama menjalin kasih. Saat melihatnya, mungkin mengingatkan akan masa lalu.


"Om baru pulang kerja ya?" tanya Devina melinat penampilan pria itu.


"Iya Om baru pulang, kamu dari jam berapa sampai di sini?" tanya Candra balik.


"Dari tadi sore sih, sudah makan malam juga. Kalau Om Candra sudah makan malam belum?"


"Em belum sih, Om--"


"Ya sudah sekarang Om makan dulu, ayo," ajak Devina.


Gadis remaja itu lalu mengajak Candra ke arah meja makan, membuka tutup sajinya dan langsung terlihat banyak makanan di sana. Devina terlihat perhatian sekali, seperti pada Papa kandungnya.


"Tapi kayanya makannya sudah agak dingin, mau aku bantu hangatin Om?" tawar Devina.


"Gak papa gak usah, ayo kamu juga duduk," kata Candra.

__ADS_1


"Tapi--"


"Temani Om makan ya, Om belum banyak kenal kamu."


Dan akhirnya Devina pun ikut duduk berhadapan dengan Candra. Mereka memang belum mengenal banyak satu-sama lain, karena tidak ada hubungan apapun juga di antara keduanya yang menyatukan.


Dulu pernah bertemu, tapi saat Devina masih sepuluh tahunan dan itu pun saat Candra liburan ke desa untuk bertemu Daffin. Sekarang Devina sudah tumbuh jadi remaja, banyak perubahan yang terjadi padanya.


"Kamu kesini sedang liburan kan?" tanya Candra di sela makannya.


"Iya Om lagi liburan, apa aku gak papa selama beberapa hari ini di sini?" Devina tentu harus meminta izin pada si pemilik rumah.


"Tentu saja boleh, jangan sungkan. Ini kan rumah kedua kamu, Devina," jawab Candra sambil tersenyum menenangkan.


"Makasih ya Om, Om Candra sama Mama Livia baik banget. Aku seneng dan lega karena Kak Daffin pasti bakalan betah tinggal di sini," ucap Devina riang.


Kernyitan terlihat di kening Candra saat mendengar salah satu panggilan yang disebut Devina tadi untuk Livia. Candra sampai menghentikan makannya dan memfokuskan pandangan pada remaja perempuan itu.


"Kamu panggil Livia dengan sebutan Mama?" tanya Candra memastikan, khawatir Ia salah dengar.


"Em iya, Mama Livia yang nyuruh aku," jawab Devina. Apa Candra merasa keberatan istrinya Ia panggil begitu?


"Apa?" Devina sampai tersentak sendiri mendengar itu.


Walaupun Candra dengan Devina tidak ada hubungan darah, tapi Candra sudah menganggap anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Apalagi Devina terlihat replika Rania sekali, membuatnya menjadi sayang begitu saja.


"Papa?" panggil Devina pelan agak malu-malu.


Candra yang mendengar itupun tidak bisa menahan senyumannya lagi, merasa senang begitu saja. Sekarang ada dua anak yang memanggilnya begitu, Candra jadi merasa bangga.


Saat keduanya sedang asik mengobrol, kehadiran Daffin membuat obrolan sempat terhenti. Candra lalu menyuruh putranya itu untuk duduk, mereka bisa mengobrol lebih seru.


"Kok kamu belum tidur dek?" tanya Daffin pada Devina.


"Hehe belum, tadi aku haus pengen minum," jawabnya sambil menyengir lebar.

__ADS_1


"Maaf ya Papa juga malah ajak kamu ngobrol, pasti kamu ngantuk kan? Ya sudah sekarang kembali ke kamar, kamu lanjutkan saja tidurnya," ucap Candra.


Devina sempat beralasan jika dirinya sudah tidak mengantuk, tapi karena waktu sudah semakin larut jadi dua orang dewasa itu menyuruhnya tidur. Akhirnya Devina pun terpaksa pergi.


"Papa baru pulang kerja? Lembur ya?" tanya Daffin.


"Iya, ada beberapa dokumen yang harus Papa cek lagi untuk besok yang akan dikirimkan," jawab Candra.


"Apa jadi pengusaha itu sangat melelahkan?" Daffin penasaran dengan hal ini, karena Ia kan selanjutnya.


Candra tersenyum kecil mendengar itu, Ia jadi merasa nostalgia karena saat kecil juga pernah bertanya ini pada almarhum Papanya yang selalu pulang larut malam, sekarang putranya yang bertanya itu.


"Kalau ditanya apa capek ya pasti capek, tidak ada pekerjaan apapun yang gak membuat capek, bahkan youtuber sekalipun. Tapi Papa sudah jalani ini berpuluh tahun, dan Papa nikmati jadi hasilnya pun baik," jawab Candra.


"Tapi aku beneran kagum sama Papa, aku bangga banget karena punya Papa pengusaha hebat. Banyak bisnis yang Papa jalankan, tapi semuanya berjalan dengan lancar di bawah pantauan Papa." Daffin mengatakan itu dengan jujur.


Candra merasa terenyuh sendiri mendengar itu, sampai membuat matanya berkaca-kaca mendapat pujian seperti itu. Rasanya senang dan juga terharu dipuji seperti itu.


"Daffin, Papa mau tanya sesuatu. Kamu kan akan Papa berikan beban dan amanah besar di pundak kamu, apa kamu merasa siap dan mampu?" tanya Candra serius.


Daffin terdiam beberapa saat, tidak langsung menjawab karena merasa berat saja. Kepindahannya ke Jakarta tentu ada maksud, mempersiapkan diri menjadi calon penerus Papanya.


Sebenarnya kalau boleh jujur Daffin merasa berat untuk menjalankan ini. Tetapi banyak yang berharap kepadanya, Daffin juga selalu hidup dengan baik dari kecil. Jadi setelah dewasa, waktunya Ia membalas.


"Tidak, aku tidak merasa keberatan saat Papa bilang aku harus siap jadi calon penerus bisnis Papa. Aku akan berusaha belajar dengan baik, agar nanti bisa siap juga setelah menjabat," jawab Daffin sambil tersenyum.


"Terima kasih ya Daffin, terima kasih sudah bisa mengerti Papa," ucap Candra dengan tatapan tulusnya.


Karena hanya Daffin satu-satunya harapan Candra, Ia hanya memiliki satu keturunan. Walau memang dulu ceritanya sangat rumit, tapi Tuhan sudah menakdirkan semuanya.


"Ini sudah malam, kamu juga tidurlah," perintah Candra.


"Iya Pah, Papa juga istirahat ya pasti capek banget," kata Daffin.


"Hm."

__ADS_1


Daffin lalu beranjak untuk pergi dari sana, tapi baru beberapa langkah kembali menoleh pada Candra, "Selamat malam Pah," ucapnya.


"Selamat malam juga," balas Candra.


__ADS_2