Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Mau Direpotkan


__ADS_3

"Saya berangkat dulu," pamit Candra pada Rania yang seperti biasa selalu mengantarnya sampai ke depan.


"Iya Mas, hati-hati."


"Hm."


Setelah kepergian suaminya itu, Rania pun kembali masuk ke rumahnya. Ia selalu bingung sendiri akan menghabiskan waktu dengan apa, rasanya sangat membosankan kalau hanya diam saja. Rania pun memutuskan menonton film dahulu di ruang santai, ditemani potongan buah yang Ia minta tadi.


"Aduh."


Mendengar ringisan tidak jauh darinya itu, membuat Rania langsung melihat ke arah suara. Ternyata itu Livia, Rania pun memutuskan beranjak mendekatinya. Khawatir saja terjadi sesuatu.


"Kak Livia gak papa?" tanya Rania pelan.


Livia menatapnya sekilas, "Bukan urusan kamu," ketusnya lalu melenggang pergi begitu saja dari sana.


Rania mengatupkan bibirnya karena pertanyaan baik-baik nya malah tidak dihiraukan, sepertinya Rania terlalu sok akrab. Melihat piring bekas makanannya sudah habis, Rania pun memutuskan ke dapur untuk menyimpan. Ia lalu tidak sengaja melirik Livia yang sedang duduk tapi memijat pelipisnya, membuat Rania khawatir.


"Bi tolong ambilin aspirin dong, kayanya aku masih mabuk," ucap Livia menganggap yang datang ke dapur adalah pembantu.


Tanpa mengatakan apapun, Rania pun yang akan membawakannya, tidak lupa dengan segelas air. Setelahnya Ia menghampiri Livia dan mememberikannya. Livia pun baru mengangkat kepala dan langsung terdiam karena tahu itu Rania.


"Kenapa kamu ini selalu ikutin aku?!" tanya Livia sinis.


"Bukan gitu Kak, tapi tadi kebetulan aku juga lagi nyimpen piring kotor," jawab Rania beralasan sambil tersenyum kikuk.


"Terus kamu juga yang bawain obat ini?"


"Iya, soalnya bibi lagi di belakang kayanya."


Setelah itu Livia tidak mengatakan apapun lagi dan meminum begitu saja obatnya itu. Ia bahkan tidak repot-repot harus mengucapkan terima kasih pada Rania, toh perempuan itu dengan senang hati sendiri membawakan untuknya.


"Kenapa masih di sini?" tanya Livia.


"Maaf Kak, apa aku ganggu?"

__ADS_1


"Bukan ganggu, tapi halangin pemandangan," sahut Livia.


Rania meringis pelan, "Kak Livia wajahnya pucat, sakit ya?"


"Enggak tuh biasa aja, saya itu mabuk, bukan sakit." Tunggu, kenapa juga Livia harus menjelaskan?


"Sudah sarapan belum Kak? Kalau belum, sarapan dulu." Rania berusaha mengingatkan saja, apalagi melihat wajah pucat Livia membuatnya takut jika sedang sakit.


"Kemana bibi? Aku sedang ingin makan dengan bubur." Rasanya Livia tidak nafsu makan, ingin makan yang halus dan tidak membuatnya pegal mengunyah.


"Sebentar Kak aku cariin dulu bibi ya." Rania pun segera pergi dari dapur mencari pembantu di rumah ini, tapi setelah Ia cari-cari tidak ada juga. Akhirnya Rania pun memutuskan kembali ke dapur dan melihat Livia masih di sana tapi sedang memainkan ponselnya.


"Mana?" tanya Livia.


"Gak ada Kak, biar aku aja ya yang buatin buburnya," tawar Rania. Perempuan itu terlihat mengatur nafasnya merasa lelah sudah mencari bibi di rumah yang luas ini. Kalau Candra tahu, mungkin pria itu akan rempong lagi.


"Emangnya kamu bisa masak? Oh iya lupa, dulu kan kamu pembantu juga," tanya Livia tapi suaranya memelan di akhir kata.


"Jadi gimana Kak? Masih pengen makan bubur?"


"Iya Kak siap, tenang aja."


Livia lalu berdiri dari duduknya, "Aku tunggu di kamar, di sini pegal."


"Iya nanti aku anterin ke kamar Kak Livia," ucap Rania sambil tersenyum.


