Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 48


__ADS_3

Entah berapa lama Daffin tertidur, tapi Ia baru terbangun saat merasakan usapan di wajahnya. Saat membuka mata langsung disuguhi pemandangan indah, wajah cantik Cynthia.


"Sudah nyenyak belum tidurnya? Hujannya sudah reda, sudah mau malam juga," kata Cynthia.


Daffin pun terlebih dahulu mendudukan tubuhnya, sambil meregangkan badan. Walaupun tidur hanya beralaskan karpet, tapi tetap nyaman. Mungkin karena ada Cynthia yang menemaninya.


"Apa aku tidur lama?" tanya Daffin.


"Gak terlalu, kamu nyenyak banget tidurnya. Emangnya suka tidur siang ya biasanya?" tanya Cynthia balik.


Bukannya menjawab pertanyaan itu, Daffin malah salah fokus dengan panggilan perempuan itu tadi padanya. Tumben sekali memanggil kamu, biasanya juga kan lo-gue.


"Kamu?"


"Kenapa? Lebih suka dipanggil lo?" Padahal untuk mengubah panggilan ini Cynthia sempat berkelut dengan hatinya tadi.


"Enggak, lebih suka yang ini. Kalau manggil lo kaya ke orang lain, aku ini kan pacar kamu. Kalau manggil kamu jadi kedengeran lebih romantis hehe," jawab Daffin sambil terkekeh kecil.


Cynthia pun ikut tersenyum, "Ya sudah, jadi kita mau pulang sekarang?"


"Iya, tapi kita bersih-bersih dulu sebentar di bawah. Kayanya semua barang kehujanan, nanti aku minta bantuan asisten Papa lagi deh buat beresin."


Daffin lalu turun terlebih dahulu dari rumah pohon itu. Sempat bingung bagaimana menurunkan Cynthia, akhirnya Ia pakai cara pertama kali saat naik tadi. Sempat hampir terjatuh karena tangganya licin, tapi untungnya tidak.


"Kursi rodanya tadi sudah aku lap, jadi baju kamu gak akan basah," kata Daffin memberitahu.


"Makasih," ucap Cynthia pelan. Pria itu memang sangat baik dan perhatian, inilah kenapa bisa membuatnya jatuh cinta.


Melihat Daffin yang membereskan makanan di atas meja sendiri, membuat Cynthia tidak tega dan ingin sekali membantu. Tetapi dirinya tidak bisa bergerak banyak, Cynthia jadi merasa tidak berdaya.


Untung saja makanan sisa tidak terlalu banyak, jadi langsung membuang ke danau saja berharap dimakan ikan. Untuk barang-barang nanti Daffin akan minta bantuan asisten Papanya saja, sekarang Ia ingin langsung pulang.


"Emangnya gak pusing nyetirnya? Biasanya kalau tidur sore suka pusing," tanya Cynthia sedikit khawatir.


"Lumayan sih, tapi aku masih kuat nyetir. Tenang aja, aku gak akan nyelakain kita berdua kok," jawab Daffin sambil menatap Cynthia lembut.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mereka kembali mengobrol, banyak sekali topik jadi tidak berhenti. Tidak terasa perjalanan pun terasa cepat, sudah sampai lagi saja di depan rumah Cynthia.


"Hai gimana jalan-jalannya lancar kan?" tanya Citra menyambut saat membukakan pintu rumah.


"Lancar Tante, tapi sempat hujan dan kita berteduh dulu di rumah pohon," jawab Daffin.


"Emangnya kalian jalan-jalan kemana?"


"Ke danau, piknik lah ceritanya."


Citra mengangguk pelan walau tidak terlalu bisa membayangkan. Melihat wajah berseri anaknya, sepertinya Cynthia pun sangat menikmati jalan-jalannya dengan Daffin. Ia sih tentu saja ikut senang, dan sangat mendukung.


"Daffin mau langsung pulang? Gak mau makan malam dulu di sini gitu?" tanya Citra berusaha ramah.


"Enggak usah Tante, belum terlalu lapar juga," tolak Daffin sopan.


"Ya sudah kalau gitu, makasih ya sudah ajak Cynthia jalan-jalan. Sering-sering main juga kesini, jangan malu-malu," kata Citra dengan senyuman penuh arti.


