
Saat keduanya masuk ke kelas, teman yang lain langsung menyapa ramah seperti biasa. Daffin sempat menepuk pelan bahu Satria, lalu duduk di bangku belakangnya.
"Ekhem gimana nih acara jalan-jalan kemarin? Katanya kamu ajak dia ke Dufan ya?" tanya Daffin sedikit menggoda.
Satria memutar posisi duduknya menjadi menghadap Daffin, "Elisa pasti sudah cerita ya?"
"Iya tadi kita kan berangkat bareng, aku kira kamu bakal jemput dia," jawab Daffin.
"Kenapa aku jemput Elisa?" tanya Satria bingung.
"Kan kalian lagi pdkt nih ceritanya hehe," ucap Daffin begitu saja, lalu tertawa kecil.
Tetapi Satria hanya tersenyum kecut, raut wajahnya terlihat tidak nyaman. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi merasa gugup juga. Hanya saja Satria pikir Ia harus cerita ini, tapi sebelum itu Elisa malah datang.
"Dari mana? Kok baru ke kelas?" tanya Daffin saat teman perempuannya itu datang.
"Toilet, tadi pengen buang air kecil," jawab Elisa.
Perempuan itu sempat bertatapan dengan Satria, tapi Elisa memilih langsung mengalihkan dan mulai mengeluarkan satu-persatu alat tulisnya.
Daffin melihat reaksi tadi, membuatnya bingung sendiri. Biasanya Elisa selalu langsung mengajak ngobrol Satria, tapi kali ini kedua orang itu terlihat canggung. Ada apa?
"Selamat pagi anak-anak," sapa seorang dosen yang masuk tepat waktu, dan acara belajar pun dimulai.
Selama pelajaran itu pun Daffin selalu memperhatikan gerak-gerik Elisa dengan Satria. Kebetulan mereka pun ada tugas bersama, dan kedua orang itu tidak suka mengobrol banyak.
"Kalian kenapa sih? Lagi marahan ya?" tanya Daffin yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Elisa dan Satria terlihat tersentak mendengar itu, "Haha enggak kok," bantah nya bersamaan.
"Tapi dari tadi saling diem gitu, biasanya kan suka ngobrol bareng," kata Daffin belum percaya.
"Ya ini juga kan lagi ngobrol," jawab Elisa tanpa melirik Satria.
Memang sih mengobrol, tapi hanya membicarakan tentang tugas yang sedang mereka kerjakan. Daffin yakin sekali ada sesuatu yang terjadi, nanti saja deh bisa Ia tanyakan pada Satria.
Setelah pelajaran berakhir, mereka memutuskan ke kantin untuk mengisi perut keroncongan dulu sebelum kelas selanjutnya di mulai. Tadinya Elisa tidak mau ikut, tapi terus Daffin paksa karena takut lapar.
__ADS_1
"Kalian mau makan apa?" tanya Daffin melihat menu yang ditulis besar di depan.
"Aku mau minum aja," jawab Elisa.
"Loh gak mau makan? Masa cuman minum doang?"
"Kan tadi aku sudah bilang gak mau makan, gak nafsu juga," kata Elisa.
"Ya sudah," desah Daffin, lalu Ia melirik Satria, "Kalau kamu Satria, mau pesan apa?"
"Mie bakso aja, sama jus jeruk," jawabnya.
"Ya sudah kalian duduk aja duluan, biar aku yang pesenin," perintah Daffin berbaik hati.
Daffin kira mereka akan ada yang menolak, tapi kali ini menurut saja. Elisa berjalan lebih dulu dengan cepat, dan Satria terlihat santai sekali. Posisi duduk mereka pun lumayan jauh.
Daffin yang memperhatikan dari jauh hanya menggelengkan kepala, semakin yakin jika dua orang itu sedang ada masalah. Nanti Daffin akan cari tahu sendiri.
"Diam-diam aja, gak ngobrol kalian?" tanya Daffin yang baru datang, Ia duduk di sebelah Elisa.
"Mana pesanannya? Sudah belum?" Elisa malah mengalihkan obrolan.
"Iya yakin, lagian aku lagi gak enak makan," jawab Elisa sambil menatap dalam Satria di depannya, ya pria itu lah yang membuat moodnya buruk.