Kalau ditanya kenapa Rania melakukan hal merepotkan ini seperti sedang melayani Livia, jawabannya karena Ia kan memang selalu ingin memberikan kesan yang baik pada istri pertama Candra itu. Walaupun Livia selalu ketus kepadanya, tapi Rania tidak pantang menyerah mendekati. Semoga saja kehadirannya tidak lagi membuat Livia terganggu.


"Untung aja bahan-bahannya lengkap, topingnya aku pakai suwiran ayam sama kacang aja deh," gumam Rania yang sedang fokus masak.


Hampir setengah jam lebih Rania berkutat di dapur, akhirnya bubur dengan porsi yang tidak terlalu banyak selesai juga Ia buat. Rania pun membawa nampan berisi semangkuk bubur dengan segelas air putih ke kamar utama di lantai dua, kamar Livia dan Candra. Tidak lupa tentunya mengetuk pintu lebih dahulu.


"Masuk," teriak Livia dari dalam.


Saat memasuki kamar luas itu, Rania tidak berbohong memperhatikan sekitar sampai membuatnya terkagum. Ia tidak iri karena kamarnya biasa, Rania sadar diri di sini dirinya pendatang. Rania lalu menghampiri Livia yang duduk bersandar di ranjang.

__ADS_1


"Ini Kak buburnya sudah selesai aku buat," ucap Rania.


Livia pun menerimanya sambil memperhatikan makanan itu, terlihat lezat, "Ini beli ya?" tuduh nya bergurau.


"Hah? Enggak kok, aku yang buat, " jawab Rania cepat.


Terlihat bibir Livia berkedut seperti menahan senyuman melihat Rania yang panik saat Ia tanyain seperti itu. Memang Rania itu terlalu perasa, selalu khawatir akan apapun. Livia pun merasa Rania itu sangat segan kepadanya, bahkan sampai repot-repot mau membuat makanan ini untuknya.


"Semoga suka Kak," ucap Rania saat melihat perempuan itu menyuapi buburnya.


Livia terdiam sedang meresapi rasa bubur itu dengan baik, dan menurutnya enak, rasanya pas. Livia melirik sekilas Rania, lalu melanjutkan lagi menyuap dan berusaha makan dengan tenang walau inginnya lahap karena sedang lapar. Tetapi Livia kan harus jaga image, nanti Rania itu terlalu kesenangan lagi.


"Foto itu.." Perhatian Rania tertuju pada sebuah pigura besar yang menempel di dinding, itu adalah foto pernikahan Livia dengan Candra. Mereka terlihat bahagia dan cocok, membuatnya tersenyum kecut.


"Kamu juga pasang foto pernikahan kamu dengan Candra di kamar kamu?" tanya Livia entah apa maksudnya.


"Tidak, kami sepertinya tidak sempat mengabadikan moment itu," jawab Rania pelan.


"Hah kenapa?"


"Pernikahan kami waktu itu kan terjadi karena kecelakaan, bukan sama-sama mau karena memiliki perasaan cinta seperti Kak Livia dengan Mas Candra," sahut Rania menahan sedih. Tidak bohong Rania iri sekali melihat foto pernikahan mereka di sana.


"Sepertinya Candra punya fotonya, nanti kamu minta saja pada dia." Livia tidak tahu kenapa mengatakan ini, seperti sedang menghibur Rania yang sedang sedih. Ia tidak begitu, kan?


"Tidak papa Kak, tidak perlu," ucap Rania berusaha tersenyum.


"Terserah kamu sih." Livia juga berusaha tidak peduli.


"Kalau gitu aku keluar dulu ya Kak, pasti gak nyaman aku di sini terus takut ganggu pemandangan hehe." Rania polos sekali saat mengatakan itu, Livia hanya diam memperhatikannya dengan ekspresi sulit di artikan.


"Makasih."


Pergerakan Rania yang akan membuka pintu kamar terhenti saat mendengar itu, tanpa bisa ditahan senyumannya langsung terukir. Ia pun menoleh ke belakang melihat Livia, "Sama-sama," balasnya.


Setelah di luar kamar, Rania tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya lagi sampai tersenyum-senyum terus. Mungkin itu kali pertamanya Livia menanggapi dirinya, setelah selama ini selalu tidak di akui.

__ADS_1


__ADS_2