Daffin mengangguk lalu pamit pulang. Ia sempat menatap dalam Cynthia, lalu melambaikan tangannya sebentar dan keluar dari rumah itu. Sepanjang perjalanan bibirnya terus melengkungkan senyuman, hatinya sedang berbunga-bunga.


"Nah itu Daffin baru pulang, Daffin ini ada Elisa," panggil Elisa.


Kepala Daffin langsung menoleh ke arah ruang utama, terlihat ada dua perempuan di sana. Kernyitan terlihat di kening Daffin melihat di sana ada Elisa, sedang apa di sini? Daffin pun menghampirinya.


"Elisa kenapa kamu di sini? Dari kapan?" tanya Daffin bingung.


"Aku kesini sengaja mau ketemu kamu, ya lumayan lah dari setengah jam yang lalu," jawab Elisa dengan raut wajah tidak terbaca nya.


"Emangnya kenapa mau ketemu aku?"


Saat Elisa melirik Livia, wanita itu pun langsung sadar dan memilih beranjak pergi memberikan ruang. Ini masalah remaja, jadi Ia pun tidak perlu tahu. Hanya Livia merasa suasananya agak tidak nyaman.


"Kamu habis dari mana Daffin? Katanya kamu gak akan ke mana-mana," tanya Elisa setelah berdiri di hadapannya.


"Aku.. Aku habis main di luar," jawab Daffin mulai gugup.

__ADS_1


"Sama Cynthia kan?"


"Hah?"


Elisa terlihat mendengus pelan, "Kamu gak bisa bohong Daffin, aku tahu kamu habis jalan sama Cynthia. Dari mana kalian?"


Daffin tidak langsung menjawab karena masih bingung kenapa Elisa itu bisa tahu Ia selesai jalan dengan Cynthia. Padahal kedua orang tuanya pun tidak Ia beritahu, mereka hanya tahu Ia akan jalan keluar sebentar.


"Kenapa diam aja? Ayo jawab!" desak Elisa mulai galak.


"Iya memang aku habis jalan sama Cynthia. Kami piknik di dekat danau, dan di sana sempat berteduh agak lama karena hujan," jawab Daffin.


Tatapan Elisa terlihat memicing, "Kalian hanya berdua? Kamu ada apa sama Cynthia?"


Haruskah Daffin jelaskan? Tetapi Ia sedikit gugup. Melihat sikap Elisa yang seperti ini, jujur saja membuat Daffin tidak terlalu nyaman. Seperti seseorang yang sedang diinterogasi oleh pasangan dan dianggap salah. Nyatanya kan tidak begitu.


"Aku memang sudah merencanakan ini, dan semua sesuai harapan aku," ucap Daffin.


"Maksudnya?"


"Aku menyatakan cinta pada Cynthia, dan dia menerima aku karena dia juga menyukai aku," jawab Daffin blak-blakan.


Terlihat kedua mata Elisa melotot lebar dalam beberapa saat, tanda syok dengan pernyataan Daffin. Melihat ekspresi tenang di wajah pria itu, membuat emosinya perlahan naik.


"Haha kamu pasti bohong, gak mungkin. Kamu kan sukanya cuman sama aku Daffin, bukan sama dia! " kata Elisa mencoba membantah dan tidak mau percaya.


"Aku serius, aku gak mungkin bohong untuk yang satu ini. Sekarang aku dan Cynthia pacaran," sahut Daffin masih berusaha meyakinkan.


"Terus aku gimana?" Kini nada suara Elisa terlihat lirih, tidak setinggi tadi.


"Kamu bicara apa Elisa? Kenapa juga bertanya itu pada aku? Kita tetap sama seperti dulu, menjadi teman," jawab Daffin.


Kepala Elisa menggeleng kencang, dengan memberanikan diri Ia pun membawa kedua tangan Daffin ke genggamannya. Elisa berusaha menunjukan ekspresi sedihnya di hadapan pria itu.


"Daffin aku minta maaf karena baru menyadari perasaan kamu, tapi aku juga gak salah karena kamu selama ini gak pernah jujur. Kalau saja kamu mengatakan ini dari awal, mungkin sekarang kita masih bersama," ucap Elisa bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Tetapi yang mengejutkan Daffin malah melepaskan tangannya, "Tapi aku yakin Elisa, kamu sebenarnya sadarkan kalau aku memang ada tanda menyukai kamu? Gak mungkin kamu gak menyadari selama ini," katanya menohok.


__ADS_2