Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Sendirian Di Rumah


__ADS_3

Kini semuanya sedang berkumpul untuk makan malam bersama. Anehnya ketiga orang itu menjadi canggung sendiri saat melihat ekspresi wajah Oma yang agak dingin, jadi canggung sendiri untuk memulai obrolan.


"Oma kapan ke Bandung lagi?" tanya Candra memberanikan diri.


"Memangnya kenapa?" tanya Amara balik.


"Besok aku mau berangkat ke Surabaya, ada pekerjaan mendadak di sana. Kalau Oma masih mau di sini gak papa, biar sekalian temenin Rania," jawab Candra memberitahu.


Amara sempat melirik Rania, "Sayangnya Oma besok juga harus pulang, temen Oma ada yang mau berangkat Umroh jadi harus hadir," sahutnya.


"Begitu ya," gumam Candra.


Padahal jika Omanya masih di rumah, Candra tidak akan terlalu khawatir. Memang masih ada Livia, tapi kan mereka tidak terlalu dekat dan selalu berusaha saling menghindar. Selain itu juga Livia sama sibuknya, jadwal pulangnya pun tidak tentu.


"Rania tidak apa-apa kalau di sini sendirian?" tanya Oma.


"Gak papa kok Oma, kan ada Kak Livia juga," jawab Rania sambil tersenyum.


Livia yang disebut namanya langsung tersedak makannya sendiri, Ia pun segera minum untuk menghilangkan sakit di dadanya. Kenapa Rania itu sok akrab sekali? Bukan apa-apa, Livia kan jadi malu sendiri.


"Benar juga, kalian harus saling menjaga ya," nasihat Oma.


Amara tidak terlalu khawatir jika membiarkan Livia dan Rania di rumah, toh katanya mereka cukup dekat dan tidak pernah ribut. Amara juga sudah tahu kepribadian masing-masing, jadi menurutnya tidak akan terjadi keributan.


Selesai makan malam mereka pun pergi mengurusi pekerjaannya masing-masing. Malam itu pun Rania ditemani Oma di gazebo yang ada di dekat kolam ikan. Angin malam memang cukup menusuk, tapi keduanya sudah memakai mantel hangat.


"Oma sering-sering main kesini ya, makasih sudah nyempatin untuk datang jenguk aku pas di rumah sakit," ucap Rania.


"Iya Oma akan usahakan sering main kesini, kalau kamu kasihan jauh ke Bandung. Lagi hamil perjalanan jauh selalu gak enak, jadi biar Oma aja yang kesini," ujar Amara berbaik hati.


Tatapan Rania menyendu, "Sebenarnya setiap melihat Oma, perasaan kangen aku sama Nenek jadi lumayan terobati," katanya jujur.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, mungkin Nenek seumuran kaya Oma. Kalian sama-sama perhatian dan baik hati, aku jadi nyaman di sini."


Amara lalu mengusap kepala perempuan muda itu, "Kamu yang sabar ya Rania, Oma tahu kamu perempuan kuat."


Entah apa saja yang sudah dihadapi perempuan muda ini, tapi pasti perjalanannya sangat rumit dan melelahkan. Semua hanya gara-gara cucunya, tapi Amara pun tidak bisa berbuat banyak karena Candra sendiri tadi yang mengatakan kepadanya.


"Oma bener-bener gak sabar menantikan kelahiran bayi kamu, semoga kalian berdua selalu sehat selalu," doanya.


"Aamiin, makasih."


Amara merasa khawatir melihat Rania yang terlalu lama berada di luar, kalau Candra melihat pasti akan rempong sendiri. Wanita paruh baya itu pun mengajak Rania masuk, dan perempuan itu seperti biasa selalu menurut.


***


Besok paginya Oma Amara dan Candra berangkat di waktu bersamaan, walau dengan mobil berbeda. Tidak lupa tentunya mereka sarapan lebih dahulu, karena di perjalanan sama-sama jauh. Livia dan Rania pun mengantar sampai di depan.


"Rania, inget ya kamu harus selalu hati-hati dimana pun. Jangan sampai kejadian waktu itu terulang, pokoknya jangan gegabah," ucap Candra yang terus memperingati.


