
"Nih minum dulu, tenangin diri kamu," ucap Daffin sambil memberikan segelas air putih.
Elisa masih sesekali terisak, walau tidak menangis lagi. Ia lalu menerima segelas air putih itu dan meminumnya rakus. Ternyata menangis mengeluarkan tenaga juga, tapi walaupun lelah hatinya merasa lebih lega.
Saat mendengar suara guntur dan tidak lama hujan turun, membuat Daffin terkejut sampai beranjak. Segera Ia keluar berlari dari ruangan itu, bahkan tidak mempedulikan teriakan Elisa yang memanggilnya.
Astaga bodoh sekali Daffin hampir melupakan Cynthia, kasihan sekali perempuan itu dari tadi sendirian di luar. Tetapi saat Daffin memperhatikan halaman belakang, Cynthia sudah tidak ada. Kemana?
"Aduh Cynthia dimana sih? Apa dia sudah masuk ke rumah ya?" tanyanya seorang diri.
Tetapi kan pasti sulit untuk masuk ke rumah, mungkin saja ada yang membantunya. Daffin pun segera mencari orang rumah untuk menanyakan keberadaan Cynthia.
"Devina, kamu lihat Cynthia gak?" tanya Daffin yang lebih dulu bertemu adiknya itu.
"Kak Cynthia kan sudah pulang, barusan aku anterin dia ke depan," jawab Devina.
"Loh kenapa dia pulang gak bilang dulu? Terus dia pulang sama siapa?" tanya Daffin terkejut.
Devina terlihat menghela nafas, "Kak Cynthia bilang Kakak lagi sibuk dan gak mau ganggu, makanya milih langsung pulang. Tapi tadi sempat pamitan kok sama Mama Papa dan Oma Opa," jawabnya.
Daffin jadi tidak enak hati mendengar itu, merutuki dirinya sendiri yang sampai mengabaikan dan baru teringat sekarang. Daffin hanya sedang bingung dengan Elisa, ingin menyelesaikan masalahnya dulu dengan sahabatnya itu.
Nanti Ia akan menghubungi Cynthia. Sebenarnya inginnya menyusul ke rumahnya, tapi sayangnya hujan dan Daffin sedikit khawatir jika Cynthia malah tidak mau bertemu dengannya. Nanti saja deh besok, kebetulan ada Kelas juga.
"Kak Daffin emangnya dari mana sih? Kok tega banget ninggalin Kak Cynthia di halaman belakang sendiri," tanya Devina protes.
"Em itu tadi Elisa, Kakak--"
"Ya ampun kok malah pacaran sih? Kalau misal mau pacaran, setidaknya jangan abain Kak Cynthia. Kalau kaya gitu, mending gak usah ajak Kak Cynthia lagi aja, kasihan dia jadi nyamuk di antara kalian," celetuk Devina menohok.
"Bukan gitu, lagian Mama juga yang ngajak Cynthia ke rumah," Bantah Daffin membela diri.
__ADS_1
"Iya sih, tapi kasihan juga Kak Cynthia sendirian di sini. Nanti kalau misal Kakak mau pacaran sama Kak Elisa, jangan ngajak Kak Cynthia lagi ya?"
Daffin terlihat merenung merasa lelah dianggap begitu, padahalkan Ia tidak bermaksud mengabaikan Cynthia juga. Adiknya ini terlihat percaya begitu saja jika Ia dan Elisa pacaran, haruskah Daffin ikut jelaskan?
"Daffin, aku kira kamu kemana," panggil Elisa yang baru datang, Ia pun berjalan menghampiri mereka.
Kernyitan terlihat di kening Devina melihat wajah sembab Elisa, "Kak Elisa habis nangis ya?" tanyanya.
"Enggak kok, gak papa," bantah Elisa lalu menundukkan wajah, merasa malu.
Saat Devina melirik nya tajam, membuat Daffin langsung menggeleng seolah memberitahu jika bukan dirinya yang sudah membuat Elisa menangis. Daffin juga tidak tahu alasan yang membuat perempuan itu menangis.
Daffin merasa bingung dengan sikap Devina, baik kepada Elisa maupun Cynthia. Adiknya itu sama-sama menyukai keduanya, suka membela juga di depannya. Jangan bilang Devina akan mendukung-dukung saja dirinya dengan siapa?