Tidak lama pesanan mereka pun datang, tidak lupa Daffin berterima kasih pada Ibu kantin itu. Mereka pun mulai makan, ya walau Elisa hanya minum sedikit-demi sedikit sambil bermain ponsel.
"Kamu pesen apa sih itu Daffin? Aku baru pertama kali lihat," tanya Elisa melirik mangkuknya.
"Katanya ini menu baru di warung Ibu Juleha, namanya kalau gak salah mie Bangladesh," jawab Daffin sambil mengunyah.
"Kelihatan enak, aku minta dong," kata Elisa.
Daffin mengangguk lalu menggeser mangkuknya itu ke depan Elisa. Tetapi Elisa malah mengembalikan, membuat Daffin bingung.
"Suapin dong," pinta Elisa sambil tersenyum lebar.
"Hah?" Daffin sampai speechless sendiri mendengar itu, Elisa tidak salah kan?
__ADS_1
"Cuman minta sedikit, jadi suapin aku aja," ucap Elisa mengulang.
Daffin mengangguk pelan lalu menurut saja untuk menyuapi Elisa. Baru kali ini mungkin Ia menyuapi Elisa, sedikit gugup dan malu.
Jika di perhatikan lagi, Elisa sempat melirik Satria di depannya saat Daffin menyuapi nya. Apa maksudnya? Perempuan itu sedang ingin membuat cemburu, tapi memangnya Satria akan cemburu?
"Hm enak, pantesan kamu lahap banget makannya," ucap Elisa setelah menelan makanannya.
"Iya emang enak, kayanya nanti aku bakal sering pesen mie ini," sahut Daffin.
"Kamu ya jangan setiap hari juga makan mie nya, gak sehat," ucap Elisa sok perhatian, sempat melirik Satria lagi saat mengatakan itu.
"Ya enggak setiap hari juga, paling kalau lagi mau banget aja. Kalau kamu mau beli, pesen aja," ujar Daffin.
"Enggak usah deh, minta lagi aja sama kamu hehe." Elisa pun dengan santainya menarik mangkuk makanan Daffin dan memakannya.
Daffin yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, tidak marah atau tersinggung karena mereka kan berteman baik. Saat Daffin mengangkat kepala, Ia baru sadar ada Satria di meja yang sama.
"Kok masih banyak makannya? Gak enak ya? Atau sudah kenyang?" tanya Daffin pada temannya itu.
"Bukan kok, ini lagi dimakan," jawab Satria yang lamunannya terhenti.
Waktu berjalan dengan cepat, setelah mengikuti beberapa kelas akhirnya hari ini selesai juga. Kali ini Daffin bisa pulang tidak terlalu sore, bahkan masih dikatakan masih siang.
Saat Daffin di jalan menuju parkiran, Daffin terkejut karena Elisa yang merangkul bahunya membuatnya terhenti. Ekspresi wajah perempuan itu kini lebih ceria, tidak seperti tadi pagi.
"Daffin, aku pulang bareng kamu ya," kata Elisa.
"Aku gak akan langsung pulang, mau ke rumah Cynthia," ucap Daffin.
"Kenapa mau kesana? Kamu gak usah repotin diri kamu sendiri, lagian hari ini kan dia juga gak ada kegiatan apa-apa di luar, " tanya Elisa merasa tidak suka melihat Daffin yang terlalu perhatian.
"Bukan gitu, tapi hari ini jadwal dia terapi. Aku kan harus temenin Cynthia terus, apalagi pas terapi gitu," jawab Daffin menjelaskan dengan baik-baik.
Elisa lalu membatin, itu berarti Daffin dan Cynthia pasti akan berduaan. Saat melakukan terapi berjalan begitu pasti harus ada yang membantu, dan sudah dapat dipastikan itu adalah Daffin.
Membayangkan dua orang itu yang sedekat itu, entah kenapa membuat Elisa merasa tidak terima. Ia tidak akan membiarkan ini, karena bisa saja dua orang itu semakin dekat.
__ADS_1
"Aku ikut ya," ucap Elisa tiba-tiba.
"Hah? Em boleh aja sih," gumam Daffin pelan. Bingung sendiri, tumben sekali pikirnya temannya itu mau ikut.