"Iya Mas, kami akan baik-baik saja."


Rania mengangguk kecil dengan perasaan campur aduk nya. Ternyata itulah pesan-pesan terakhir yang Candra sampaikan kepadanya, sama sekali tidak ada romantisnya. Pria itu hanya selalu mengkhawatirkan bayi di kandungannya.


"Hati-hati semuanya," ucap Livia sambil melambaikan tangan.


"Iya sampai jumpa lagi," balas Oma.


Saat melihat dua mobil yang dikendarai sudah keluar dari gerbang, tangan Rania dan Livia yang melambai tadi pun langsung turun. Rania menoleh saat merasa ditatap Livia, mengangkat alisnya seolah bertanya ada apa?


"Aku juga lupa bilang kalau hari ini aku ada kerjaan, aku tidak tahu malam ini akan pulang atau enggak," ucap Livia. Hanya ingin memberitahu, Rania itu kan selalu khawatiran.


"Begitu ya, iya Kak tidak papa. Apa Kakak memang sesibuk itu juga?" tanya Rania memberanikan diri.


"Iya, aku ada kontrak iklan dengan brand pakaian." Tunggu, kenapa Livia sampai menjelaskan sih?

__ADS_1


"Aku sering lihat foto Kakak di internet, Kak Livia kelihatan keren dan cantik," puji Rania tulus.


Livia berdehem pelan untuk menghilangkan perasaan canggung nya, "Namanya juga model," sahutnya.


Rania tetap tersenyum, walau merasa sedikit kikuk karena takut dianggap sok dekat. Perempuan itu belum masuk karena ingin mengiringi kepergian Livia juga yang akan berangkat bekerja. Rania sampai melambaikan tangan, walau tahu Livia akan mengabaikannya.


"Hah sekarang aku sendirian di rumah," gumam Rania sambil menghela nafasnya berat.


Memang sih tidak sendirian juga, masih ada dua pembantu yang bekerja di rumah. Tetapi tetap saja penghuninya hanya seorang, tiba-tiba Rania jadi merasa kesepian begitu saja. Bukankah seharusnya Ia merasa tenang ya? Aneh sekali.


Saat Rania sedang asik menonton sinetron di TV, perhatiannya teralih mendengar ketukan pintu utama. Rania pun memutuskan beranjak untuk membukakan. Ia tersentak melihat jika tamu itu adalah Leon, Rania pun memutuskan berbalik untuk pergi.


"Rania tunggu!" cegah Leon sambil menahan tangannya.


Rania menjadi panik sendiri, Ia pun berusaha melepaskan tangannya itu, "Leon lepasin, aku mau pergi," pintanya tanpa menatap.


"Aku mau bicara sama kamu Rania, sebentar aja ya?"


"Enggak, aku.. Aku lagi gak enak badan," bohongnya berusaha menghindar.


Kenapa Leon datang di saat rumah sepi begini sih? Rania kan tidak mau lagi bertemu dengan pria itu. Hatinya masih merasa kecewa karena kejadian waktu itu, yang membuat dirinya dan Candra hampir salah paham.


"Kamu sakit?" tanya Leon.


Melihat sikap pria itu yang sok perhatian, membuat Rania tidak luluh karena menganggap Leon sedang mencari muka lagi. Rania mengakui Leon itu hebat sekali berakting, bisa menjadi beberapa karakter di berbagai tempat.


"Bukan urusan kamu," jawab Rania agak ketus.


"Tapi aku mau bicara dulu sebentar sama kamu, boleh ya?" bujuk Leon yang belum menyerah.


"Memangnya mau bicara apa? Nanti saja, sekarang aku mau istirahat."


Merasa cengkraman di tangannya sedikit mengendur, Rania pun menyentak nya hingga terlepas. Segera Ia pun berbalik dan berjalan cepat pergi dari sana. Tetapi baru saja beberapa langkah, suara lantang Leon mampu menghentikannya.

__ADS_1


"Rania aku minta maaf," ucap Leon keras sampai menggema di rumah itu.


__ADS_2