"Elisa, kamu mau pulang sekarang? Kalau mau sekarang, aku bisa anterin kamu," tanya Daffin.
"Masih hujan Kak, nanti aja kalau sudah reda. Bahaya kalau nyetir pas hujan gini," sahut Devina.
"Ya sudah nunggu sampai reda ya," ucap Daffin pelan.
***
Besok paginya setelah menjemput Elisa, tidak lupa Daffin menjemput Cynthia. Tetapi sayangnya Mamanya Cynthia itu bilang jika anaknya sudah pergi duluan, Citra juga sempat mengira yang menjemput Daffin.
"Mana dia?" tanya Elisa saat Daffin naik lagi mobil.
"Katanya Cynthia udah berangkat, tumben duluan," jawab Daffin sambil memakai seatbelt nya.
Elisa terlihat tersenyum kecil, "Ya gak papa lah, mungkin dia buru-buru ada kelas," katanya.
Daffin mengangguk mencoba berpikir positif seperti itu, tapi tidak biasanya juga Cynthia itu tidak mengabarinya. Nanti Daffin di Kampus harus bertemu, sekalian meminta maaf juga kemarin sudah meninggalkan.
__ADS_1
Saat di Koridor menuju kelas, Daffin tersentak merasakan Elisa menggenggam tangannya. Baru saja akan Ia tarik lepas, perempuan itu malah menahannya sambil tersenyum. Daffin jadi tidak enak di perhatikan beberapa orang.
"Wah-wah apa ini? Dateng-dateng sambil pegangan tangan, kaya anak kecil takut jatuh aja," ucap seorang teman kelas mereka menggoda.
Tentu saja suaranya yang keras itu membuat perhatian teman-temannya pun ikut teralih. Daffin terlihat tersenyum kikuk, sedangkan Elisa dengan bangga sampai memperlihatkan tautan tangan mereka.
"Kayanya mereka udah jadian, bagus deh emang paling bener langsung pacaran aja. Gak ada yang namanya sahabat cewek cowok, lihat akhirnya jadian juga," kata mereka yang malah ikut mendukung.
Perhatian Daffin lalu tertuju pada Satria, temannya itu malah tersenyum lebar kepadanya seperti merasa bangga. Anehnya Daffin ingin sekali meluruskan, bagaimana ya perasaan Satria sekarang?
"Daffin duduk yuk," ajak Elisa, tangan pria itu terus Ia genggam dari tadi.
Daffin hanya berdehem lalu menurut saja saat Elisa mendudukan nya di kursi biasa, perempuan itu pun segera duduk di sebelahnya. Untung saja dosen cepat masuk, jadi Daffin tidak canggung di perhatikan dari tadi.
Selama pelajaran itu, Daffin rasanya tidak bisa fokus. Elisa benar-benar membuat suasana ini tidak nyaman, bukan ini yang Daffin inginkan. Padahal kemarin Ia sudah bicara baik-baik, tapi sepertinya Elisa tidak mau mengerti.
"Daffin sebentar ya aku ke toilet dulu, kamu jangan ke mana-mana," kata Elisa lalu beranjak dan pergi keluar kelas.
Daffin lalu melihat Satria yang duduk di depannya membalikan badan, membuat mereka kini berhadapan. Melihat senyum jenaka di bibir Satria, membuat Daffin memutar bola mata malas.
"Cie-cie ternyata kalian beneran jadian ya? Syukur deh, aku ikut senang," kata Satria menggoda.
"Kamu gak cemburu?" Inilah hal pertama yang Daffin tanyakan, karena ke depannya pun bisa Ia simpulkan.
"Hah kok cemburu sih? Kenapa aku cemburu? "
Melihat Satria yang malah bertanya itu, membuat Daffin pun bisa langsung menyimpulkan jika Satria memang tidak ada perasaan apapun kepada Elisa. Malahan temannya itu sekarang mendukungnya.
"Oh iya, terus gimana sama Cynthia? Dia juga udah tahu kamu sama Elisa pacaran?" tanya Satria.
"Kenapa tanyain dia?" tanya Daffin bingung.
__ADS_1
Satria pun terlihat gelagapan, "Ya gak papa sih, cuman tanya aja hehe," ucapnya lalu tertawa canggung.